"Negeri ini telah merdeka dari penjajahan, tapi tak pernah bisa merdeka dari kenangan" - sudjiwo tedjo . #throwback #pengabdianmasyarakat #hmtf #indonesia #2016 #memories #explore (at Pulau Kepetingan)
seen from United States

seen from Germany
seen from Germany
seen from Chile

seen from Germany
seen from Argentina

seen from France
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia
seen from Russia
seen from France

seen from Singapore
seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Ireland
"Negeri ini telah merdeka dari penjajahan, tapi tak pernah bisa merdeka dari kenangan" - sudjiwo tedjo . #throwback #pengabdianmasyarakat #hmtf #indonesia #2016 #memories #explore (at Pulau Kepetingan)
Tiga Puluh Empat
Hari ini telah tiba, dua puluh april yang ketiga-puluh-empat untuk rumah pertama di kampus perjuangan, HMTF ITS.
Menjadi yang paling akhir ternyata bukan jawaban dari sistem yang bergerak karena kebanggaan (katanya). Ternyata, nilai bukan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan, ia hanya dibuat setiap pada setiap generasi dan bergantung pada situasi dan suasana. Apalagi jika sang empunya sudah bertitah. Pada akhirnya, tak semua suara dianggap sama, apalagi ia yang berbeda. Mereka yang ada di kelas hanya sekedarnya, mereka yang ada di gedung bertingkat hanya menuntut semaunya, dan mereka yang ada di bawah tangga pun seolah pasrah saja.
Semua sama saja, sama-sama sudah lelah dengan semua.
Apa mereka pernah berbincang mengenai apa yang sebenarnya terjadi? Tentu saja tidak, tiap bagian seolah hanya mau mengerjakan porsinya dan tak mau menggerakkan yang lain. Sebuah peristiwa yang terulang (kembali) beberapa tahun belakangan.
Siapa yang salah?
Wahai kalian yang akan beretorika mengenai kegelisahan dalam menawarkan diri untuk dilempar ke ujung amanah, sudahkah kalian mengetahui jawabannya?
Sebenarnya, belum ada perubahan berarti di dalam. Apalagi di luar, mereka yang menyebut diri memperjuangkan nama rumah, tetap saja tak pernah di dukung mereka yang berada di dalam. Mereka tetap saja tak dianggap sebagai bagian integral dari batu-bata tembok rumah. Mereka tetap saja, dianggap sebagai orang-orang yang lari dari rumah. Dibuang dan tak pernah diharapkan kembali.
Sampai kapan?
Entahlah. Mungkin sampai mereka membuka mata dan melihat betapa kecilnya diri mereka, hingga tak sanggup membuka mulut untuk meneriakkan kebanggaan yang mereka miliki di tengah kerumunan yang sudah penuh arogansi. Semangat ya, karena bagi kami itu sudah biasa.
Iya, biasa memperjuangkan nama tanpa pernah dianggap ada.
Iya, biasa bergerak tanpa pernah terlihat dan ketika lelah hanya dianggap lemah.
iya, biasa dianggap berbeda karena jalan yang tak lagi sama.
Kata siapa kami yang diacuhkan tidak peduli?
KATA SIAPA?
--
Ternyata, kondisi dalam ruangan rumah juga sebenarnya biasa saja. Sebagian dari mereka kecewa karena tak sesuai dengan harapan ketika mereka pertama kali diberi ijin untuk mengenakan tanda kebanggan.
Kecewa?
Tentu saja tidak, kawan.
Ah, saya hanya rindu pada suasana, masa dimana saya bersama angkatan saya tanpa pernah peduli nanti jadi apa dan dimana.
--
-Ananta, warga biasa, bukan siapa-siapa. F48.1.044
Rumah Bergejolak (3)
Kelak, salah satu dari kalian akan terpilih.
Aku tak peduli siapa, sungguh.
Aku hanya peduli apa yang terjadi selanjutnya.
Bagaimana kalian mewarisi apa yang telah kami perjuangkan. Tentu saja, kami tak mau menuntut banyak. Ini adalah masa kalian. Sudah saatnya kami merelakan tempat pembelajaran ini bagi generasi selanjutnya. Saatnya mengetahui, seberapa kalian mulai mengakui perjalanan kami selama setahun kebelakang.
