Aku tak pernah tahu bagaimana kita sedekat itu dahulu, dan kini akupun tak pernah tahu bagaimana kita bisa berhenti berbicara...
2 tahun berlalu, aku bahkan tak ingat apa yang kita bicarakan terakhir kali...
Dan... dua hari yang lalu kamu kembali...
Seperti biasa kamu selalu memulainya dengan basa-basi, dan aku pun membalasnya dengan enggan...atau dengan ragu, ah entahlah...perasaanku selalu campur aduk ketika berurusan denganmu.
4 hari berlalu...iya basa-basi selama 4 hari dan akhirnya kamu membuat pernyataan yang tak bisa disangkal lagi.
Undangan...
4 hari yang basa-basi itu ternyata busuk, saat kamu memberikan itu kamu mengatakan padaku bahwa kamu masih mengingatku dengan memberikan undangan itu padaku.
Rasa-rasanya kalau hanya akan memberikan undangan kamu tak perlu mengingatku...bahkan aku rela kalau kamu tak pernah mengenalku lagi...
Tapi aku tetap mendo'akanmu yang terbaik.
Hari bahagiamu pun tiba...sejak kamu memberikan undangan itu, aku memang sudah berencana tidak akan datang, aku tak sanggup.
Dan t***lnya...pada malam harinya kamu mengirim pesan padaku yang isinya memperkenalkan pasanganmu dan menanyakan kenapa aku tidak datang...sampai saat ini aku tidak pernah mengerti dan kini bahkan aku tidak mau tahu apa maksud dari yang kamu lakukan malam itu.
Aku merasa marah dan sedih saling bertumpuk satu sama lain...
Yang harus kamu tahu, aku menangis sepanjang minggu itu...
Aku marah sepanjang minggu itu...
Bahkan saat aku menulis ini pun aku masih menangis
Mungkin suatu saat nanti...kita bisa mengenang kisah kita berdua,
Mungkin suatu saat nanti...kita bisa kembali bercerita satu sama lain,
Mungkin suatu saat nanti...kita bisa kembali duduk di pojok cafe itu dan berbincang,
Tapi sampai saat itu tiba aku akan terus melangkah