Saya pernah ngobrol santai dengan salah-satu guru senior, usia 50 tahun, yang kebetulan adalah kepala sekolah. Bicara tentang study tour. "Kemana saja, Pak?"; "Ya banyaklah, ke Bali, ke Yogyakarta, ke Bandung, setiap tahun kita ganti tujuannya."; "Guru-gurunya ikut, Pak?"; "Ya ikut. Juga boleh bawa keluarga, istri, anak. Namanya juga study tour, jalan-jalan."; Saya mulai manggut2, "Terus yang bayarin guru dan keluarganya siapa, Pak?"; beliau menjawab dengan santai sekali, benar2 tidak merasa itu sebuah masalah etika serius, "Ya iuran dari murid2."
Bagaimana mungkin, study tour yang dirancang untuk keperluan murid2 tapi nyatanya juga harus membiayai guru2, keluarga, istri, anak? Siapa sih yang sebenarnya butuh study tour? Panggil nurani kalian jika masih merasa itu dibenarkan.
Kita belum bicara hal yang lebih serius lagi. Tentang cara mengajar yang menyenangkan, tentang menjadikan sekolah sebagai "taman ilmu" yang menyenangnkan. Kita juga belum bicara tentang integritas, penanaman kejujuran, etos kerja, dsbgnya. Belum. Kita masih bicara hal elementer sekali: study tour. Kita juga masih bicara tentang menahan ijasah, menahan raport, tidak boleh ikut ulangan/ujian. Masih kulit sekali. Sementara di elit guru tertentu, mereka malah sibuk bicara tentang uang BOS. Rapat ini, rapat itu, terbang ke sana, entah itu transparan atau tidak. Elit guru bicara tentang seragam, bimbel, dan berbagai improvisasi keuangan di sekolah, tanpa tahu-menahu kemana uang pungutan itu pergi. Padahal jelas, sekolah adalah institusi publik, laporan keuangan sekolah seharusnya diperlihatkan kepada publik.
Aduh, jangankan sekolah. Bahkan Universitas, yang anggaran pertahunnya ratusan milyar, bahkan ada kampus di negeri ini yang punya cash 1 Trilyun, baru belakangan saja bicara tentang keterbukaan, transparansi, akuntabilitas. Di mana laporan keuangan selama ini? Di mana catatan dan bukti2 pengeluaran? Bagaimana mungkin lembaga publik seolah kebal dengan tuntutan transparan? Dan setiap kali dibicarakan, semua orang mendadak sensitif sekali. Semua punya argumen (mulai dari yang tidak nyambung, seperti gaji honorer kecil) hingga yang mutakhir nyolotnya (jangan sok tahu, memangnya kamu paham dunia pendidikan?). Kampus, sekolah, selalu sensitif diingatkan, apakah mereka baru membuka mata setelah banyak petinggi kampus ditangkapi KPK? Setelah banyak guru2 di sekolah disidik jaksa/polisi? Setelah terdesak, baru angkat bicara.
Saya tidak akan putus harapan soal ini. Setiap kali page ini merilis catatan tentang dunia pendidikan, saya tidak akan pernah berhenti berharap. Bahkan sebenarnya, semakin lama, harapan saya semakin membumbung tinggi. Saya tersambung dengan ratusan sekolah2 di penjuru Indonesia. Berinteraksi dengan banyak guru, pendidik2 terbaik. Dan setiap kali mendapat kabar tentang mereka, sungguh harapan itu masih besar sekali. Membuat merinding.
Tetapi memang kita harus menyiram satu generasi yang terlanjur keliru. Dulu, menjadi guru itu kadang hanya terpaksa saja, tidak ada pilihan. Daripada nganggur, mending jadi guru. Minimal PNS, terjamin sampai tua. Tidak usah mengelak lah, tidak semua begitu memang, saya tahu, tapi tidak perlu buru2 membantah, apalagi membela diri, menjelaskan. Bertahun2 profesi guru tidak dimuliakan oleh pemerintah. Dibiarkan berjuang sendirian. Hari ini, situasinya sudah mulai berubah. Tunjangan sertifikasi diberikan, tunjangan dari Pemda setempat juga mulai banyak, amanat 20% APBN untuk pendidikan mulai terlihat dampak positifnya. Ratusan triliun uang digelontorkan untuk lembaga pendidikan, termasuk untuk gaji guru. Lagi2 saya tahu, memang masih banyak sekolah terpencil yang masih berjuang, guru honorer yang hanya bergaji 100.000/bulan. Saya tahu, dek, setahu saya tentang sekolah di Natuna, atau pedalaman Kalimantan sana, atau di penjuru pojok Halmahera sana. Ketimpangan distribusi guru, itu juga masih menjadi isu serius.
Jaman sudah mulai berubah.
Selamat tinggal guru2 yang masih berpikir dengan cara dan metode lama. Yang merasa ini, itu, mengeluh ini, itu. Yang masih menjadikan guru sebagai pekerjaan saja, bukan panggilan nurani. Yang merasa profesinya adalah pekerjaan tersusah sedunia. Semua tulisan di page ini tidak akan pernah ditujukan buat kalian. Repot. Persis sama repotnya saat saya hendak mengingatkan guru senior, kepsek yang santai sekali bilang: "Ya ikut. Juga boleh bawa keluarga, istri, anak. Namanya juga study tour, jalan-jalan." Itu pola pikir tertinggal, sudah susah diubah, diajak berdiskusi, malah ujungnya jadinya berantem.
Selamat datang guru2 dengan cara berpikir lebih maju. Calon2 guru yang sedang menyambut masa keemasan profesi guru di negeri ini. Kalianlah masa depan pendidikan kita. Guru2 yang mencintai murid2nya dan dicintai murid2nya. Yang penuh amanah dan senantiasa menjaga diri. Selamat datang. Kepada kalianlah semua tulisan2 di page ini ditujukan.
Saya hanya penulis, senjata utama saya adalah tulisan2. Semoga itu bisa memberikan semangat, semoga menemani dan menghibur Bapak/Ibu Guru. Kalian tidak sendirian, ada banyak orang yang siap mendukung kalian menjaga amanah profesi kalian. Percayalah, besok lusa, tidak akan ada yang bisa mencegah gaji2 guru harus dinaikkan, kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Tidak ada. Karena itu keniscayaan menjadi negara maju. Di negara maju manapun, posisi guru mulia dan dimuliakan. Kecuali kalau negara ini tidak mau maju. Besok lusa, negeri ini akan punya kesempatan dipimpin oleh orang2 yang benar2 peduli dgn pendidikan. Lagi2 itu keniscayaan. Semakin modern sebuah negara, maka keberpihakan kepada pendidikan semakin tinggi.
Selamat datang guru2 terbaik dengan pemahaman terbaiknya (dan dengan level kesejahteraan terbaiknya pula).
Harapan saya membumbung tinggi setiap kali menulis catatan seperti ini.