Perubahan atau hanya melanjutkan. Bergerak tanpa mengetahui posisi atau diam mencari arti mengapa himpunan itu harus berdiri. Mengoreksi atau mencaci-maki. Mencoba mengerti atau malah maju setengah hati. Menghasilkan sesuatu atau memberi beban baru. Mempertahankan tradisi atau berani mencoba berbagai hal baru. Mengambil semua ranah tanpa memahami yang namanya supporting system. Membutakan diri dari keluhan kami atau memang menutup hati. Mencari pembenaran atau mulai menyadari makna. Tetap dengan model lama atau mulai berani mendobrak. Sekedar jadi teladan atau memberi nilai pada setiap manusia lainnya. Menghormati atau malah percaya buta pada pendahulu mereka. Tradisi tanpa dasar atau bersedia dicaci dan dimaki. Kebijakan populis berasa pencitraan namun tak berjangka panjang atau mengorbankan era demi suatu masa yang lebih baik.
Pertanyaan selanjutnya, apakah makna dari terpilihnya manusia yang satu ini?
Hanya representasi atau malah sekedar menuruti. Garda depan menghimpun para warga atau malah dari belakang mengontrol suasana. Memberdayakan seluruh potensi atau hanya mereka yang di gedung bertingkat saja. Hanya melihat yang di dalam rumah atau mulai beranjak memberi kesempatan mereka menggores nama himpunan di luar sana, atau memang kalian tak butuh orang-orang yang membawa nama namun tak pernah teranggap -bisa jadi, iya. Mungkin saja orang-orang macam mereka memang pantasnya jadi beban. Coba lihat, seberapa sering kalian bertanya apa yang mereka lakukan dengan keluhan kalian yang bermodalkan program kerja dan agenda. Lihat bagaimana mereka memberikan nilai-nilai yang benar untuk orang yang tepat. Bukan hanya mendiamkan pendiam, membiarkan orang yang tak peduli, apalagi mencaci maki mereka yang tak ada dalam tanpa tapi, bisa jadi.
PENERUS ATAU PELURUS?
Itu pilihan kalian untuk berproses. Selamat memilih.
-Ananta, warga biasa, tak istimewa, apalagi dibandingkan kalian para penghuni rumah yang selalu terdengar.
9 Mei 2016.
Rumah Bergejolak (2)
Hari terus berganti, tapi mereka belum beranjak demi sebuah pembuktian niat. Timbul berbagai pertanyaan, mulai dari arti dari seorang pemimpin yang seharusnya hingga tujuan untuk menghimpun jika bergerak saja enggan. Menghargai sebelum dihargai, sebuah prinsip sederhana yang seharusnya mampu memberikan jawaban pada setiap teriakan para penjejak. Entah mereka yang peduli atau sok peduli, hanya berteriak lantang tanpa mau mengakui apalagi mengambil alih.
Lihat, kalian dapat karma-nya, kan?
Masih ingat setahun yang lalu dimana kalian menganggap kami sebagai kakak yang tak mampu memberi arti?
Sekarang,
masih berani?
Sebuah tradisi memang harus dihargai, tapi tak berarti cara yang sama akan mengatasi masalah yang berbeda. Mengapa harus teriak jika dengan dengan diam saja kami sudah paham?
Sekarang, tradisi itu berlanjut. Mereka yang baru mengenal rumah mengira bahwa mereka sudah mengenal segalanya. Menuliskan pesan seolah mencaci maki selalu bisa jadi solusi. Menuntut mendapatkan seorang sosok tanpa mau berpikir panjang, seolah dirinya sudah layak saja.
Tanyakan pada mereka. Kritisi apa yang mereka bawa.
Jika pada akhirnya kalian akan belajar dari mereka, untuk apa mencoba-coba untuk sok mengetahui segalanya?
Aku tunggu kontribusi nyata, bukan bacot belaka, apalagi hanya bermodal provokasi semata. Masih jadi seorang mahasiswa dengan idealismenya atau memang mencetak diri untuk mudah dipengaruhi oleh mereka yang pada dasarnya tak mengetahui apa-apa?
Lihat saja, apakah kelak suara itu masih lantang atau meredup pelan tanda tak punya asa?
