Literally me 😂

seen from Malaysia
seen from Indonesia

seen from Canada
seen from United States
seen from Poland
seen from Netherlands
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Poland

seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from Sweden
seen from Hong Kong SAR China

seen from Netherlands
seen from Singapore
seen from United Arab Emirates
seen from United States
seen from United States
seen from China
Literally me 😂
Thank you Joe and Cari @frame. From the entire culinary team and family with Chef Genevieve Vang, @b96streetfood #Bangkok96. #chef #cheflife #hmog #asianchef #Detroit #ChefGenevieveVang #GenevieveVang (at frame) https://www.instagram.com/p/B2jbjBQBhsU/?igshid=1pqw3b999w9u4
HMOG (snippet #3)
“Hei, Nis.” Lauren menghampiri Denis yang sibuk menggambar di mejanya. Seolah tanpa beban, cewek berambut panjang itu melingkarkan lengan di pundak Denis dan duduk di sebelahnya. “Aku dapet cokelat di pos drone-ku kemarin, dan log-nya nunjukin alamat kondominium kamu.”
“Uh... ya, aku emang ngirim cokelat buat kamu.” Denis menghentikan guratan di tabletnya, masih belum berani melihat Lauren. “Ng... kamu suka, kan?” Pertanyaan itu dilontarkan ragu-ragu, tapi Denis sungguh berharap jawabannya “iya”.
Meski, tentu saja, Lauren punya gagasan berbeda. “Denis, itu cokelat langka. Produknya nggak terbuat dari bahan-bahan yang dimodifikasi secara genetis. Jelas ini barang dari luar kota...” Lauren menghentikan kalimat, berdeham karena canggung, tapi juga penasaran. “Ini bukan cokelat produksi kota kita sendiri, Denis, dan seharusnya kamu simpen buat kamu sendiri. Atau... atau buat orang yang lebih berhak ngedapetinnya.”
“Tapi, aku pengin ngasih itu ke kamu.” Denis kini menatap Lauren, tersenyum simpul. “Cuma sebagai tanda pertemanan kok. Nggak lebih. I hope you like it, though.”
Lauren tidak segera menjawab, dan Denis punya firasat bahwa usahanya ini--bisa jadi dianggap berlebihan.
___________________________
- Alvis -
HMoG (snippet #2)
“Aku nggak bakal minta maaf untuk ini. Nggak lagi.” Denis menjatuhkan tumpukan kardus milik perpustakaan di pekarangan sekolah. Tempat itu sepi dan sering digunakan untuk membakar sampah di insinerator. Tempat yang menjadi pilihan pertama untuk bolos, merokok, atau bahkan bertukar barang-barang ilegal.
Denis mendengus. Di negara yang perkembangan teknologinya sudah canggih, dengan kemajuan abad dan era yang semakin modern begini, masih saja ada kota-kota pinggiran seperti kota Denis yang terlewat dari perhatian pemerintah.
Sedikit-banyak mengingatkan Denis pada kehidupan di ibukota yang tiap penduduknya sudah dilengkapi microchip di lengan kiri, yang sudah mampu menghapuskan pandangan tidak adil, apalagi sampai catcalling.
Yep, Denis dihukum karena sudah menonjok salah satu antek Alan terang-terangan. Lauren sudah membela Denis sebisa mungkin, dan Denis bahkan tidak melakukan pelecehan apa pun. Tapi, wali kelas dan guru BK-nya bersikeras bahwa kekerasan fisik harus lebih dihukum ketimbang pelecehan di depan umum.
“Brengsek!” Denis menendang kardus-kardus di depannya hingga isinya berceceran. Ucapan Bu Kira terus terngiang-ngiang.
“Denis, kamu itu cewek. Nggak seharusnya bertingkah kasar, apalagi sampai melawan cowok.”
“Jadi, saya harus nurut aja dan nggak bertindak apa-apa waktu teman saya dilecehkan?”
“Nggak ada yang dilecehkan, Denis. Kamu dengar sendiri tadi, mereka cuma bercanda. Dan Lauren bahkan nggak terluka.”
“Seriously? Ini guru BK yang katanya disegani dan disukai banyak siswa?” Denis berdecak, tatapannya tajam menusuk Bu Kira. Dia bisa merasakan wanita itu berubah gentar, meski langsung memasang ekspresi penuh ancaman. “Bu, Lauren sudah mengalami catcalling tiap lewat di depan gengnya Alan. Dia nggak salah, dan temen-temen Alan-lah yang perlu dihukum. Saya cuma pengin ngasih tau mereka nggak sopan dan udah melecehkan. Berapa kali saya harus menjelaskan ini, sih?”
Namun, tentu saja usaha Denis sia-sia. Keputusan akhir tetap menyatakan cewek itu harus dihukum.
Denis mengembuskan napas, kesal setengah mati. Isi kardus itu adalah madingnya yang tak pernah dipajang, berisi kritiknya tentang “keanehan” yang sering dimaklumi di sekolahnya. Entah sampai kapan kondisi ini akan berlangsung, tapi Denis benar-benar ingin pihak sekolahnya berhenti bertingkah kekanak-kanakan dan sedikit-sedikit memaklumi tindakan menyimpang ini.
