"Niatnya menyembuhkan hati
tapi malah tersindir sendiri,
ternyata masalah saya hanya sekecil buih
jadinya belajar kembali."
[Herdhika Ayu, Kordiv Kesehatan - YMM KL-Dumai 2019]
Sejatinya waktu seminggu adalah waktu yang tidak pernah cukup untuk mengabdikan diri bila sesungguhnya pengabdian dipahami sebagai pekerjaan seumur hidup--yang seharusnya tercermin dan termanifestasi dalam peran masing-masing.
Adakalanya kita berhenti sejenak dari rutinitas, menyelami kembali kewajiban pengabdian; untuk mengasah empati, memahami apa yang sedang terjadi di luar batas-batas kenyamanan kita hari ini.
Untuk itu, kami berhenti sejenak. Perjalanan henti ini diiringi Youth Center to Act for Nation ke pelosok-pelosok negeri. Diantarkan melayat nasib-nasib saudara kami.
Kali ini di Dumai, Riau. Setelah sebelumnya mendapatkan sedikit bekal di Kuala Lumpur dengan langitnya yang tak lagi biru.
Sebelum menyelami lebih banyak, kami langsung sadar dengan permasalahan yang sangat mendasar bagi masyarakat disini: Air dan Udara, bekal utama sehatnya manusia.
Sehari saja disini, kami rindu menghirup O2 segar yang bebas kontaminasi karbondioksida. Terbayang diri kami selama ini, pun orang-orang kota yang asik berlindung dibalik AC-nya. Bernafas sesukanya dengan lega, tanpa harus takut terimbas ISPA.
Atau kami harus mandi dengan air gambut. Tidak hanya airnya yang coklat pekat, tapi juga asam yang menimbulkan bau tak sedap. Jangankan untuk diminum, untuk membersihkan diri saja kami bisa mikir dua kali.
Atau daerahnya yang terlalu panas dengan kelembaban yang rendah, air-air dalam tubuh terasa mengalir dari pori-pori.. Tak sanggup dihindari dan jadi bagian kehidupan sehari-hari.
Kabarnya hari ini, 300.000 jiwa menderita ISPA di provinsi ini. Akibat bencana yang berulang-ulang tapi nyatanya tidak mampu dicegah.
Semuanya ulah manusia. Rakus karena ekonomi tapi lupa komponen yang bertali temali hidup di sekitarnya. Apalah daya, uang memang menggiurkan. Sampai-sampai rela mengorbankan nasib baik orang lain. Mungkin nanti, kala maut yang menyadarkan, betapa uang bukan segalanya bagi mereka.
Saat ini mungkin rendah kepeduliannya, karena ia tidak tinggal disana bersama masyarakat untuk menghirup dalam ruang asap yang tak henti.
Banyak hal yang perlu diceritakan, jika ingin didengarkan lebih jauh bolehlah kita duduk berdiskusi sembari minum secangkir kopi. Beberapa bantuan yang kami berikan dan serahkan disana terasa tidak layak untuk diceritakan disini, jika ia disandingkan dengan rasa syukur kami terhadap hidup-hidup kami hari ini.
Sebisa mungkin, dalam waktu seminggu yang singkat dan kapasitas yang terbatas; kami berikan apa yang dapat kami berikan.
Tolong jangan lagi minta kami mengabdi, sementara kau enak-enak sendiri.