Boleh mencintai, cukup sadari bahwa ia tidak akan kembali, dan pahami untuk tetap bahagiakan diri
Untuk saat ini, sepertinya memang harus mulai terbiasa memahami bagaimana diri sendiri, apa yang sebenarnya benar-benar dibutuhkan oleh diri untuk berbahagia setidaknya dengan cara sederhana.
Harus mulai terbiasa tanpa seseorang yang pernah kita anggap istimewa, seseorang yang pernah turut serta mengisi hari-hari kita.
Jika kepergiannya adalah salah satu alasan yang menjadi sebab tertahannya senyum manis dari sudut bibir tulusmu hingga saat ini, semoga kamu memang harus menyadari dan mulai belajar menerima kepergiannya--memaafkan kesalahan dirinya terutama kesalahan dirimu sendiri.
Tak apa untuk merasa bahwa kamu menyesal. Tak apa untuk merasa bahwa kepergiannya adalah sebab kecerobohanmu. Karena, setidaknya kamu tahu bahwa kamu masih punya hati nurani. Kamu sungguh-sungguh atas semua perasaanmu kepada manusia yang Kamu sayangi. Kamu punya rasa peduli yang teramat tinggi. Kamu berhak sedih ataupun bahagia.
Sadari satu hal, bahwa cinta itu tiada pernah memaksa. Dengan mengikhlaskan dia bahagia dengan apapun pilihan dalam hidupnya, itu adalah sebenar-benar cinta yang sesungguhnya. Aku tahu, sayangmu padanya sangat begitu tulus. Namun, jangan sampai melupakan cinta pada diri sendiri sehingga lupa bagaimana caramu untuk berbahagia. Sebab, esensi cinta itu tidak memihak-tidak pilih kasih. dirimupun bisa cemburu dengan dirimu sendiri lantaran cintamu kamu berikan penuh pada manusia lain.
Cukup tahu bahwa cintamu padanya itu memang masih ada, dan cukup sadari bahwa cintamu baginya tak lagi di anggapnya ada.
Tubuhmu butuh asupan bahagia. Mari, mulai temukan kebahagian sederhana itu dengan memaafkan setiap trauma yang pernah menghantuimu hingga kini. Mengikhlaskan dan menerima setiap apapun kejadian yang telah terjadi—baik kepergian ataupun kehilangan. Karena, barangkali dengan mulai menerima setiap kejadian dan itu memang harus, bisa jadi itu adalah sebab hadirnya kelapangan hati atas apapun yang telah berlalu terjadi.
-Temusukma













