Menjelajah empat negara eropa barat
Tidak dapat dipungkiri, Eropa menjadi salah satu destinasi wisata yang diidam-idamkan oleh pelancong dunia, tanpa terkecuali, saya.
German tepatnya, merupakan destinasi impian yang ingin saya kunjungi sedari kecil. Setelah menanti sekian lama, Akhirnya pada Oktober 2018 kemarin, saya berkesempatan mendatangi negeri ini.
Niat hati ingin bersilaturahmi mengunjungi keluarga, tapi ternyata, sampai sana, saya diajak berkeliling ke tiga negara lainnya. Total ada empat negara yang saya dan keluarga saya singgahi yaitu Jerman, Belanda, Prancis, dan swiss serta lebih dari sepuluh kota dikunjungi dalam durasi 13 hari perjalanan. Berbagai macam hal saya alami selama perjalanan di Eropa. Hal yang menyenangkan dan luar biasa, tentu saja sudah pasti saya rasakan. Tapi saya pun mendapatkan pengalaman lain yang membuat saya berpikir bahwa Eropa tidak seutuhnya seperti yang dibayangkan oleh saya selama ini. Karena mungkin, espektasi tentang negara maju di pikiran saya merupakan tempat yang sibuk, disiplin, sempurna tanpa cacat. Tapi ternyata saya mendapati sisi lain dari Eropa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Jerman yang menjadi salah satu negara makmur tidak lantas membuat negeri ini 100% bersih dari tindak kriminalitas. Berpengalaman tinggal di Jakarta, kota yang lebih tinggi tingkat kriminaslitasnya, namun tidak pernah merasakan pencurian, membuat saya terlalu percaya diri dan beranggapan bahwa dijerman pun saya akan baik-baik saja. Tapi ternyata pemikiran saya salah.
Pada Hari pertama, di kota Frankfurt yang kemoderanan dan keteraturannya melebihi Jakarta, saya sudah disuguhkan dengan pemandangan seorang wanita yang menangis sembari berteriak-teriak disalah satu sudut jalan. Sepupu saya yang waktu itu sedang mengantar berkeliling mengatakan, bahwa wanita itu kehilangan barang berharganya karena diambil orang.
Hal itu masih segar membekas dalam ingatan, sampai keesokan harinya, kejadian kehilangan saya alami sendiri. Malam hari di Kota Berlin, Brandenburger tor menjadi pusat dari keramaian. Kebetulan kedatangan saya bertepatan dengan perayaan bersatunya jerman barat dan jerman timur pada tahun 1989 silam serta octoberfest. Berbagai hiburan berupa Stan makanan, panggung musik, sampai puncaknya adalah pesta kembang api, memeriahkan acara peringatan ini.
Saya ikut terhanyut dengan euforia peringatan hingga lupa diri. Tidak lama setelah pesta kembang api yang mewarnai langit Berlin usai, irama musik pun mengalun meramaikan suasana. kamera yang saya bawa, saya pergunakan bergantian untuk mengabadikan kemeriahan ini. Satu buah handphone dan satu kamera digital membuat saya cukup kerepotan dan tidak waspada. Belum 5 menit saya meletakkan handphone di saku jaket dan berganti menggunakan kamera digital, saat itu juga saya menyadari bahwa handphone yang ada di saku saya telah lenyap entah kemana. Saya mencoba menelusur tempat saya berpijak dalam waktu lima menit sebelumnya, namun hasilnya nihil. Tidak saya temukan handpone saya terjatuh disana. Untuk pertama kali akhirnya saya merasakan kehilangan handphone ditempat yang saya pikir merupakan salah satu tempat yang aman. Melapor ke pihak berwajib pun sudah dilakukan, namun petugas hanya mengatakan, apabila terjatuh dan dilaporkan oleh pihak lain, tiap barang hilang dapat diambil di tempat pelaporan yang telah disediakan. Tetapi, karena keterbatasan waktu yang dimiliki dan kemungkinan handphone akan dikembalikan sedikit, saya memilih untuk mengikhlaskan barang tersebut.
Lain halnya lagi dengan pengalaman di Kota Paris. Paris yang dikenal sebagai kota paling romantis di dunia, juga memiliki sisi lain yang baru saya ketahui. Ternyata Paris memiliki masalah dengan kemacetan lalu lintas. Diantara kota-kota lain yang saya datangi di Eropa, tingkat kemacetan di Paris adalah yang terparah. Tidak hanya itu, pedagang kaki lima akan banyak ditemukan menggelar lapak disepanjang jalan menuju menara Eiffel dari arah stasiun kereta. Hal lainnya, tikus-tikus juga berkeliaran bergerombol di tempat yang bahkan ramai dengan orang. Persis sama seperti di film animasi Ratatouille. Sekarang saya paham, apa yang menjadi latar belakang film itu dibuat, salah satu alasannya mungkin karena di Paris memang banyak tikus. Belum lagi saya melihat tidak sedikit orang yang menggunakan transportasi kereta tanpa membayar tiket. Mereka dengan santainya melompati pintu masuk stasiun kereta yang hanya bisa terbuka apabila mesinnya dimasukkan tiket. Pengemis pun banyak dijumpai disini dan bahkan mereka menjadikan trotoar sebagai tempat untuk tidur.
Gambaran baru juga saya dapatkan
Di Jenewa, swiss. Di tempat yang masuk ke dalam 10 besar kota dengan biaya hidup tertinggi ini, tidak lantas membuat masyarakat Jenewa kerja sepanjang hari, siang dan malam. Tempat hotel saya menginap contohnya, diatas pukul 12.00 am tidak ada resepsionis hotel yang berjaga sama sekali. Bagi tamu yang baru tiba di jam itu, pihak hotel hanya memberikan nomor sandi untuk masuk gedung hotel dan meletakkan akses kunci di depan pintu kamar yang dipergunakan tamu untuk menginap. Suasana kota pada malam hari pun sangat sepi, tidak seriuh seperti yang saya bayangkan.
Sedangkan di Amsterdam, Belanda, saya menemukan kenyataan bahwa pengendara sepeda di kota ini merupakan raja jalanan. Hal ini cukup mengganggu karena seolah-olah tidak boleh ada satu pun yang menghalangi jalanan didepan mereka. Pejalan kaki maupun pengendara mobil dan motor harus berhenti dan harus membiarkan mereka melintas terlebih dahulu. Mereka pun mengayuh sepeda dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dikota ini, parkiran terisi bukan oleh mobil, melainkan oleh sepeda.
Red light district, wilayah prostitusi di Amsterdam juga tidak kalah membuat saya terkejut. Di tempat ini, wanita malam terlihat menjajakan diri layaknya patung manekin di etalase toko. Hanya dipisahkan dengan pintu kaca, tiap lekukan tubuh mereka terlihat jelas. Dan mereka hanya menggunakan pakaian dalam untuk menutupi tubuh. Jadi para pengguna jasa mereka, bisa memilih dengan leluasa langsung dari jalanan tempat melintas.
Seperti itu lah sebagian kecil gambaran baru tentang eropa yang saya dapati dari Perjalanan kali ini. Gambaran tentangSisi lain eropa yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan mungkin hanya bisa dipercaya apabila berkunjung kesana secara langsung.
Ternyata kondisi di eropa tidak sama persis seperti bayangan yang ada di pikiran saya, namun bagi saya, Eropa tetaplah tempat yang menyenangkan. Dan semua pengalaman yang saya dapatkan menambah pengetahuan dan warna dari penjelajahan saya di benua biru ini.