a jagged skyline

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Romania
seen from United States
seen from Russia

seen from Singapore
seen from Russia
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Iraq
a jagged skyline
Hiking Journal 🤍
Hiking journal: July 10th We hiked the north shore of Two Medicine Lake today! I went with my family. We were making a lot of noise because it was an active bear area but to no avail- we still saw a bear on the trail! Luckily we saw each other and then went our separate ways. Talk about an adrenaline rush! Always carry bear spray if you come to Glacier National Park.
Mt. LeConte
Hiking the Appalachian Trail - May 3, 2015
This weekend we did not hike a section of the AT, but instead, we hiked Alum Cave trail up to the Mt. LeConte Lodge, where we stayed the night at the highest lodge in the Smoky Mountains. Five miles up. Five miles down. 6594 foot elevation.
It was my third time hiking up to LeConte and staying in the lodge, but this particular trek was my younger cousin's first time. We were rather lucky that the weather cooperated, yet again. The hike wasn't particularly long, so we headed to the mountains at 1:00 in the afternoon, which set a relaxed tone for the trip. The Alumn Cave trail is a relatively popular trial in the mountains, and consequently, we passed numerous other hikers.
As I hiked the familiar trail, I thought back to hiking it as a child. Certain views became grander and particular corners in the pathway recalled memories. This time, however, the view from the trail was unimpeded, and I was able to see for miles. Whereas the last time I hiked Alum Cave, it was rainy and foggy. What is great about Alum Cave trail is that you can see the top of Mt. LeConte at various points along the trail, which is helpful in gauging how far there is left to climb.
At the very top of the climb, there is a turn in the trail, and the scenery shifts from rocky mountainside and panoramic views to a contained mountain top forest with trees lining the pathway. From the turn in the trail, it is only ten more minutes to the lodge. We made it to the dining hall just in time for dinner.
Staying at the lodge allows the hiker the advantage of being able to watch the sunset from the top of the mountain, instead of having to hike back down the trail before night fall. We watched a glorious sunset before heading off to bed in our cabin. Our group did not have the best night’s sleep because of cool temperatures and creaky beds, but we awoke the next morning ready to hike back down the mountain.
After a breakfast of pancakes and eggs, we packed up our belongings and started our descent. It was another beautiful day and we ran into a couple of familiar faces as we carefully made our way down the mountain.
As we drove home my cousins and I all passed out in the car and took a well deserved nap.
Until the next trail,
Lo Main
Hiking Journal: Mt. Salak (2017)
Naik gunung umur 16 tahun, turunnya umur 17. Enggak, aku gak sampai setahun di gunung kok. Tapi (kebetulan) aku birthday di gunung! :)
—
Tanggal 17-18-19 Oktober kemarin, aku mengikuti program sekolah: hiking ke Gunung Salak. Actually I’m not that excited, karena rasanya sedang not in the mood untuk mengeluarkan banyak energi. Tapi, aku jadi semangat setelah diumumkan bahwa sepulang hiking nanti kami boleh pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat :) Yeay!
Sebenarnya, Gunung Salak bukan medan yang sepele, karena jalur pendakiannya banyak yang searah dengan aliran sungai. Masih oke kalau gak hujan. Tapi kalau hujan (atau sehabis hujan), jalur pendakiannya jadi banjir. Dari sini aku dapat pelajaran pentingnya menyesuaikan outfit dengan sikon. Dalam konteks hiking, pastikan untuk pakai sepatu hiking (bedanya: it has really thick soles dan jahitannya lebih kuat). Kalau pakai sepatu casual, running, atau sneakers (mungkin ada?), ternyata bisa jebol, saudara-saudara.. #truestory #pengalaman
Lalu untuk carrier, menurutku penting juga untuk memilih carrier yang comfortable ketika dipakai, terutama di punggung. Biasanya tas-tas gunung yang diproduksi oleh brand spesialis outdoor gear sudah didesain supaya nyaman dipakai sepanjang hiking. Dan biasanya lagi, tas-tas ini sudah sepaket dengan cover bagnya. Jadi, kalau di gunung turun hujan tiap 15 menit, nasib carriermu dan seisinya aman! Hehe.
