Di dalam dunia kecil miliknya, kamu sungguh berbeda dari yang lain.
Cerita hujanmu (via @dariduadesember )
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States

seen from Australia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from France
seen from China
seen from Japan
seen from China

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Japan

seen from Australia
seen from Türkiye
Di dalam dunia kecil miliknya, kamu sungguh berbeda dari yang lain.
Cerita hujanmu (via @dariduadesember )
Tentang Mimpi
Kali ini, berbicara tentang mimpi.
Mimpi yang segaris dengan harapan.
Ia abstrak; namun bisa dibayangkan.
Ia tidak terbatas di dalam ruang pikir.
Lagi-lagi, tentang mimpi yang satu arah dengan harapan. Tidak ada dinding yang membatasi mimpi, segala yang tak mungkin menjadi mungkin di dalam mimpi.
Jika ruang yang menjadi tempat sejati sang mimpi saja tidak berbatas; lantas mengapa kita mendengarkan batasan yang diciptakan orang lain?
Kita punya ruang sendiri untuk bermimpi.
Kita punya standar sendiri dalam bermimpi.
Kita punya mimpi kita sendiri.
Mengapa harus mendengarkan batasan yang diciptakan orang lain?
Mimpi kita, tak jarang menjadi hal yang sederhana di mata orang lain. Mimpi kita, tak jarang menjadi hal yang diremehkan oleh orang lain. Mimpi kita, tekankan kata ini; ini mimpi kita.
Bukan mimpi orang lain!
Kita bahkan tidak menyulitkan orang lain; dengan menggunakan ruang pikir mereka untuk bermimpi.
Kita bahkan tidak meminjam imajinasi mereka untuk menciptakan mimpi kita.
Kita tidak menyulitkan orang lain, lantas apa perlunya orang lain menyulitkan kita; membatasi mimpi-mimpi kita dengan kalimat racunnya?
Mimpi kita adalah milik kita. Mimpi kita adalah yang kita punya.
Teruslah membangun mimpi; betapa banyak hal-hal besar tercipta dari mimpi yang sederhana.
hujan, & gemerisik rindu
hari ini hujan, dan kau tau? aku benar-benar merindukanmu.
gemerisik-gemerisik di atap yang berbunyi merdu karna jatuh bersamaan lalu bergantian, mengingatkanku pada hari dimana kita saling berdeketan di bawah satu payung yang sama.
Hari itu, bukan kah kita berjanji untuk selalu begini di hujan-hujan selanjutnya?
ku rasa tidak. Sebab hujan kali ini, aku malah duduk sendiri di sebuah halte bus depan kampus memandang lurus ke depan.
Bukan karna aku takmau menerobos dan berbasah-basah, Tapi lebih disebabkan aku tak mau kehujanan sendirian; bermandi rindu dan rasa sepi tanpamu.
Jangan mencari seseorang hanya untuk melupakan seseorang~
Terkadang Tuhan memberikan nikmat kepada seseorang sekaligus menjadikan ujian bagi yang lainnya.
Sejak kemarin sampai sekarang aku merasa pasrah banget. Ada beberapa barang pesananku yang krusial, dari hari Senin gak dikirim kirim. Aku sudah coba hubungi penjualnya, tapi hasilnya nihil. Akhirnya baru dikirim hari ini, Rabu. Sudah merasa pasrah banget karena waktu lihat kalender, mulai Kamis besok ada tanggal merah, lalu disambut cuti bersama, dan lebaran.
"Sudah gak akan kekejar lagi. Enggak akan sampai dengan sempurna. Rugi-rugi dikit enggak masalahlah", pikirku.
Kebetulan banget kok ya bisa-bisanya pilih pakai pos. Aku enggak biasa memilih pos. Biasanya memilih ekspedisi swasta yang hari libur pun tetap gas mengantar barang.
Tapi ternyata tadi aku baca-baca media sosial dan menemukan suatu berita. Dan akhirnya aku teringat juga, kalau libur lebaran tahun ini diundur hingga akhir tahun. Itu berlaku bagi ASN dan pegawai BUMN. Aku perhatikan juga nampaknya sektor swasta beberapa ada yang mengikuti hal tersebut. Maka besok tidak jadi libur lebaran. Ditunda.
