sibuk menjamu manusia kemudian lupa bahwa diri sendiri sedang lapar.
—memelena

seen from Malaysia

seen from France
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Latvia

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Sweden

seen from Romania

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Albania

seen from Czechia
seen from Malaysia
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Germany
sibuk menjamu manusia kemudian lupa bahwa diri sendiri sedang lapar.
—memelena
*gue ngeliat jam dah setengah 12*
Mau roti
Jangan Mencari Kenyamanan Sebelum Melalui Kepayahan.
Tidur akan terasa paling nyenyak saat kita lelah.
Makan akan terasa paling nikmat saat kita lapar.
Air akan terasa paling segar saat kita haus.
Seratus ribu rupiah akan terasa paling banyak saat kita tidak punya uang.
Begitulah bagaimana realitas bekerja.
Kalau kamu punya impian untuk merasakan kenyamanan yang permanen di dunia ini, pertimbangkan ulang apakah itu realistis.
Jadi, besok ketika mau leyeh-leyeh seharian, tanyakan kepada diri sendiri, "Apakah saya layak mendapatkan leyeh-leyeh ini?"
Tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri, jangan juga terlalu menggampangkan. Setiap orang tahu kadarnya masing-masing.
Ini bukan buat orang lain. Buat diri kita sendiri. Supaya kita bisa menjalani dan menikmati hidup dengan penuh.
"Separuh dunia kelaparan dan separuh lagi berusaha menurunkan berat badan."
Udara pinggiran Depok yang menantang Tangsel memang punya nuansa berbeda. Jika seseorang sudi untuk membuang waktunya secara sia-sia dan menaiki angkot 106 dari parung menuju lebak bulus, kemudian angkot itu ngetem di pertigaan Cinangka, sensasi itu muncul: ujung Jawa Barat yang akan segera habis dilahap perbatasan. "Selamat datang di Provinsi Banten," begitulah, gapura selamat datang menjalankan tugasnya. Jalan raya Parung-Ciputat yang memanjang-mengiris pinggiran Depok menegaskan betapa kecilnya kota Depok. Hanya sekitar dua puluh kilometer. Jika tidak macet, seseorang bisa menuntaskan perjalanan numpang-lewat di Depok kurang dari satu jam setengah. Setelahnya, ia bebas: mau ke Jakarta, Tangerang, atau Surga. Tapi Botol punya banyak ingatan disana. Ingatan yang paling spiritualistik adalah saat bulan puasa. Botol bangun jam lima pagi, bersiap-siap untuk sekolah dan berangkat jam setengah enam. Dari sebuah gang di samping pool taksi T Bluebird, ia menunggu angkot. Dan naik, sebagai penumpang ketiga, sebelum pelan-pelan angkot jadi sesak oleh banyak orang-orang yang dicekik rutinitas. Setelah turun di Bojongsari, mengakhiri sajian dari wajah penumpang-penumpang angkot yang telah bersekutu dengan rutinitas, Botol merogoh-rogoh sakunya. Sial, uangnya kurang. Botol memang membayar angkot 29 yang ia tumpangi, namun untuk naik angkot 03 menuju Depok, uangnya kurang. Iblis dalam kepalanya langsung menyuruh Botol untuk menyelesaikan puasanya sesegera mungkin di sebuah mushalla, lalu meminum air keran, dan mengumpulkan energi untuk menghentikan mobil pick-up, kemudian: berkelana. Botol malas. Hari cerah. Matahari, agaknya jadi pemeran antagonis. Ia tidak mau kulitnya jadi hitam dan dianggap sebagai anak-jalanan dan manusia yang tidak merawat tubuh. Hape Nokia 6300 milik Botol memang memainkan peran sebagai malaikat, sebab ada kenalan yang bisa dihubungi. Sayangnya tidak. Botol memilih untuk membuka hapenya dan menjelajah internet. Pada tahun itu, internet memang belum banyak disesaki oleh banyak orang-orang dungu. Jantungnya seperti berada dalam setiap papan ketik hape. Google masih jadi anak baik yang tidak tahu teknik mengintip seorang anak gadis di kamar mandi. Masih wajar, saat itu, ia menggantung seluruh nyawanya di sana. Dan dari internet, ia mencoba mengintip wujud dari ujung alam semesta. Apakah rokok di balik Sabuk Kuiper sama rasanya dengan rokok di kedai-kedai dekat Bundaran Pamulang, apakah The Jak memiliki cabang di Amalthea, atau ongkos angkot Sedna memiliki kesamaan dengan ongkos angkot Lebak Bulus - Pamulang. Juga, sesekali ia menghubungi seseorang, yang sangat jauh. Terpisah milyaran