“Denis.” Sebuah suara lembut menyapa dari balik bahunya. Lauren. Cewek tinggi itu berjalan cepat ke arahnya, menyodorkan sebotol teh apel. “Maaf ya, kamu jadi kena getahnya.”
“Nggak masalah, ini bukan salah kamu.” Denis membuka tutup botol dengan mudah dan meneguk isinya hingga kerongkongannya terasa segar kembali. “Tapi, ya, aku masih marah sama anak-anak itu. Sama guru kita. Dan nggak usah heran kalo ntar sampe rumah, aku dimarahi Ayah habis-habisan.”
“Dimarahi... kenapa?” Lauren terdengar khawatir dan hati-hati, seolah tidak ingin memaksa Denis bercerita lebih lanjut.
Namun, Denis tersenyum simpul, berusaha menenangkan bahwa ini topik yang aman. “Aku selalu dibanding-bandingin sama Dean yang nurut sama orangtua, berprestasi, jadi pujaan guru-guru. Well, I respect him for that. Cuman, imbasnya, aku selalu diperlakukan kayak si miskin yang kebetulan berhasil nyamar jadi pangeran, tau.” Denis mengedipkan mata, langsung memalingkan muka. Bakal nggak lucu kalau Lauren melihatnya cengeng. “Jadi, yah, serasional apa pun keputusanku, aku bakal tetep... disalahin.”
“....”
“Aku tahu, bukan kondisi yang membanggakan buat diceritain,” Denis mengakhiri, menatap Lauren sekilas sebelum memfokuskan pandangan ke botolnya yang separuh kosong. “Anyway, kalo kamu nggak keberatan, aku bisa nemenin kamu ke ruang guru, atau ke mana pun yang berpotensi dicegat Alan cs.” Denis mengulurkan jari kelingkingnya. “Yah, kalo kamu setuju—”
“I do,” sahut Lauren tanpa ragu. Kelingkingnya bertautan dengan jari Denis, erat. “In case kamu penasaran, aku beneran nggak pa-pa, Nis. Aku... bisa deket sama kamu aja, aku udah seneng banget.”
Tanpa bisa ditahan, muka Denis memanas. Dia hanya menunduk, pura-pura nggak mendengar tawa kecil Lauren.
Sore itu, mereka memutuskan pulang bareng. Ada kegugupan yang merayapi sekujur tubuh Denis. Keberaniannya seakan ditantang dan diuji ketika Lauren nggak melepas gandengan tangan mereka. Namun, di balik semua interaksi itu, Denis merasakan kehangatan menyebar di sekujur dadanya.
Dan, Denis tidak menyesalinya. Sama sekali.
===============
- Alvis -
HMoG snippet #1
Ada tiga alasan kenapa Denis nggak menyatakan perasaannya pada Lauren: 1) jelas, mereka sama-sama cewek; 2) dalam kamus pertemanan Denis dan Alexa, Lauren adalah hama yang harus disingkirkan; alasannya sederhana, Dean—pacar Alexa yang juga merangkap kembaran cowok Denis—terlalu sering berdekatan bareng Lauren dan Alexa simply merasa terancam; 3) Denis masih ingin berteman dengan Lauren terlepas dari kondisi persahabatan dan percintaan sahabatnya.
Uh, lagi pula, meski tampak nggak menonjol dan gampang dirisak, Denis bisa melihat bahwa interior Lauren nggak selemah itu. Ada bara yang menyala setiap kali cewek itu berbicara dengan orang-orang di sekitarnya. Denis bisa merasakan determinasi, dedikasi, sekaligus ketulusan yang memancar kapan pun Lauren berinteraksi. Semacam kekaguman yang menelusup, barangkali. Apa pun itu, Denis bisa merasakan pipinya memanas dan dadanya berdetak kencang tiap kali mereka berpapasan di koridor, atau saat mata mereka bertemu saat kelas mereka sedang jam kosong.
Percakapan panjang mereka terjadi pertama kali saat Denis melihat Lauren melewati taman di depan ruang guru, dan disiuli beberapa cowok yang duduk di bangku dekat pohon akasia. Amarah Denis memuncak tepat ketika salah satu dari mereka berkata, “Lauren makin hari makin cantik aja nih.”
“Iya. Kayak sengaja ngundang aja.”
Dan, hanya butuh satu detik bagi Denis untuk mendekati tempat kejadian perkara dan melayangkan satu tinju ke salah satu dari mereka. “Kalo ngomong dijaga dong. Nggak usah sok-sokan bilang cewek yang ngundang, kalo dari awal otak kalian lah yang butuh dibenerin!”
Setelahnya, dia menarik lengan Lauren, yang notabene sedikit lebih tinggi darinya, dan membuatnya merona terang-terangan karena jarak mereka sangat dekat. Kepanikan Denis berkurang ketika mendengar Lauren terkekeh, dan dia cepat-cepat melepas gandengannya. “Eh, uh, sori...”
“Denis,” Lauren justru menggenggam jemari Denis sekarang, “thanks ya.” Senyumnya berkembang lebar, manis dan tanpa sadar membuat jantung Denis jumpalitan. “Aku biasanya nggak meduliin mereka, tapi rasanya aku beruntung banget akhirnya bisa ngobrol sama kamu.”
“Eh?”
“Ng... aku rasa, kita bisa jadi temen?”
•••
a/n: akhirnya aku post di sini juga. sebelumnya pernah tayang di instagram yang akunnya kuprivat ya. hehe. 😘
- Alvis -
THAI INDIGO HEMP SCARF www.rospoindigo.com
BourNhia&ChingMeng-Tsis Txhob Tog