Seketika aku merasa bahagia, karena pos adalah BUMN. "Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan", batinku. Namun seketika muncul perasaan gemang. Bagaimana bisa aku bahagia sementara mungkin bapak ibu petugas ekspedisi sedang merindukan berlebaran bersama keluarga di rumah. Menikmati hari-hari terakhir Ramadhan bersama keluarga. Kembali menghidupkan malam lebih khusyuk tanpa memikirkan beban pekerjaan.
Kebahagiaanku mendadak sirna, berbalik prihatin dan empati. Terkadang kebahagiaan kita, adalah ujian bagi orang lain. Itulah mengapa akhir-akhir ini aku sangat jarang mau mengekspos kehidupan pribadiku di media sosial. Dulu aku sering sekali unggah story di IG yang menunjukkan kegiatan sehari-hariku.
Sekarang sudah tidak lagi. Aku sadar bisa jadi kebahagiaan yang aku bagikan akan menjadi cobaan bagi orang lain. Saat aku membagikan foto diriku sedang bahagia bekerja, bisa jadi ada temanku disana yang masih berjuang mendapatkan pekerjaan. Atau saat aku membagikan foto sedang asyik berkumpul bersama kerabat dan sahabat, mungkin ada temanku yang merindukan momen itu juga. Orang bilang, makin dewasa makin kita overthinking. Tapi bagiku tidak. Makin dewasa, kita makin bijak memikirkan sebab akibat perbuatan kita. Semoga nilai ini bisa kupegang seterusnya. Karena aku pernah di posisi itu, tidak nyaman dengan kebahagiaan orang lain. Dan rasa itu adalah rasa paling bersalah dan tidak mengenakan yang pernah ada.
“Why am I even still writing
Stuff like this about you
You fucking left me I should
Forget you but I can’t
Because I love you too damn
Much and it sucks because
You don’t love me back”
Ambigu #3
Hay, Rev. Apa kabar? Lama tak saling bertukar kabar, ya, kita? Kalau diingat-ingat lagi, satu tahun yang lalu terakhir kalinya aku mengirim surat kepadamu seperti ini. Maaf, Rev, bukannya ingin melupakanmu, tapi aku memang ingin meniadakan sejenak segala kenangan tentangmu. Kamu tahu, Rev? Semakin aku mengingatmu, semakin pula tersiksa bantinku.
Tapi itulah aku, Rev. Tak bisa berlama-lama meniadakanmu. Iya, kali ini aku akan kembali mengirim surat untukmu, surat yang mungkin tak akan pernah kau baca, surat yang mungkin tak akan pernah lagi kau eja aksaranya.
Dan kali ini, di bawah senja pukul lima, di kedai kopi pusat kota seusai aku pulang kantor, sembari menunggu kemacetan, aku kembali menulis surat untukmu. Aku kembali, Rev, dengan cerita baru, dengan petualangan baru tentunya. Semoga kamu siap untuk mendengarkannya, agak panjang, sih, kamu tidak keberatan, kan? Baiklah, aku akan mulai bercerita.
Kemarin, tanggal 01 Februari sampai 04 Februari, aku memutuskan untuk berkelana ke Malang, ke kota yang pernah menjadi persinggahan pertama kita. Kau tahu, Rev, misi petualanganku kali ini adalah untuk mengenang kebersamaan kita. Iya, dengan low budget, sama seperti masa-masa SMA kita dahulu kala. Tapi aku tetap membawa debit card, credit card dan segala aplikasi transaksi lainnya yang sengaja aku instal di handphone.
Selain ingin mengenang masa lalu kita, tujuan utamaku ke Malang adalah untuk riset naskah dan menemui beberapa narasumber yang bisa membagikan pengalamannya kepadaku, mumpung weekend dan libur imlek, Rev. Tapi di luar dugaan, waktu aku bikin story di Instagram, rupanya ada beberapa kawan dunia maya yang mengajak aku untuk menjelajah alam Kota Malang. Kami tak saling kenal sebelumnya, Rev. Selama ini kami hanya berinteraksi di Instagram, Mas Dimas namanya, dia adalah salah satu pengurus TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), Mas Dimas ini baik sekali rupanya. Nanti aku ceritakan lebih detailnya lagi.