kilometer, barangkali. Terpisah milyaran generasi, barangkali. Terpisah milyaran peperangan, barangkali. Namun, badannya masih di trotoar Sawangan. Tepatnya: penghujung sawangan. Kendaraan-kendaraan lalu-lalang, matahari semakin brengsek panasnya, dan iblis semakin cerewet untuk membuat puasanya batal. Botol tidak peduli. Ia hanya memikirkan, seseorang. Jauh. Barangkali di Ujung Superklaster Laniakea, tertutup gumpal-gumpal awan kosmik, dan berada di balik pecahan-pecahan bintang yang sudah meledak, mementaskan supernova luar biasa terang sehingga ada dua matahari pada siang hari di Bumi. Botol memikirkan, apakah ia akan ditangkap polisi apabila membuat sebuah hulu ledak nuklir dari biji ganja. Atau, apakah ia akan dianggap pahlawan nasional karena sudah menggenosida seluruh kecoak di Indonesia. Banyak pikiran-pikiran yang kadar-kebergunaan rendah melintas di kepala botol. Dan ia tidak peduli, dan ia hanya memikirkan seseorang. Jauh, dan memang sangat jauh, barangkali menyelip di antara awan-awan pekat Jupiter atau tenggelam dalam lautan-gas metana di Uranus. Botol tidak peduli, karena ia hanya Botol, dan ia tidak pernah membenci nama itu: sebab orangtuanya adalah pemabuk berat yang sembarangan memberi anaknya sebuah nama. Selalu, tidak mau peduli Botol. Ia, hanya memikirkan mata seseorang. Jauh, dan barangkali ikut bersama komet-komet yang berumah di Awan Oort.
Tag temen kalian yang elergi sama duren😁😁😁 ===================================== Tag your friend and let your foods are known by the world Tag us = regram Tag temen kamu biar pada ngileeer ===================================== #makanenak #kuliner #durian #dietmulaibesok #jktfoodbang #like4like #lapar #makanankekinian #foodporn #durianmontong #dagelan #foodgram #eatandtreats #anakjajan #eatingshow #kulinerindonesia #sukamakan #kulinermalam #infokuliner #rusuhstagram #duren #makananenak #mukbang #steakayam #fiestasteak #gagaldiet #likeforfollow #tukangjajan #kekinian
Efek samping hujan
Hujan kali ini membuatku lapar yang berkepanjangan. Ini persoalan serius, harus segera mungkin diobati dengan secangkir teh hangat atau kopi hangat juga boleh. Coklat panas ? boleh juga, tapi sayangnya aku gak punya itu. Mungkin semuanya juga gak ada (gak ada yang mau bikinin) hahaha...
Lapar
#4
Novel Karya Knut Hamsun
“Sepotong keju dan roti gulung,” aku berkata, dan meletakkan enam sen ke atas meja kasir.
“Roti dan keju dengan uang sebanyak ini?” Tanya seorang wanita secara ironis tanpa memandang ke arahku.
“Dengan enam sen ini? Ya,” aku menjawab dengan tenang.
Aku mengambil makananku, memberikan wanita tua yang gemuk itu ucapan selamat pagi, dengan penuh kesopanan, kemudian melesat secepat mungkin, menaiki Bukit Kastil menuju taman.
Setibanya di taman, aku segera mencari bangku, dan mulai menyantap persediaan makananku dengan sangat lahap. Itu membuatku merasa lebih baik; sudah lama sejak terakhir kali aku memiliki bekal makanan, dan, perlahan, perasaan kenyang yang damai menguasaiku sama seperti yang seseorang rasakan selepas menangis dalam waktu yang lama. Keteguhan hatiku menjadi teramat kuat. Aku tidak lagi puas jika hanya menulis artikel tentang perkara yang terlalu remeh dan mentok pada “Kejahatan di Masa Depan,” yang orang tolol manapun bisa mencapai kesimpulan akhir hanya dengan menggunakan deduksi terhadap sejarah yang sederhana. Aku merasa sanggup untuk membuat karya yang lebih hebat lagi; aku sedang berada dalam suasana hati yang tepat untuk mengatasi segala kesukaran, sehingga aku memutuskan membuat sebuah risalah, dalam tiga bab, tentang “Kognisi Falsafi.” Karya ini, tentu saja, akan memberikanku kesempatan untuk menyangkal secara mengenaskan beberapa pemikiran Kant* yang menyesatkan … tapi, ketika ingin mencurahkan semua bahan pemikiran untuk memulai karya agungku, aku menyadari kalau aku tidak lagi mempunyai sebuah pensil: aku baru saja meninggalkannya di kantor pegadaian. Pensil itu terselip di dalam saku rompiku.
*Kant merujuk pada nama seorang filsuf yang hidup di masa Kerajaan Prusia, Immanuel Kant.
>>bersambung<<
Diterjemahkan oleh : Lutfi Arifin