Waktu bergerak begitu cepat, menempatkan manusia jenis kami berada pada tingkat akhir di kampus perjuangan. Masa dimana pengakuan bukan lagi hal yang dicari, bahkan seyogyanya sudah waktunya setiap dari kami mengernyitkan dahi pada dimana pelabuhan selanjutnya. Mencari nafkah sambil menuntut ilmu, atau sebaliknya. Tentu saja, berbagai hal tersebut bukanlah alasan untuk berhenti peduli. Apalagi, mengenai masa depan rumah kami.
Kehidupan kampus benar-benar menyadarkan kami bahwa kehidupan bermasyarakat bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi bagi kami yang sudah mendekati batas waktu kami di kampus. Perasaan seolah belum tau apa-apa tentang apa yang kelak akan kami lakukan tentu saja tak pernah berhenti menghantui. Kerja praktek, dimanapun kami melakukannya, seolah hanya menjustifikasi bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan. Bukan hanya melulu perihal hardskill yang bisa dipelajari di kelas dan laboratorium. Namun, attitude merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki.
Apakah kalian sudah yakin memiliki attitude yang layak? Hanya dengan menyapa kami dengan sapaan “mas/mbak”?. pahamilah esensinya, kami ingin kalian mengajak kami berdikusi, kecil saja namun berarti. Kami tidak pernah menganggap diri kami yang paling baik, (nyatanya, kemarin pas KP juga saya kena beberapa kritik pas mendiamkan orang pas ketemu) namun yang jelas kami lebih dulu berada disini.
Selanjutnya, persoalan pengakuan. Apakah gelar yang sebelum KP hanya terucap di forum jurusan hanya sekadar nama? Pentingnya titel F melambangkan si empunya sudah melewati masa-awal-kampus nya dengan baik, mampu beradapatasi dengan angkatannya, paling tidak. Tentu saja, gelar tersebut bukanlah paksaan dari pihak yang sudah memilikinya.
Hanya sebuah pilihan. Manfaatnya? Tanyakan pada kami, daripada sekadar melewati dan menyapa kami dengan nama produk yang ada dijual Cak Apin,
Pengalaman menjadi seorang junior, mengajarkan bahwa tidak mudah memang untuk tiba-tiba mengakrabkan diri dengan mereka yang sebelumnya tidak punya ikatan dalam waktu yang sangat singkat, terlebih mereka yang lebih dulu berada di dalam rumah.
Namun, bukankah tak ada nikmat yang hebat sebelum kau berjuang, totalitas tanpa batas, memperjuangkan pengakuan seiring mendapatkan pengalaman yang kelak harus kau jadikan pijakan untuk dilampaui sebagai seorang penerus? Apa ternyata kalian memang tidak rela melanjutkan perjuangan kami?
Kaderisasi adalah penanaman nilai-nilai, bukan proses balas dendam terhadap apa yang dulu kami rasakan. Kaderisasi adalah adaptasi untuk bekerja lebih keras, bukan hanya sekedar pulang malam lalu mengeluh jika kelak di masa depan ternyata perjuangan masih panjang. Kaderisasi itu memilih, bukan memaksa kalian menjadi seperti kami. Toh tugas kalian malah melebihi kami, jika memang pilihan kalian menjadi penerus kami. Kaderisasi itu bak menempa pedang dari bijih besi, dipukul berkali-kali hingga terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.
Jadi, bagaimana pilihan kalian? Mau kelak menjadi penjaga rumah kami, atau sekadar numpang lewat di depan rumah? Itu pilihan kalian, kawan.
segeralah bergerak, sebelum orang-orang tua macam kami sudah tak peduli dan mulai mendiamkan.
-Ananta, F48.1.044
8 Oktober 2016