Tiga Puluh Tiga
Hari itu telah tiba, dua puluh april yang ketiga-puluh-tiga untuk sebuah rumah, sebuah tempat kembali, HMTF-ITS.
Sekat-sekat antar generasi masih terasa, belum lagi urusan pilihan untuk berkembang. Terlalu dini membicarakan pergerakan bernafaskan keahlian jika mental masih jadi urusan. Mereka yang katanya peduli seakan tak mau bergerak duluan, yang lain (yang tak dianggap) mana tahan jika selalu mendengarkan ocehan tanpa makna pada setiap pertemuan. Berbagai pertanyaan dan pernyataan tanpa arah yang tak pernah berujung pada satu suara yang sama. Kritik tanpa data, hanya berbasiskan perasaan tak pernah dikunjungi di gelap gulita. Mana peduli mereka bahwa setiap manusia punya kebiasaan yang berbeda. Apalagi tentang apa yang sedang dilakukan, selama tak sejalan dianggapnya semua adalah retorika tak berarti. Mana mau mengerti jika hanya menganggap seolah dirinya sendiri saja yang pusing tujuh keliling. Ketika tidak tau jika mereka tidak tau, toh perubahan takkan terjadi.
Kata siapa kami yang tak pernah diacuhkan tidak peduli? KATA SIAPA?
-Ananta
F48.1.044
Rumah Bergejolak (1)
Hari ini telah tiba, saat-saat setiap dari kader terbaik di sebuah rumah yang pertama kali aku diakui saat mahasiswa baru, memulai proses pergantian pucuk kepemimpinan. Bukan sekali ini saja, kualitas dari mereka yang maju hingga mereka yang berdiri di garis depan diragukan. Tradisinya, mereka yang akan menggantikan akan menganggap generasi sebelumnya penuh dengan aib yang harus mereka tambah tanpa mau tau apa pencapaian mereka. Sedangkan mereka yang sudah kari lulus akan mempertanyakan banyak hal yang tak seharusnya diragukan kembali. Mulai dari permulaan ketika para tetua malah seolah tak mendukung mereka dengan cara menahan kartu dan mendorong orang lain yang katanya lebih dekat dengan mereka untuk maju.
Kalian sedang mencari pemimpin atau mencari boneka, kawan?
Sejak kapan kalian se-mau-nya sendiri untuk menentukan masa depan orang lain? Mau menuju puncak itu diawali dengan keinginan, bukan dikerek naik ke atas lalu dilempar.
Apakah kalian siap menjadi warga yang baik untuk kepengurusan selanjutnya? Apa membenamkan manusia lain ke lubang yang dalam memang hanya guyonan belaka? Beranikah kalian bersumpah untuk mendukung penuh untuk datang pada setiap kegiatan mereka yang kalian kritik?
Sebagai salah satu penghuni di dalamnya, bagian dari generasi yang akan tergantikan. Memiliki adik seperti kalian memang dilema, satu sisi ada mereka yang memenuhi ekspektasi, tetapi sebagian besar dari kalian belum mengerti makna dari menjaga nama baik rumah di mana pun kalian berada.
Bukankah mereka yang hebat dari satu golongan adalah mereka yang mampu membesarkan golongan yang lebih besar?
Pencapaian yang telah kami lakukan memang tidak seberapa dibandigkan seluruh pencapaian yang dimiliki oleh seisi rumah sedari ia berdiri dulu, namun pada akhirnya, setiap generasi memang punya kewajban untuk melebihi generasi sebelumnya, kan?
Jadi, apa yang kalian masih yakin akan melebihi kami? Jika bahkan kalian tak pernah mau tau sejauh apa kami memperjuangkan rumah ini?
Semoga menusuk, segeralah bergerak, sebelum siklus selesai dan kalian tak mendapat jawaban.
-Ananta, F48.1.044, bagian dari mereka yang akan tergantikan.
Hatur nuhun #HMTF #MPMHMTF buat acara arak-arakannya dan persembahannya . Sukses buat MUBES nya, makin solid, makin kompak, makin kental rasa kekeluargaannya 😊💪😉 . #telkomuniversity #graduation #vivateknikfisika
Yaleee.... Come and destroy! For all HMTF Telkom Univ.. #HMTF