Bagaimana Aku Tak Cinta (Prosa Rasa)
Setenang apapun seseorang, percayalah dalam kepalanya pun ada badai.
Hanya saja, Dia danau. Dia dalam. Sebab itu riaknya tenang. Dia jadi jernih. Biru langitpun memantul di beningnya. Selaras dengan lukisan alam. Bahkan dia melebur menjadi bagian indahnya ciptaanNya.
Segelap apapun gemuruh badai di kepalamu, sejanak menepilah. Dalam sunyi.
Eh, kamu pernah bersembunyi di sudut kamarmu bukan!? Tanpa lampu, gelap yang gulita. Katamu, dalam gelap tangis bodoh itu menjadi samar. Tidak terlihat, hanya sensasi hangat yang mengalir di kiri kanan hidung yang beringus😆
Tapi aku tidak sedang berpanjang membahas tangis cengeng memalukan itu. Kamu jantan tagok, begitu ibumu mengingatkan suatu waktu. Aku cuma mau kamu mereka ulang.
Dalam gulitanya kamar itu, kamu pun sesak. Pengap. Perlahan berjalan ke arah jendela. Meraba-raba, karena gelap, yekan🙂
Kamu pun berhasil menemukan tuas. Kamu tarik, pelan-pelan jendela terbuka. Sedikit demi sedikit cahaya masuk. Matamu silau. Kamu menghirup udara segar. Dada lapang. Hati senang, di luar burung-burung saling sahut berkicau. Kamar sumpek itu menjadi terang benderang.
Aku tak sedang mengajarimu. Aku cuma mau mengingat ulang, “Setitik cahaya di dinding kamar adalah metafor dari petunjukNya. Supaya terang, kamu perlu berjalan ke sumber cahaya.. Hidayah itu dijemput,” katamu dahulu tatkala kita duduk di teras mushola.
Jadi, sesuram apapun badai di depan, semoga energimu membawa pada pelampiasan yang baik. Lalu pulang. Ke asal dari mana kamu datang. Kepada Dia yang menjadikan kamu ada, lalu menitipkan sedikit masalah di bahumu, kode unik agar kamu menoleh, mengangkat tangan, menceritakan segala keluh dan kesah padaNya. Dia yang merangkai, Dia yang mengurai. Duh baiknya Dia. Bagaimana aku tak cinta.
@dehade Musallas, prosa rasa dini hari akhir tahun 2025. 02.49 CLT.