Yang baru kutahu, ketika packing barang-barang kemarin, kakak-kakak pembina kami (tim mapala dari STEI TAZKIA, namanya Haihata) sempat bilang (kira-kira) gini, "Gak usah bawa sabun ya, itu bisa mencemari air sungai. Air sungai kan ngalir ke pemukiman penduduk, nanti mereka kena ‘limbahnya’ kita. Lagi pula di sana kalian juga gak bakal mandi." Heran gak sih, dengarnya? Kami bertanya-tanya maksud dari perkataan kakaknya, kenapa di gunung kita gak akan mandi? Di sisi lain, baru terpikir juga tentang 'limbah ke rumah penduduk', iya juga, ya?
Tapi sebenarnya, aku—dan hampir semua temanku—keukeuh tetap bawa toiletries (alhamdulillah selundupanku gak kena razia kakak pembina, hehe), meski pada akhirnya yang terpakai hanya sikat gigi dan pastanya :) Ternyata benar kata kakaknya, kami betul-betul gak (bisa) mandi di gunung..
Hari pertama mendaki, seingatku kami hanya berhasil sampai kurang dari 1 km di bawah Kawah Mati. Sekitar jam 4 sore, kami diarahkan oleh kakak-kakak pembina untuk bangun tenda perkelompok. Katanya, pendaki harus sudah punya bivak sebelum malam, supaya aman. Alhasil kami berkemah di sebuah lahan kecil di pinggir sungai yang—secara ajaib—cukup untuk 4 tenda akhwat. Sedangkan tenda ikhwan terpisah-pisah, seadanya lahan.
Besok paginya, setelah salat-tausiah-masak-sarapan-mengepak tenda, kami melanjutkan pendakian. Tujuannya adalah Helipad, yang sebetulnya merupakan tujuan utama kami kemarin yang gak kesampaian. Sekarang, medannya lebih berbatu dan cenderung menanjak. Juga mulai tercium bau belerang, aroma khas yang akan tercium di area kawah (fyi, it smells like rotten egg). Aroma yang tercium menandakan pendakian kami telah mendekati Kawah Mati. Setelah itu, ada Kawah Ratu, barulah kemudian kami sampai di Helipad.
Omong-omong, capek gak sih, jalan berkilo-kilo naik-turun gunung itu? Pasti dong. Gaya banget kalau ada yang bilang biasa aja. Tapi rasa capek itu bisa diatur, gimana caranya kita membangun mental supaya tetap semangat, tidak mengeluh, dan tidak meremehkan kemampuan diri. Karena dari perjalanan kami kemarin, aku belajar satu hal:
Fisik kita tidak menentukan kemampuan, mental kitalah yang lebih berperan.
Contohnya begini. Ada anak yang badannya tinggi dan besar, dan ada anak yang badannya biasa-biasa aja, bahkan mungkin cenderung ringkih dibanding anak yang pertama. Secara fisik, jelas, anak yang pertama terlihat lebih mampu dan lebih bertenaga dibanding anak yang satunya. Tapi pada faktanya, belum tentu anak yang pertama betul-betul lebih kuat daripada anak yang lain. Apalagi ketika ia bermental kerupuk (hehe, sering dengar Pak Kepsek pakai sebutan ini), maka fisik yang memadai tidak akan berpengaruh banyak baginya. Bisa jadi anak yang satunya malah lebih tangguh, sepanjang jalan tidak merasa lelah berkat kekuatan mentalnya.
Itu yang aku renungi dalam diam melihat bermacam sikap teman-temanku sepanjang pendakian ke Kawah Mati.
Sesampainya kami di Helipad, setelah membangun tenda dan merapikan carrier masing-masing, kami menghabiskan siang dengan mendengarkan materi cara membuat api dan merancang perapian, materi navigasi, dan the most interesting part is: materi cara menghadapi ular! Paling menarik bagiku, karena ada ularnya betulan. Ada dua ular yang dibawa oleh kakak-kakak pembina, satu ular pohon yang tidak berbisa, satunya lagi ular sanca. Kalau sanca bukan berbisa lagi, tapi bisa makan orang.
