Masa-masa Studienkolleg atau Pre-University merupakan salah satu masa yang menyenangkan sekaligus melatih tanggung jawab dan disiplin. Menyenangkan akhirnya saya dapat berkenalan dengan teman-teman baru yang juga "senasib" dengan saya. Mereka berasal dari negara yang berbeda-beda. Camilla dan Alex berasal dari Brazil, Marina dari Ukraina, Said berasa dari Syria namun lahir di Jerman. Mahmoud berasal dari Mesir, Mini berasal dari Korea Selatan, Giang, Mai dan Chang berasal dari Vietnam. Sisanya berasal dari Indonesia. Diman, Nurry, Reiza, Hariz, Fina, Gilang, Ichank, Nauva, Romi dan saya sendiri. Kami semua cukup dekat. Setahun kami merasakan kebersamaan di Studienkolleg FHTW (sekarang HTW) Berlin.
Masing-masing dari kami memiliki kelebihan dan kelemahan di dalam suatu mata pelajaran. Contohnya saja teman-teman dari Vietnam. Mereka sangat pandai dalam berhitung. Tak heran mereka selalu unggul dalam ujian Matematika. Tetapi, mereka juga memiliki kelemahan, yaitu dalam pelajaran bahasa. Kami yang berasal dari Indonesia tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Saya merasa kurang pandai dalam pelajaran bahasa Jerman, Matematika dan Informatik. Namun saya merasa cukup menguasai bahasa Inggris.
Kelas yang saya ikuti adalah W-Kurs(Wirtschaftskurs) atau kelas Ekonomi. Yang dipelajari yaitu bahasa Jerman, bahasa Inggris, Matematika, BWL (Ekonomi Perusahaan), VWL (Mikro dan Makro ekonomi), dan Informatik. Studienkolleg ini normalnya berlangsung selama setahun. Semester pertama saya lalui dengan perasaan khawatir bahwa saya akan tinggal kelas. Alhamdulillah, pada akhirnya saya lulus semester satu dengan nilai hampir di batas lulus dan tidak lulus. Batas nilai kelulusan adalah 4,3 yang berarti jika ada salah satu pelajaran nilainya kurang dari 4,3 , maka artinya dia harus mengulang semester pertama.
Saat semester pertama, uang jaminan saya sudah habis dan saya akhirnya memberanikan diri bercerita kepada ibu saya. Saya tidak mau memberitahukan ayah karena takut diomeli. Reaksi ibu saya setelah mengetahui uang jaminan selama setahun habis adalah sangat kecewa. Belum ada setahun saya tinggal di negara currywurst ini, tetapi saya sudah membuang uang dan mengingkari janji saya dengan Ayah. Saat ditanya dipergunakan untuk apa saja uang jaminan itu, saya tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada wujud nyata barang yang saya beli kecuali laptop dan mp3 player.
Ibu kemudian memberitahu Ayah perihal uang jaminan. Tentu saja Ayah saya sangat marah dan kecewa. Beliau sempat enggan untuk berbicara dengan saya di telepon. Surat perjanjian yang kami sepakati sebelum berangkat ke Jerman hanya dianggap kertas kosong oleh saya. Itu berarti, Ayah harus rutin mengirimkan uang bulanan. Saat itu Beliau tidak bekerja. Ayah saya merupakan seorang wirausahawan. Usahanya sempat jatuh bangun berpuluh-puluh kali. Situasi keuangan keluarga kami sedang mengalami fase surut.
Saya tahu bahwa Ayah dan Ibu mencari-cari jalan agar saya tetap meneruskan studi saya sampai selesai di sini. Namun saya tidak tahu betapa sakitnya hati orang tua saya karena sifat saya yang suka berfoya-foya tanpa memikirkan kondisi keuangan. Singkat kata, mereka setuju untuk mengirimkan saya uang bulanan sampai saya lulus kuliah S1.
