Febrina Kecil Maunya Apa?
Mendengar lagu dari Nadin Amizah yang berjudul “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” selalu membuatku sedih ingin menangis hingga merinding. Seperti ada makna tersirat yang sangat dalam melalui liriknya. Ku kira hanya reaksi sesaat saat mendengarnya pertama kali. Nyatanya rasa yang sama selalu menyelimuti sertiap mendengarnya. Terasa sedih sekali. Aku merasa hanyut dan terseret dalam alurnya. Mungkin ini hanya ilusi. Tapi tidak! Ini nyata meski tak kasat mata. Dalam pemahamanku, liriknya mengisyaratkan akan cepatnya semua berlalu hingga kita belum siap menerimanya. Entah itu makna yang sebenarnya ingin Nadin sampaikan atau bukan. Aku menangkapnya demikian. Ini pasti ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dalam diriku. Ternyata benar. Aku takut menjadi dewasa. Aku belum siap. Kehidupan ini berlalu begitu cepat. Aku tertatih-tatih mengejarnya. Berharap waktu sedikit melambat agar aku bisa menggapainya tanpa terengah. Aku tak bisa lari dengan cepat. Ada sosok anak kecil yang perlu kurawat, kujaga, kuperhatikan, dan kuselesaikan. Dia bersemayam di dalam tubuhku bertahun-tahun. Di dalam diriku, hati dan pikiranku. Mengikutiku kemanapun aku melangkah. Dia tetap kecil meski aku terus bertumbuh. Dia ada, nyata, tapi tak kasat mata. Dia Febrina kecil yang kusebut “inner child”.
Inner Child. Sebagian orang mungkin sudah pernah mendengarnya atau bahkan sudah memahaminya. Tapi aku yakin tidak sedikit juga yang belum mengetahuinya. Pasti ada yang masih asing mendengar istilah ini. Atau bahkan mungkin ada yang baru pertama kali ini mendengarnya? Mari duduk dulu di sudut ternyaman atau berbaring di tempat tidurmu. Akan aku jelaskan. Inner child adalah karakter dalam diri seseorang, dalam diriku, dalam dirimu, dalam diri kita semua yang terbentuk pada masa kecil akibat dari pengalaman atau peristiwa yang yang dapat mempengaruhi hidup kita. Baik itu di lingkungan rumah semasa dalam pengasuhan orang tua, ataupun di lingkungan luar. Karakter itu melekat kuat di dalam ingatan. Bersemayam di alam bawah sadar yang sesekali akan menampakkan wujudnya. Wujudnya berupa sikap atau perilaku kita yang tanpa sadar sebetulnya itu adalah diri kita di masa kecil. Inner child mempengaruhi sisi kepribadian seseorang apabila tidak dirawat.
Sedewasa apapun seseorang pasti ada sisi kekanak-kanakan yang tertinggal
Manusia bertumbuh menjadi dewasa, tetapi inner child tidak. Dia adalah “sosok kecil” diriku yang terbentuk dari luka batin. Dia begitu kekanak-kanakan saat merajuk keluar melaui alam bawah sadarku. Pada beberapa peristiwa, sering aku tidak menyadari bahwa Febrina kecil sedang terluka. Terkadang aku bisa menjadi pemarah di keadaan tertentu meski hanya sesaat dan menjadi panik saat situasi tertentu. Itu semua terjadi karena aku sering dibentak oleh ayahku yang kadang kasar. Aku selalu dituntut oleh ayahku yang perfeksionis. Hal itu menjadikanku takut berbuat salah. Aku tau, sebenarnya yang sedang marah itu sosok kecilku. Yang merasa panik dan ketakutan adalah sosok kecilku. Ketika kecil aku sedikit dikekang. Itu membuat sosok kecilku merindukan kebebasan yang menyebabkan aku tidak betah berada di tempat yang membosankan dan sendirian. Aku butuh teman untuk berdialog, berdiskusi, bercerita, dan bertukar pikiran. Sebenarnya kedua orang tuaku adalah sosok yang penyayang. Mungkin saja caranya berbeda setiap orang. Aku tetap berterima kasih kepada mereka yang telah menjadikanku seperti sekarang sehingga aku banyak belajar tentang diriku sendiri.