Hari pertama aku di Malang, aku menginap di kontrakannya Rafin Gilang.
Itu adalah yang namanya Rafin, Rev. Anaknya seru, bahkan beberapa kali kami kerap bercanda, ngobrolin banyak hal, seperti sudah kenal lama padahal nyatanya kami baru kenal, kami mungkin sudah seperti sahabat. Ah, andai saja kau ikut, kau pasti juga akan merasa senang jika bertemu dengannya. Ah, ya, dia juga berperan penting untuk naskah saya nanti, Rev. Jangan penasaran, ya? Aku juga tak bisa menceritakan di dalam surat ini detailnya seperti apa, tapi kalau kamu ingin tahu alasannya kenapa, kau bisa datang di alam bawah sadarku, nanti di dalam mimpi akan aku ceritakan kenapa dan mengapa semua itu bisa terjadi.
Lalu, Rev, keesokan harinya, aku pamit untuk meninggalkan kontrakannya Rafin, waktu malam hari, Mas Dimas menjemputku di kontrakannya Rafin, tujuan kami malam ini adalah pergi ke Bromo, sebenarnya bukan ke Bromonya, melainkan ke Bukit B30, kata Mas Dimas lokasi itu sudah bukan termasuk TNBTS. Perjalanan kami kali ini ditempuh dengan menggunakan montor trail. Kau bisa bayangkan bagaimana sulitnya aku pertama kali mengendalikan kuda mesin itu, Rev? Hampir beberapa kali aku terperosok ke dalam selokan! Tolong jangan tertawa, jujur saja aku baru pertama kali mencoba hal seperti itu.
Saat masa percobaan mengendalikan kuda mesin sudah selesai, dan aku rasa aku juga sudah mulai bisa mengendalikannya. Kami yang saat itu berjumlah enam orang mulai membelah jalanan Kota Malang. Gila, Rev, adrenalinku mulai terpacu saat dihadapkan dengan situasi semacam itu. Tapi, Rev, keberanian dan adrenalin yang aku rasakan mulai menciut saat memasuki belantara. Di sana jelas sekali ditulis “Hati-hati Satwa Liar dan Hewan Buas”. Aku mulai ragu, Rev, sempat aku ingin mundur saja, putar balik dan pulang ke kontrakannya Rafin. Tapi Mas Dimas bilang kepadaku, “Di hutan seperti ini, yang bisa bikin kita selamat adalah doa dan keberanian. Kau penggal kepala hewan buas yang menyerangmu, atau kau serahkan kepalamu untuknya. Kau bunuh begal yang ada di hadapanmu, atau kau serahkan nyawa dan hartamu untuknya.” Ah, sial, mau tidak mau aku harus kembali melakukan perjalanan, Rev. Sudah sampai sejauh itu, tak mungkin untuk balik arah dan menyerah begitu saja.
Kami mulai menerabas belantara dengan menggunakan kuda mesin yang kami tunggangi, Rev. Suara mesinnya beberapa kali menggema, mengaung dengan sangat garang di dalam kegelapan. Kami membelah kegelapan, melewati jalanan berkerikil, mempertaruhkan nyawa karena di samping kiri dan kanan kami adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter, kami menerabas kabut, mengabaikan segala bentuk ketakutan yang ada. Tak ada penerang di dalam hutan, kami hanya mengandalkan senter dan lampu dari kuda mesin yang kami tunggangi. Rumah penduduk? Jangan harap bisa bertemu dengan rumah penduduk di sana, Rev, tempat itu jauh dari keramain dan pusat kota, jauh sekali bahkan, atau jika misal kamu tersesat di dalam sana, kamu mungkin tak akan bisa kembali dengan selamat, Rev.
