Kepada Mai-Istriku yang Menanggung Musim
Ada perempuan yang dicintai karena senyumnya.
Ada perempuan yang dicintai karena matanya yang teduh, atau karena wajahnya yang mampu membuat musim semi datang lebih awal.
Tetapi aku mencintaimu karena alasan yang lebih sunyi.
Karena ketika dunia menutup pintunya satu per satu, engkau tidak ikut menguncinya.
Ketika namaku menjadi beban yang enggan disebut orang, engkau masih menyebutnya dalam doa.
Ketika aku berjalan melewati lorong-lorong gelap hidupku, engkau tidak berdiri di ujung jalan memberi nasihat. Engkau berjalan disampingku, membagi gelap yang sama.
Aku pernah jatuh sedalam-dalamnya. Sedalam seseorang yang hampir mati, jika mati itu tidak memerlukan kuburan.
Dan didasar kehancuran itu, aku menemukanmu masih ada.
Bukan sebagai pahlawan yang membawa keajaiban.
Bukan sebagai malaikat yang menghapus luka.
Melainkan sebagai manusia biasa yang memilih bertahan ketika bertahan adalah hal paling sulit untuk dilakukan.
Engkau telah melewati seribu musim bersamaku.
Musim ketika rumah terasa sempit oleh kesedihan.
Musim ketika harapan tinggal sisa-sisa.
Musim ketika bahkan aku sendiri nyaris kehilangan diriku.
Dan engkau tetap tinggal.
Dan kini aku mengerti, bahwa cinta yang agung bukanlah cinta yang membuat kita terbang.
Cinta yang agung adalah cinta yang tetap duduk disamping kita saat kita tidak mampu berdiri.
Jika kelak hidup bertanya siapa yang paling berjasa menyelamatkan sebagian diriku yang masih hidup hari ini, aku tidak akan menunjuk langit, tidak pula menunjuk waktu.
Aku akan menunjuk seorang perempuan tabah yang diam-diam menanggung badai bersamaku.
Perempuan itu adalah engkau.
Dan untuk semua musim yang telah kau lalui bersamaku, untuk semua air mata yang tidak pernah kau ceritakan, untuk semua luka yang kau sembunyikan demi menguatkanku,
Sebab ketika hampir semua orang memilih pergi, engkau memilih tinggal.