Rasain Makanan Lewat Tulisan, Emang Bisa?
Pernahkah kalian menonton film Ratatouille? Apa yang kalian ingat dari film ini? Tikus memasak? Keindahan kota Paris? Atau makanannya yang mengunggah selera? Kalau saya sih yang diingat itu adalah seorang kritikus makanan yang muncul untuk menilai makanan si koki tikus ini. Dalam scene terakhir film ini, digambarkan sang kritikus yang menuliskan ulasannya ke dalam sebuah tulisan yang selanjutnya di publish untuk khalayak ramai. Tulisan ini dikenal sebagai “food writing” atau tulisan tentang makanan.
Kata “food writing” sendiri baru populer di tahun 1990-an, padahal tulisan tentang makanan ditemukan pertama kali pada abad 14, yaitu buku berjudul “Le Viandier” yang merupakan buku resep asal Prancis. Selanjutnya pada abad 18 juga ditemukan buku berjudul “Larousse Gastronomique” karya Jean Anthelme Brillat-Savarin, buku ini dikenal sebagai food writing klasik yang menjadi awal dari food writing masa sekarang.
Popularitas food writing di Indonesia tidaklah se booming seperti di Prancis ataupun negara barat lainnya. Seperti yang dibahas dalam webinar Indonesia Writers Festival 2021 oleh IDN Times dengan tajuk Culinary Story Teller, Mengolah Rasa Menjadi Aksara pada Kamis, 28 Oktober 2021, Kevindra Soemarti, narasumber dalam webinar ini, mengungkapkan bahwa saat ia mulai menulis tentang makanan di tahun 2014, belum banyak karya food writing yang beredar di Indonesia. Hal ini juga bisa didasari dari sedikitnya kritikus makanan yang ada di Indonesia.
Namun, Kak Kevin, begitu ia dipanggil, cukup senang dengan perkembangan minat food writing di Indonesia dalam 2 hingga 3 tahun belakangan. Menurutnya hal ini begitu penting dikarenakan food writing merupakan salah satu pilar dari art journalism. Selain itu, ia juga berpendapat Indonesia memiliki banyak keunikan tersendiri dalam setiap kulinernya sehingga membuat Indonesia menjadi lapangan luas untuk para food writer di masa mendatang.
Webinar yang diadakan oleh IDN Times dalam acara Indonesia Writers Festival menawarkan topik-topik yang sangat bermanfaat untuk belajar mengembangkan tulisan kita. Dari sekian topik yang ditawarkan, topik mengenai food writing sangatlah menarik karena di Indonesia sendiri culinary journalism atau tulisan tentang makanan belum umum dikalangan masyarakat. Sehingga webinar ini sungguh membantu membuka wawasan baru bagi masyarakat bahwa jurnalisme tidak hanya sebatas berita seperti di koran loh, tapi makanan pun merupakan bagian dari jurnalisme itu. Siapa yang menyangka kalau hal sesimpel makanan memiliki peran lebih dari hanya sebagai pemenuh nafsu lapar.
Narasumber yang diundang dalam topik ini juga tak kalah menarik perhatian. Jika biasanya webinar itu identik dengan pembicara yang baku, monoton, dan membosankan, tapi Kak Kevindra Soemarti menyampaikan materinya dengan cara yang welcoming dan asik. Pembawaannya yang santai makin membuat betah untuk mendengarkan webinar ini. Informasi-informasi yang ia berikan sangatlah insightful dan dikemas secara apik sehingga para pendengarnya dapat memahaminya dengan mudah. Adanya sesi tanya jawab juga menambah kesan engaging dalam webinar ini.
Kak Kevin membagikan fakta dan tips menarik yang berkaitan dengan menulis tulisan kuliner. Kak Kevin berpesan kepada para pemula dalam dunia food writing, kalau menulis makanan itu tidak boleh asal icip lalu tulis, tetapi kita juga butuh data, butuh riset. Agar mempermudah riset, kita bisa mulai dari hal yang kita suka, seperti makanan asal daerah kita atau restoran yang sering kita kunjungi. Dengan begitu, diharapkan kita bisa menulis dengan passion yang kuat dan menikmati melakukan setiap prosesnya.
