The demands of the Indonesian people!
seen from United States
seen from Hungary

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Hungary
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Algeria

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
The demands of the Indonesian people!
Friends, can you pray for the people of Indonesia? We are overwhelmed with corrupt politicians and rulers there…
Some context:
More than 100 days have passed since the presidential election. We are led by a new president. But…
"if abbreviated, the crimes can include public deception, lack of performance, focusing too much on the people in the government without paying attention to the people, choosing incompetent people to work in the government."
"In addition, there are allegations that he used fraudulent means to win the election, then the government under his control is a bit confusing, like making policies, which must be the people themselves who stop the unreasonable policies from circulating."
"There were several election promises that he made that did not meet the needs of the community. And unfortunately, important budgets such as the education, health, and even innovation ministry budgets were cut by almost half for those promises."
That's what the new president did…
Hi everyone, I am Sacra. Please allowed me to use this platform to speak out as an Indonesian citizen and the current situation that happening in my beloved country.
At this point, we need the international community's attention. Right now, Indonesian people have no one stand with us besides ourselves. The people only have the people. The Goverment, with the military and the police, fight against us. Even our elected president, Prabowo Subianto, in his recent speech on March 20th 2025, called us "barking dogs."
Since March 20, 2025, Indonesia has officially entered a dark period that once occurred during Soeharto's presidency in 1965-1998.
Our Parliament just passed amendments to the military law (UU TNI), allowing active-duty officers to hold civilian positions without resigning.
Mass protests erupted on a national scale since that day, involving students, women, and even families of victims of the government repression during the Soeharto era.
Yesterday, the police used excessive force againts demonstants in Malang, East Java. They brutally attacked students, women, journalists, including medical personnels and medical post, making them have no difference with the Zionist and terrorist, violating human rights and democratic principles.
Press fredom is also under threat. The office of Tempo magazine, known for its critical reporting, were targeted with intimidation. On March 22nd 2025, they received a severed pig's head which intentionally targeting one of Tempo's women journalist, Francisca Christy Rosana known as Cica, followed by decapitated rats on 23rd. This has raised serious concern about press safety.
We call on international community to:
Condemn the excessive force used against peaceful protestors; Defend press freedom and protect journalist from intimidations; Urge the Indonesian Government uphold democracy and human rights.
You can use the hashtags below in any other platforms to keep informed.
Thank you for your attention. Your solidarity is crucial. May justice and peace prevails in all nations.
"Kabinet Gemuk"
Sorry that this is getting a little political, but I can't stand quiet while my country is in shambles bc of the very incompetent officials.
Yesterday, there are four people who died because of a careless policy that were made without mitigations and solution.
Three months ago, the government was increasing the percentage of taxes to 12%.
And many more issues. So this post is made as a critique to the rotten system, that we, as its citizens must change
This symbolizes the greed of the officials that always took from their citizens while neglecting their welfare.
Sudah Siapkah Negeri Ini Dengan Sistem Demokrasi?
Sebenarnya, Indonesia masih terlalu dini untuk menerapkan sistem Demokrasi. Negara ini masih labil, negara ini belum benar-benar siap dengan keadaan SDM yang ada. Terlalu banyak parpol, ormas yang hanya mencari keuntungan untuk golongan, terlalu banyak pemikiran, sudah tentu nepotisme dan nilep anggaran pada proyek-proyek swasta. Juga lembaga-lembaga yang keberadaannya ternyata tidak begitu berdampak bagi kemajuan bangsa, khususnya Lembaga Perwakilan Rakyat. Peraturan-peraturan yang didukung penuh oleh rakyat justru selalu diperlambat, bahkan tidak ada lampu hijau untuk di Acc. Lantas, rakyat mana yang mereka wakili? Nyatanya keadilan hanya untuk kawan sesama pejabat, atau kawan sesama koruptor? Ups. Hukum tumpul ke bawah, tidak berlaku bagi pemangku jabatan atau mereka yang telah membantu untuk naik kursi kekuasaan. Selalu saja, "semua demi kemajuan bangsa" menjadi tameng untuk mengeruk kekayaan alam, lebih parahnya lagi eksploitasi tanpa perbaikan. Namun kesejahteraan rakyat, utamanya mereka yang terdampak langsung dari proyek-proyek yang ada sangat perlu dipertanyakan. Bukan hanya tidak layak, kondisi kehidupan mereka sangat menyayat hati dan perasaan.
