Tiga Puluh Empat
Hari ini telah tiba, dua puluh april yang ketiga-puluh-empat untuk rumah pertama di kampus perjuangan, HMTF ITS.
Menjadi yang paling akhir ternyata bukan jawaban dari sistem yang bergerak karena kebanggaan (katanya). Ternyata, nilai bukan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan, ia hanya dibuat setiap pada setiap generasi dan bergantung pada situasi dan suasana. Apalagi jika sang empunya sudah bertitah. Pada akhirnya, tak semua suara dianggap sama, apalagi ia yang berbeda. Mereka yang ada di kelas hanya sekedarnya, mereka yang ada di gedung bertingkat hanya menuntut semaunya, dan mereka yang ada di bawah tangga pun seolah pasrah saja.
Semua sama saja, sama-sama sudah lelah dengan semua.
Apa mereka pernah berbincang mengenai apa yang sebenarnya terjadi? Tentu saja tidak, tiap bagian seolah hanya mau mengerjakan porsinya dan tak mau menggerakkan yang lain. Sebuah peristiwa yang terulang (kembali) beberapa tahun belakangan.
Siapa yang salah?
Wahai kalian yang akan beretorika mengenai kegelisahan dalam menawarkan diri untuk dilempar ke ujung amanah, sudahkah kalian mengetahui jawabannya?
Sebenarnya, belum ada perubahan berarti di dalam. Apalagi di luar, mereka yang menyebut diri memperjuangkan nama rumah, tetap saja tak pernah di dukung mereka yang berada di dalam. Mereka tetap saja tak dianggap sebagai bagian integral dari batu-bata tembok rumah. Mereka tetap saja, dianggap sebagai orang-orang yang lari dari rumah. Dibuang dan tak pernah diharapkan kembali.
Sampai kapan?
Entahlah. Mungkin sampai mereka membuka mata dan melihat betapa kecilnya diri mereka, hingga tak sanggup membuka mulut untuk meneriakkan kebanggaan yang mereka miliki di tengah kerumunan yang sudah penuh arogansi. Semangat ya, karena bagi kami itu sudah biasa.
Iya, biasa memperjuangkan nama tanpa pernah dianggap ada.
Iya, biasa bergerak tanpa pernah terlihat dan ketika lelah hanya dianggap lemah.
iya, biasa dianggap berbeda karena jalan yang tak lagi sama.
Kata siapa kami yang diacuhkan tidak peduli?
KATA SIAPA?
--
Ternyata, kondisi dalam ruangan rumah juga sebenarnya biasa saja. Sebagian dari mereka kecewa karena tak sesuai dengan harapan ketika mereka pertama kali diberi ijin untuk mengenakan tanda kebanggan.
Kecewa?
Tentu saja tidak, kawan.
Ah, saya hanya rindu pada suasana, masa dimana saya bersama angkatan saya tanpa pernah peduli nanti jadi apa dan dimana.
--
-Ananta, warga biasa, bukan siapa-siapa. F48.1.044












