Api dan Hujan
Terang dan berani Indah walau dapat melukai Hangat dalam jarak yang disukai Membakar ketika digapai Hadirnya membuat gelap pergi Ialah Api
Sering dinantikan sekaligus ingin dihentikan Datang dengan rintikan Hadirnya mengangkat kenangan Iramanya menenangkan Bekasnya menyejukkan Ialah Hujan
Aku memikirkan bagaimana jika Api jatuh cinta tetapi bukan dengan sesama Api, melainkan dengan Hujan. Bukankah itu menyakitkan baginya? Ketika ia bertemu dengan Hujan, ia bahagia sekaligus menyakiti dirinya sendiri, karena bisa saja ia langsung lenyap pada saat itu juga karena Hujan tak kunjung berhenti.
Sangat menyakitkan pula ketika Hujan merasakan hal yang sama dengan Api. Bukankah akan menyebabkan mereka tak pernah bisa bertemu? Karena Hujan sangat tak ingin melukai Api.
Hingga pada akhirnya Api dan Hujan hanya akan menyakiti dirinya masing-masing karena rasa yang mereka miliki. Hujan tak ingin menyakiti Api dengan menahan diri untuk tidak bertemu Api tetapi ia melukai dirinya sendiri karena begitu merindukan Api. Api juga tersakiti karena Hujan tak kunjung datang dan ia sungguh merindukan Hujan. Rindu memang ahlinya dalam melukai.
Itulah yang selama ini aku pikirkan. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh Api dan Hujan. Apakah mereka merasa tersakiti, atau hanya salah satu yang tersakiti. Apakah mereka bahagia, atau hanya salah satu yang bahagia. Apakah mereka memiliki rasa yang sama, ataukah tidak.
Jika memang keduanya memiliki rasa yang sama, aku percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Rasa yang hadir dalam diri hujan dan api juga merupakan anugerah Tuhan, sehingga tidak mungkin Tuhan memberikan anugerah tersebut hanya untuk melihat mereka sakit dibuatnya.
Mungkinkah Hujan menyukai Api?
Bandung, 21 April 2017











