Listrik? Ini yang dirindukan mereka disini menikmati listrik 24 jam. Saat ini sumber listrik dari solar cell yang hanya tahan kurang lebih 3 jam saja. Sedangkan kita di kota menghambur-hamburkan energi listrik. Renungkan apa yang harus kita lakukan untuk Indonesia. #listrik #energibaruterbarukan #sumbatimur #ibeka #energy (at East Nusa Tenggara)
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mbakuhau. Pembangkit listrik ini yang melistriki Kamanggih dan sekitarnya. IBEKA bekerja sama dengan Hivos dan diresmikan 9 Agustus 2011. #IBEKA #hivos #PLTMHMBAKUHAU #pltmh (at East Nusa Tenggara)
PengMas? apanya siMas? haha #basi. Maafkan. Sebelumnya udah pada tahu belum PengMas itu apa? PengMas itu merupakan singkatan gahul dari Pengabdian Masyarakat. Sebuah gerakan yang mendedikasikan diri kita kepada masyarakat dengan niat yang tulus dan membantu dengan sepenuh hati. Berbeda dengan gemerlap dunia bisnis yang menggunakan prinsip ekonomi (Maximize profit, with minimal cost). Sedih kan? Disini kita tidak seperti itu. Kita sebagai orang-orang yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat berusaha sepenuhnya membantu, membantu dan membantu masyarakat sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Keren kan? ga cuma dapat pengalaman, pahala (jika tulus), kamu juga bisa mencoba lebih berusaha untuk mensyukuri hidupmu setelah tahu ternyata masih banyak yang tidak seberuntung dirimu. (meskipun normatif tapi pernyataan diatas seakan-akan disepelekan oleh banyak orang). Jadi mari kita mulai saja.
Bingung lah mau mulai dari mana. Tapi ya sudahlah, ini rangkuman versi ”me” tentang hasil kunjungan industri (yakali) bukan tapi kunjungan pengabdian masyarakat ke salah satu pioner pelaku di bidang social entrepreneurship di Indonesia. Namanya bapak Iskandar B. Kuntoadji selaku pemilik IBEKA dengan istrinya sendiri yang bernama Tri Mumpuni (saya yakin sebagian dari kalian pasti kenal dengan nama ini).
Oke langsung saja, pokoknya bapaknya selalu menyebut-nyebut sebuah kalimat yang pastinya bakalan menohok jantung-jantung kita haha. “Ganesha itu merupakan mesin pencetak koruptor nomor satu di Indonesia. Saya sudah buktikan melalui hasil riset yang telah saya lakukan. Jadi kalian jangan bangga menjadi salah satu lulusan mesin pencipta koruptor nomor satu didunia.“ Tutur Bapak Iskandar B. Kuntoadji selaku pemilik IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan).
Bapaknya pun selalu menunjukkan slide-slide yang memanjakan mata dan pada dasarnya kontennya pun selalu sama tapi tetap seru untuk disimak (dimata saya, materi-materi seperti ini tidak pernah membosankan). Sekilas isi dari slide bapaknya:
Presentasi dan pengkategorian penduduk menurut bapaknya ( yang disinyalir jika orang pemerintah melihat hal ini pasti tidak akan menerima. Toh laporan dari bawah menyatakan bahwa sudah cukup baik. Tapi siapa yang tahu kenyataan lapangan seperti apa? ). Oke langsung saja:
1. 78% tidak mampu - miskin
2. 19% mampu-egois-tamak
3. 2.5% mampu-baik-egois
4. 0.4% mampu-baik-benar
Jika kalian sendiri masih belum percaya dengan hasil pengkategorian diatas, jangan salahkan saya, tapi tanyakan langsung ke bapaknya. Saya sendiri percaya tidak percaya dengan hasil diatas tapi berpikiran baik sajalah toh tujuan bapaknya buat memotivasi. Akan sangat spesial bukan jika kalian menjadi salah satu dari golongan 4 di daratan Indonesia ini, sungguh mulia bukan??
Kita yang selalu dididik untuk selalu menjadi yang terbaik, dibandingkan berdasarkan IPK, menjadikan kita robot kapitalisme yang siap disambut oleh dunia kerja yang mengutamakan kepintaran daripada kebaikan, diutamakan kemampuan bersaingnya daripada empati dan simpati satu sama lain. Yang hebat menindas yang lemah pokoknya tanpa pandang bulu. Padahal kemampuan setiap orang berbeda satu sama lain karena setiap orang ditakdirkan unik dan berbeda meskipun sama-sama manusia. Kurikulum sekarang ini berusaha untuk mencetak manusia yang tidak lagi sadar akan lingkungan sekitarnya. Selalu dituntut untuk melangkah jauh tanpa kita bahkan tahu siapa nama bapak RT desa kamu sendiri? Kamu terlalu fokus untuk mengatasi masalah yang akan terjadi di masa depan tapi lupa untuk membantu memecahkan masalah yang terjadi di sekitar tempat tinggalmu. Percuma omong kosong kearifan lokal kalau seperti itu. Kurikulum disini terlalu memaksa setiap orang untuk menjadi salah satu figur ideal yang memiliki kompetensi tertentu yang sama, bagaikan setiap orang mencoba untuk dirubah menjadi sebuah robot yang fungsinya sama.
Salah satu konsep pembangunan masyarakat adalah kemiskinan. Kemiskinan terjadi akibat pembangunan yang salah. Pembangunan yang salah ini dimaksudkan ketika terputusnya masyarakat lokal dan sumber daya lokal. Padahal supaya sebuah pengabdian masyarakat dapat berjalan dengan baik, perlu dilakukan dua hal dibawah ini:
1. Menghubungkan
2. Percaya (membangun kepercayaan dengan masyakakat)
Nanggung? maafkeun ya hehe
To be continued. Sedang mengumpulkan semangat menulis kembali.