Kasih Sayang yang Dikembalikan
Beberapa waktu yang lalu ibu minta dibelikan handphone baru, yang bisa digunakan untuk whatsapp dan BBM katanya. Sebenarnya sejak tahun lalu, saya dan adik memang berniat membelikan ibu sebuah gadget, tablet tetapi kami mengurungnya karena menunggu waktu yang tepat. Kami, terutama saya, berpikir bahwa ibu harus diberi bimbingan menggunakan gadget. Anggap saja ini salah bentuk rasa sayang kami. Dulu ibu dan ayah yang bertugas mengawasi lingkungan pertemanan kami, sekarang gantian kami yang mengawasi ayah dan ibu dalam menggunakan gadget.
Kekhawatiran ini didasarkan oleh perkembangan yang sudah semakin maju dan banyak sekali berita hoax yang berkeliaran. Di samping itu, menghentikan efek kecanduan buat orang yang pertama kali mencoba menggunakan benda canggih. Sekarang, setelah kami telah dewasa, memang itulah tugas kami.
Kalau ada yang bilang ke dua orang tua kami kurang gaul. Saya terima itu sebagai pujian. Karena yang saya butuhkan adalah sosok orang tua penyayang, bukan orang tua yang tahu segala hal tentang perkembangan media sosial dan sebagainya. Ke dua orang tua saya tumbuh dilingkungan dan jaman mereka sendiri. Mereka sudah cukup hebat bisa membimbing kami hingga seperti sekarang. Saat ini tugas kami yang membimbing mereka.
Mungkin ada beberapa anak yang terlihat tidak sabar menghadapi pertanyaan orang tuanya tentang apa itu facebook, instagram, hastag, dll. Yah, memang susah. Mungkin itu juga yang dirasakan ke dua orang tua ketika dulu mengajarkan kita banyak hal. Jadi, kenapa tidak belajar untuk mengembalikan kasih sayang yang pernah diberi?