Jangankan negara, di lembaga kecil saja budaya ini masih merajalela. Bahwa bukan hanya atasan saja yang harus dibenahi, tapi juga pola pikir rakyatnya. Demokrasi seakan hanya dijadikan tumpangan sebagai alasan untuk mencari keuntungan agar dapat dimenangkan. Tidak sesuai keinginan golongan, maka dianggap, "Demokrasi kita telah disandera." Alah, alibi!
Kita belum siap dengan Sistem Demokrasi
(Maaf politik dulu, saya sudah muak!)
Gelap.
Semua suara yang ramai kami dengungkan itu, cuma jadi gemuruh tak penting saja, kah?
Segala petisi hingga aksi yang mati-matian kami gaungkan di penjuru laman media hingga jalanan, hanya kau anggap pembuat onar saja, hah?
Berdarah-darah emak bapak, om tante, pakde budeku memperjuangkan reformasi bertaruh nyawa, tapi justru di tanganmulah demokrasi kembali terbujur kaku kau tikam ambisi berkali-kali. Memuakkannya lagi, alasanmu adalah atas nama rakyat.
Apa? Apa lagi kegaduhan yang hendak kau rencanakan? Belum cukup gelap kabar berita penuh duka di lini masamu itu? Ah, iya. Tontonanmu mungkin sebatas inspirasi joged, model beragam senjata tercanggih, dan juga kesuksesan negeri-negeri tetangga yang mau kau tiru tanpa belajar itu.
Kalau-kalau ibu pertiwi sekarang menyaksikan huru-hara negeri ini, pastilah ia sedih dan geram. Semua lagu-lagu syahdu tentangnya itu kini hanya jadi lagu pengantar tidur yang semu.
Sebenarnya, tak banyak yang kami minta. Penuhi saja dulu hak-hak kami sebagai rakyat. Eh, boro-boro dipenuhi, hak kami justru dipangkas dan dicuri, lalu kami yang sedang menuntut hak kami ini dibilang pembangkang tak tahu diri yang tak nasionalis. Heh! Ringannya lidahmu itu diatas kesengsaraan kami.
Sekarang seperti percuma saja. Apapun yang kami lakukan, toh kamu akan tetap ngeyel memenuhi maumu dengan kawan-kawan terkenalmu itu.
Para tokoh akademis kau abaikan, jalur ilmiah kau kesampingkan, lantas malah dengan bangga berlagak pahlawan kesiangan yang seolah menyelamatkan dan menumpas semua masalah. Padahal kalau kau mau sedikit saja membuka mata, telinga, dan hati nuranimu yang mulai membusuk itu, kau akan melihat dirimulah tokoh utama penyebab porak-porandanya bangsa kita.
Ah, iya, tentu kau tak merasa demikan, kan? Konstitusi negeri ini saja kau kangkangi demi posisi RI tertinggi, mana ada itu malu dan instrospeksi diri di kamus hidupmu?
Aku marah sekali. Tapi aku lebih marah lagi karena kemarahan ini tentu tak akan sampai padamu. Siapa pula aku, hanya sapi perah yang bekerja untuk menyetor pajak ke pundi-pundi jarahanmu. Aku satu diantara beratus juta lainnya yang serupa. Kalau kau hutang, seluruh rakyat menanggung. Tapi kalau kau butuh mengobrak-abrik isi undang-undang, cukup kau undang saja kawan-kawan oportunismu itu untuk menginap barang dua malam di tempat elit sambil mengobrol dan menggubah sana-sini. Satu-dua hari corat-coret revisi, besok pagi ketuk palu dan sim salambim, jadi seperti yang kau mau.
Ah. Muak. Muak sekali aku. Pekerjaan negeri ini masih banyak yang perlu dan prioritas, tapi mengapa konsentrasi petinggi-petinggi yang dikata elit itu justru membuat rakyat semakin tercekik dalam kesulitan?
Malam ini masuk 10 hari terakhir Ramadhan, dan sepertinya ini adalah Ramadhan pertama dimana banyak doa-doa kulangitkan untuk negeri ini beserta seluruh rakyat yang jadi tumbal kekuasaan serakah para tirani.
Jaga kanan dan kiri kalian. Terima kasih sudah berjuang. Lawan sampai MENANG!
📷 by kittenfuwr on Twitter 🫂🩷
Design by me!
Indonesia is still fighting for justice