Waktu kecil aku pernah di-bully. Ya, aku korban bullying. Bukankah begitu menyakitkan menjadi korban bullying? Kamu semua yang pernah mengalaminya pasti marah dan sedih ketika mengingatnya. Menjadi korban bullying dengan inner child yang belum sembuh akan menimbulkan efek jangka panjang. Ditambah lagi dengan orang tuaku yang tidak pernah mengapresiasi pencapaianku ketika kecil. Luka batin yang dialami sosok kecil ini akan berpengaruh hingga dewasa. Luka yang terakumulasi membuatku menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan kurang berani berekspresi. Sulit sekali rasanya menyampaikan perasaan yang sedang aku alami terkadang. Aku hanya berani bercerita dengan orang terdekatku, seperti teman dekat yang sudah bertahun-tahun. Bisa dibilang inner circle. Bukan dengan orang rumah aku bercerita. Aku tidak berani mengeluh di rumah. Terkadang aku merasa sendiri. Tidak ada tempat untuk sekadar mengistirahatkan pikiran lelah. I don’t have a home!
Walaupun inner child identik dengan efek yang negatif, sebenarnya juga ada sisi positifnya. Aku menjadi selalu berusaha disiplin dan tepat waktu akibat keperfeksionisan ayahku. Aku menjadi orang yang mudah berempati akibat sifat penyayang ibuku. Biasanya efek positif dari inner child tidak terlalu diperhatikan karena tidak menimbulkan masalah. Efek positif tersebut terbentuk dari kehidupan masa kecil yang cerah, ceria, dan menyenangkan penuh kasih sayang. Hal tersebut tentunya perlu diperhatikan bagi para orang tua tentang cara pengasuhan yang dapat mempengaruhi inner child sang anak. Bagaimana cara menanamkan inner child yang positif, orang tua harus belajar banyak ilmu parenting. Inner child biasanya terbentuk juga atas ketidaksengajaan perilaku orang tuanya yang ditangkap oleh indra sang anak dan akan menetap menjadi memory jangka panjang. Baik dalam waktu pengasuhan secara langsung maupun secara tidak langsung.
Jika inner child positif tidak menimbulkan masalah bagi seseorang, lalu bagaimana mengatasi inner child negatif? Inner child negatif harus diselesaikan agar tidak terbawa dalam pola pengasuhan anak kita kelak. Orang tua yang memiliki inner child negatif yang belum terselesaikan dan tidak diperhatikan memiliki peluang besar untuk menurunkannya pada sang anak. Jangan sampai luka batin dari sosok kecilmu itu memiliki generasi. Untuk menyelesaikan inner child kita harus menerimanya terlebih dahulu. Menerima adanya sosok kecil dalam diri kita yang mungkin kadang terabaikan. Atau bahkan mungkin tidak kita kenali sehingga dilupakan. Sesekali luangkan waktumu di tempat ternyamanmu. Sapalah anak kecil tak kasat mata yang ada dalam dirimu. Dia adalah replika dirimu di masa lalu yang butuh perhatianmu. Kita perlu berdialog dengannya, rangkullah dia, usap kepalanya dan tenangkan dia. Katakan padanya bahwa “aku sudah memaafkan kejadian-kejadian di masa lampau yang menyakitkan”. Aku sudah aman, dicintai dan hidup dengan damai. Aku baik-baik saja.
Sudah lama aku ingin menuliskan ini. Hanya satu dua orang yang tau tentang ini. Sebenarnya ada sedikit ketakutan untuk membagikannya. Ketakutan itu muncul akibat dari pikiranku sendiri. Apakah orang akan menerima aku dan sosok kecilku setelah mengetahuinya. Walaupun setiap orang pasti memiliki inner child entah mereka sadar atau tidak. Mulai sekarang cobalah kenali sosok kecil dalam dirimu yang berpengaruh dalam hidupmu selama ini. Mungkin saja dia perlu diperhatikan dan diselesaikan luka batinnya. Aku pun juga sedang dalam tahap menyelesaikannya. Dengan memperhatikan kehadiran sosok kecilku, aku merasa lebih baik. Aku merasa lebih percaya diri, berani, dan lebih mudah berekspresi. Menerima dan merawat kehadiran Febrina kecil dan berdamai dengan diriku untuk Febrina besar yang lebih baik.
Itu tadi adalah cerita dibalik lagu yang sangat menyentuh bagiku @lebensmoode