Riset adalah faktor penghambat terkuat penulis muda untuk memulai tulisannya. Padahal, riset itu wajib loh dalam dunia food writing karena food writing tidaklah sebatas pada reviewmakanan enak ato tidak enak, tetapi juga dibutuhkan asal-usul daerahnya, bahan bakunya, bahkan kalau perlu sampai penciptanya. Kak Kevin memaparkan adanya empat pilar yang harus dipahami dalam dunia food writing, yaitu penulisan resep, food feature, restaurant criticism, dan food literature. Keempat pilar ini memiliki cara riset yang berbeda-beda. Walau begitu metode yang paling dasar dalam melakukan risetnya adalah dengan metode 5W1H. “Dari 5W1H ini saja dapat menjadi landasan riset yang sederhana, namun dapat memperkaya tulisannya.” itulah perkataan Kak Kevin tentang metode riset di dunia food writing.
Kak Kevin juga bercerita bagaimana riset membantunya dalam mengkritik makanan. Waktu itu, ia diharuskan untuk menulis tentang sebuah restoran Prancis. Ia tidak terlalu familiar dengan makanan Prancis pada saat itu. Akhirnya ia mencari siapa kokinya, asalnya darimana, kira-kira menu apa yang disajikan jika pada saat itu musim gugur, musim panas, atau yang lainnya. Hingga saat ia tiba di restoran tersebut, lalu membuka menunya ia sudah mempunyai bayangan tentang makanan-makanan yang ada. Kak Kevin juga berpesan untuk jangan pernah malu untuk bertanya. Kita bisa bertanya kepada pramusaji restoran, pemiliknya, kokinya, atau yang lebih dekat adalah orang yang sedang menyantap makanan di meja sebelah kita. “Bertanyalah hingga kalian menjadi ensiklopedia berjalan.” begitu yang ia katakan.
Selanjutnya Kak Kevin juga membahas apakah untuk masuk dunia food writing harus bisa memasak? Jawabannya adalah tidak juga. Namun, ia berkata akan lebih baik jika kita juga bisa memasak agar bisa lebih peka dalam mengulas tentang makanan. Ia juga menambahkan kalau kita belajar memasak pelan-pelan sambil menulis nanti kemampuan kita untuk mengerti masakan akan membuat kita lebih memerhatikan makanan yang akan kita santap. Sehingga, akan sangat membantu dalam proses memindahkan makanan ke dalam tulisan kita.
Dalam webinar ini juga dibahas tentang subjektivitas dalam penulisan makanan. Kak Kevin menegaskan bahwa subjektivitas dalam makanan itu berbahaya. Selayaknya jurnalisme pada umumnya, kita harus sebisa mungkin tetap objektif dalam mengkaji suatu objek atau peristiwa. Seorang kritikus makanan tidak boleh memakai preferensi pribadi dalam tulisannya. Kak Kevin berpesan saat kita ingin mencicipi suatu makanan jangan datang dengan ekspektasi, tapi datanglah seperti kanvas putih. Biarlah pengalaman menyantap makanan saat itu mewarnai kanvas putih tadi. Lagipula, kalau ekspetasi kita tak sesuai realita kan jadi membuat mood turun saat menuliskannya.
Satu hal yang sangat membekas saat selesai mendengarkan webinar ini adalah tentang kata ‘enak’ dan ‘tidak enak’. Menurut saya dua kata itu adalah kata yang abstrak. Tidak ada kepastian dalam maknanya. Pemikiran saya ternyata sejalan dengan Kak Kevin yang mengatakan bahwa dalam menulis makanan, jika makanan itu enak maka jelaskan seperti apa rasanya apakah manis, asin, ataukah pedas. Dengan begitu para pembaca yang membaca tulisan kita dapat ikut merasakan makanan yang kita tulis saat itu. Mereka dapat ikut merasakan bagaimana rasa makanan yang entahlah, bisa pedas, asin, asam, gurih, ataupun manis. Lalu mereka akan merasa penasaran dengan makanannya dan pergi untuk membelinya. Wah, strategi marketing yang bagus bukan.