Hantu? Hahaha... saya tidak sepenakut itu jika dengan hantu, Rev. Yang saya takutkan hanyalah begal dan hewan buas saja. Tapi, Rev, untungnya Mas Dimas sebelumnya sudah bilang denganku, bahwa salah satu peralatan yang wajib kami bawa adalah senjata tajam, atau kalau bisa senjata api atau senapan. Tujuannya cuma satu, Rev, untuk melawan jika ada serangan yang tidak kami inginkan. Parang berukuran 40 cm yang sengaja aku gantungkan di pinggang telah berhasil mengusir rasa takutku. Dengan begitu ketika ada serangan hewan buas seperti macan, singa, srigala, ular besar yang menggantung di atas pohon, atau babi hutan, aku bisa dengan muda melawannya, aku bisa dengan mudah memegal kepalanya dan dagaingnya yang lezat itu bisa kami jadikan santapan makan malam atau bekal untuk dua hari ke depan. Atau misalnya kalau ada begal, aku bisa dengan mudah menancapkan parang itu ke dalam perutnya, atau kucongkel matanya dengan pisau. Pikirku saat itu, kami yang harus meregang nyawa atau begal yang harus kami bunuh. Kami yang mati konyol karena diserang hewan buas, atau hewan buas itu yang harus kami penggal kepalanya. Ah, Rev... kami terlihat begitu sangat liar sekali malam itu. Andai kamu bisa ikut, Rev, mungkin kamu juga akan menikmati perjalanannya. Petualangan seperti itu yang dari dulu kamu ingini, bukan?
Rasa lelah dan rasa takut akhirnya terbayarkan saat kami sampai di atas Bukit B30. Setelah menaiki bukit menggunakan kuda mesin dan melewati mara bahaya, ada golden sunrise dengan balutan samudra di atas awan yang mulai nampak di kaki langit, Rev. Indah sekali. Kau mungkin bisa membayangkan rasanya jadi aku saat itu seperti apa, Rev? Bahagia, setelah hampir meregang nyawa ketika melewati zona bahaya, akhirnya semesta menghadapkan kami dengan harta karun yang jarang sekali manusia bisa menjamahnya.
Setelah menikmati matahari yang muncul di kaki horizon, kami kemudian mendirikan tenda, memasak makanan, dan setelah itu kami tidur untuk mengistirahatkan tenaga. Sorenya, lagi-lagi ada samudra di atas awan yang muncul tepat di depan tenda kami, Rev, indah sekali, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kami sebenarnya ingin lebih lama lagi untuk tinggal di Bukit B30 itu. Tapi waktu yang kami miliki tak banyak, Rev. Kami harus kembali dengan kesibukan kami masing-masing. Kami harus kembali kuliah, bekerja, ke kantor, dinas luar kota, atau dengan cara lain untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk sekadar menabung atau menyambung kehidupan.
Itulah yang namanya hidup, Rev, harus seimbang. Seperti katamu dulu. Ah, rasanya aku rindu sekali denganmu. Jika sempat nanti tolong balas suratku ini dengan cara memasuki alam bawah sadarku. Karena aku tahu, di sana, di surga tempatmu berada, tak ada tukang pos yang siap mengantarkan suratmu untukku.
Oh, iya, titip salam juga untuk malaikat-malaikan yang selalu setia berada di sampingmu, Rev. Jangan kau ganggung mereka seperti kamu mengangguku ketika kita masih saling bersama. Jangan nakal, kamu bisa ambil apa saja di Surga, bukan? Makanannya enak-enak pasti, makin gendut saja kamu di sana, ya? Hahaha... maaf, aku hanya bercanda, Rev.
Terakhir, akan aku sudahi saja suratku ini, jalanan sudah tidak lagi macet, senja juga sudah menghilang, kopi yang aku pesan juga sudah mulai habis. Aku mau pulang dulu ke rumah. Kamu, baik-baik saja di Surga, ya.
PS: aku lampirkan beberapa foto petualanganku kemarin, untuk mengobati rasa rindumu juga.
Sebelumnya di sini.
Pilihan pilihan yang hadir kadang memang menjengkelkan. "Memendam rasa" menjelma menjadi sebuah pilihan yang sebenarnya bukan menjadi salah satu pilihan, melainkan kekang yang tak bisa di hindari. Bungkam yang terlalu kuat hingga sulit bernafas. Aku terlalu takut. Takut akan kamu yang memilih pergi. Takut akan tuhan yang ternyata tidak menjadikan kita sebuah takdir. Klasik memang. Namun selalu saja mengganggu pikiranku. Menjengkelkan.
ed.