Malam harinya ternyata gak kalah seru. Sehabis sesorean langit hujan dengan awetnya, giliran malamnya kami kedinginan. Gak pakai hujan aja sudah dingin, apalagi malam itu, dinginnya gak nahan! Di sini kami praktik buat perapian di depan tenda masing-masing. Sedari siang, aku dan ketua reguku, Arrifa, sudah mengumpulkan banyak sekali kayu bakar. Tapi semua menjadi sia-sia karena setelahnya turun hujan berjam-jam, dan tumpukan kayu bakar kami yang hanya dilindungi sehelai jas hujan itu pun jadi lembab tak terhindarkan. Sedih sekali rasanya. Jadilah kami harus memilah kayu yang masih agak kering, lalu susah payah ‘mengupas’ permukaan kayu yang basah dengan golok. Ditambah lagi, ternyata kami juga salah bikin perapian, gegara anggota regu kami ada yang mengusung teori perapiannya sendiri, haha. Hasilnya jadi gak sesuai dengan teori yang disampaikan kakak-kakak pembina tadi siang.
Di puncak kegagalan kami bikin perapian, datanglah seorang kakak pembina yang sedang berkeliling memperhatikan praktik kami, dan kegagalan kami tertangkap basah oleh beliau, haha. Akhirnya, kami dibantu sambil diceramahin (kayak gini, ‘tadi kan udah dikasih tahu gimana teknik bikin perapian bla bla’). Tapi meskipun awalnya agak cerewet, ternyata kakaknya baik dan asik, gak keberatan dengerin kami ribut gak jelas, bahkan nimbrung candaan (garing) kita :)
Nah, meskipun akhirnya kami dibantu membuat perapian, ternyata gak langsung berhasil begitu saja. Setiap kali api mulai menyala dan kami tambah serbuk kayu dan ranting-ranting baru, apinya redup lagi. Ditiupin juga gak mempan. Tapi kakak pembina kami ini sabar banget, tetap semangat walaupun harus bikin ulang. Justru malah kami yang banyak mengeluh. Setiap kami mengeluh, kakaknya bakal mengeluarkan sabda andalannya, "Bikin api memang kuncinya cuma satu: sabar".
Tapi, di sanalah momen serunya, di mana kami berkali-kali harus mengulang bikin api, bongkar perapian yang udah aesthetic banget tampilannya, ngupasin kayu basah pakai golok, motong-motong serbuk kayu, memilah kayu yang kering di antara tumpukan kayu lembab, (a lot of work indeed, tapi waktu itu aku bagian pegangin senter aja, hehe), lalu duduk melingkari perapian yang gak jadi-jadi sambil nontonin kakak pembina kami yang tengah berusaha, diselingi obrolan ala cewek yang ngalor-ngidul banget. Ditambah, regu kami berdempetan dengan regu sebelah (aku kelompok 1, sebelah kelompok 2). Alhasil obrolan kami saling menimpali. Karena, entah gimana regu kami dan regu tetangga senasib, apinya sama-sama gak mau nyala. Ujung-ujungnya kami menyatukan perapian 2 kelompok, istilahnya ‘tag team’ kata kakak pembina kami.
Yah, tiga hari di gunung, rasanya kangen air galon, kangen sejuknya Bogor Utara, kangen kaos kaki kering, kangen mandi 😝 Tapi di sini, aku bakal lebih sering merindukan dinginnya air sungai, sempitnya tidur di tenda, segarnya udara gunung (kecuali bagian kawah, plis), indahnya alam liar (aku sempat lihat rusa liar!) dan semua sensasi gunung yang entah kapan lagi bisa kudapatkan.
Terutama rasa bebas dari amanah-amanah yang aku emban di bawah gunung.
Ternyata benar kata Kak Yayuk (anggota Haihata yang pernah jadi wali asramaku), naik gunung itu refreshing. Dulu aku gak setuju. Mana ada, capek-capek naik gunung malah dibilang refreshing? Ternyata itu maksudnya. Ciptaan Allah memang selalu menenangkan jika direnungi. Alam semesta selalu bisa meredam obsesi manusia.
Bogor, 21/10/2017
This blog is the literary collection of a girl who feels so much all the time's thoughts and search for clarity and growth through contemplation & deconstruction, and consequently, reconstruction.
I decided to write some stuff down. Feel free to read it.
a little friend
it’s the little things 💛
from my Flickr account