Semester kedua saya menjadi 'sedikit' rajin dan termotivasi. Goal saya saat itu adalah lulus FSP (Feststellungsprüfung) atau ujian akhir. Saya ingin lulus Studienkolleg tepat waktu. Mata pelajaran yang diuji dalam FSP adalah bahasa Jerman, Matematika dan Ekonomi. Melihat dari nilai, prioritas utama saya adalah membenahi kemampuan matematika. Saya meminta tolong beberapa teman saya untuk mengajari saya Matematika mulai dari persoalan yang mudah sampai yang sulit. Saya sempat menangis karena saya merasa bodoh dalam hitung-menghitung kompleks. Namun teman-teman terus mendukung saya agar tidak cepat mengeluh dan menyerah. Semangat saya timbul kembali.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Festellungsprüfung dibagi menjadi dua hari, karena tidak mungkin kami mengerjakan tiga mata ujian dalam satu hari. Ujian bahasa Jerman saya lalui dengan perasaan was-was, tetapi saya yakin saya dapat lulus. Ujian Ekonomi saya juga lalui dengan tenang. Dan tibalah ujian Matematika. Meskipun diperbolehkan membawa rumus dengan tulisan tangan, tetap saja saya merasa gugup untuk melihat soal-soal ujiannya, karena takut lupa akan materi yang telah saya kuasai. Sang dosen kemudian mempersilakan kami untuk mengerjakan soal dengan tenang.
Sembilan puluh menit telah berlalu. Sang dosen meminta kami untuk mengumpulkan lembar soal dan jawaban. Yakin tidak yakin, saya kumpulkan. Pasrah dan loyo adalah kata yang tepat untuk menggambarkan saya saat itu. Ada beberapa soal yang saya yakin benar menjawabnya. Tetapi karena pikiran saya yang saat itu sedang kemana-mana, saya menjadi ragu. Batin berucap "Ah, yang penting saya sudah optimal mengerjakannya. Let God do the rest." Tidak lupa saya meminta doa Ibu dan Ayah agar saya lulus ujian.
Seminggu telah berlalu. Pengumuman ujian pun tiba. Saya ikhlas apapun hasilnya nanti. Orang-orang sudah mengerumuni papan pengumuman. Ekspresi mereka sangat cerah setelah mengetahui bahwa mereka lulus. Saya berharap saya juga menjadi bagian dari mereka. Kemudian, saya bergegas melihat nilai. Di depan saya terpampang seluruh nilai ujian. Pertama yang saya lihat adalah nilai ujian bahasa Jerman dan Ekonomi. 3,7 dan 4,0. Alhamdulillah! Sistem penilaian Jerman dan Indonesia adalah berbanding terbalik, dimana nilai 1,0 di Jerman adalah excellent atau setara dengan 4,0 di Indonesia, dst.
Tiba terakhir adalah nilai Matematika. Saya mendapat 4,3! Alhamdulillah saya lulus walaupun nilainya pas. Hati saya lega. Bangga karena usaha saya tidak sia-sia. Sedih karena saya dan teman seperjuangan harus berpisah untuk melanjutkan kuliah di jurusan dan universitas yang berbeda.
Setelah mendapat "Fachhochschulreife" atau kualifikasi untuk memasuki jenjang University of Applied Sciences, saya dan teman-teman bersama mengumpulkan dokumen yang dibutuhkan untuk melamar ke Fachhochschule atau semacam Politeknik. Kami saling mengingatkan dokumen apa saja yang belum lengkap. Walaupun tujuan dan jurusan kuliah kami berbeda-beda, kami saling mendukung satu sama lain.
Setiap orang dapat melamar lebih dari satu universitas. Saya melamar ke empat universitas yang berbeda, yaitu Media Informatics di HTW Berlin, Teknik logistik di TH Wildau dan FH Kaiserslautern. Yang terakhir adalah Business Informatics di FH Brandenburg. Harapan pertama saya jatuh pada Teknik Logistik, kemudian Media Informatics. Business Informatics merupakan cadangan jika saya tidak diterima dimana-mana. Tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih jurusan tersebut. Yang saya ingin hanya mendapat tempat kuliah di Jerman.
Sekitar dua minggu penantian akhirnya saya mendapat undangan dari FH Kaiserslautern. Sungguh saya bahagia. Namun karena pengalaman saat di bulan-bulan awal, ditambah dengan besarnya biaya pindahan dari Berlin-Kaiserslautern, saya memutuskan untuk tidak mengambil jurusan tersebut.
Dua minggu setelahnya, saya mendapat penolakan dari HTW Berlin karena nilai saya tidak mencukupi. Teman seperjuangan saya, Kireina, mendapat invitation dari HTW Berlin. Saya kecewa karena saya berharap untuk dapat kuliah di jurusan Media Informatics. Tinggal harapan satu-satunya yaitu FH Brandenburg. Saya yakin dapat diterima di FH Brandenburg, karena tidak ada minimal passing grade untuk persyaratan masuk. Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan undangan dari FH Brandenburg. Business Informatics. Jurusan yang pertama saya anggap remeh, namun ternyata memiliki manfaat banyak dalam hidup saya, dan membawa saya ke langkah yang lebih besar. Disinilah "kehidupan sebenarnya" dimulai. Di tahun kedua.