jaka...
jaka menangis... pagi dan sore datang tanpa cerita. dia tak lagi mampu membedakan rupa pelangi. rumahnya dipenuhi asap pembabat rimba. api tlah memerah lebamkan matanya, jerit angin mengibaskan pedihnya. jaka tak punya pilihan apa-apa, hidup atau mati ditangan yang kuasa, maju mundur terlilit api "harus kemana lagi?" diselimuti abu bumi dan jeritan tangkai2 yang telah diluluh lantahkan peringai asing yang datang tiba2. terpisah dari anak istrinya," yaaaa penguasa, aku pun tak menemukan kulit pisang atau kacang disini" betapa malangnya jaka. menunggu pelangi, menunggu matahari, bulu2nya terkikis oleh api. langkahnya menepi...














