Menjelang tidur kemarin, saya browsing-browsing dulu ceritanya. Eh pas buka youtube, ketemu vlognya Kak Faldo yang menginterview Uda Rhevy. Jadi Uda Rhevy ini adalah suaminya Kak Dewi Nur Aisyah, yang mana mereka berdua ini adalah PhD couple di Inggris. Buat saya, mereka adalah salah satu inspiring couple karena mampu produktif berkarya di bidang keilmuan, tanpa melupakan perannya masing-masing baik sebagai suami-istri, ayah-ibu, mahasiswa PhD, dan hamba Allah.
Sebenernya obrolan tersebut sederhana, membahas bagaimana pembagian peran masing-masing dalam keluarga, terutama ketika setelah memiliki anak. Juga mematahkan anggapan kalo menikah menghalangi cita-cita. Dengan izin Allah mereka berdua ini adalah salah satu pasangan suami istri tetap bisa berkarya, bisa sekolah bareng, bisa membesarkan anak bareng (tanpa pengasuh, masyaAllaah) dll. Memang pasti akan ada banyak pengorbanan yang dilakukan ya didalamnya.
Tapi dibalik semua itu, yang jadi pelajaran untuk saya adalah bagaimana pasangan ini menjadikan semua landasan dan keputusan yang diambil berdasar Qur’an dan Sunnah. Bagaimana setiap kesulitan atau kemudahan dihadapi dengan penuh kesabaran, kesyukuran, ikhtiar terbaik dan doa yang tak putus. Apa-apa dikembalikan ke Quran dan hadits, kepada contoh terbaik yakni Rasulullaah saw. Keluarga bagi mereka adalah sarana untuk berfastabiqul khairat; berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba-lomba menjadi partner terbaik karena Allah. MasyaAllah.
Satu hal yang paling saya highlight ketika Kak Faldo menanyakan tentang perjalanan S2 uda Rhevy yang mana beliau ini mempersiapkan kemampuan bahasa inggrisnya langsung di Inggris karena menemani Kak Dewi yang sudah duluan kuliah di ICL. Alasan beliau adalah karena sebaiknya wanita pergi bersafar ditemani dengan mahromnya, juga agar suami-istri ini bisa tenang menjalani hidup dan studinya masing2. Dan hasilnya? Kini keduanya tetap bisa mereguk nikmatnya menuntut ilmu bersama; berprestasi melalui konferensi nasional-internasional, publikasi, juga memberikan kemanfaatan dengan ilmu yang ditimba melalui project nasional dan internasional. Huu, masyaAllaah.. aturan islam sesungguhnya tidak membuat kita berhenti berkarya. Memang adanya aturan membuat gerak kita terbatas, tapi bukan berarti menjadi berhenti untuk produktif berkarya. Aturan islam tidak dirancang untuk membatasi kebajikan. Adanya aturan diciptakan untuk kebaikan kita sendiri dan mungkin sebenarnya gak ada hubungannya dengan amal kebajikkan yang kita akan jalani. Amal kebajikkan dan berkarya akan tetap bisa berjalan dengan mematuhi aturan Allah. Allah akan mudahkan ketika niatan lurus untuk hanya mencari keridhoanNya. Maka kuncinya memang adalah yakin kepada Allah, that’s it!
Dalam suatu sesi seminar talkshow dengan bernarasumber Kak Dewi, ada seorang penanya yang kalo saya gak salah bertanya tentang waktu luang. Kalo Kak Dewi punya waktu luang, kira2 apa yang akan dilakukan? Lalu beliau menjawab kurang lebih seperti ini :
“Saya dan suami bersepakat kalo ada waktu luang, kami akan daftar kelas tahfidz Al-Quran dan bahasa arab, karena dulu sempat ikutan. Tapi qadarullah, memang untuk saat ini sepertinya memang belum memungkinkan. Kalo kita punya waktu luang, sebenarnya peluang kebaikan itu banyak banget. Bisa ikut kegiatan-kegiatan sosial misalnya, daftar kelas tahfidz, kelas bahasa arab dan banyak kegiatan lainnya. Letak poinnya ada di kemauan aja. Mau atau enggak kitanya..”
Dari kedua pasangan ini saya belajar bahwa ketika Allah menjadi tujuan dan Rasulullah menjadi role model terbaik, maka tak usah takut melangkah lebih jauh untuk berkarya. Aturan Allah tidak pernah membuat berhenti untuk berkarya dan berbuat kebajikkan, meski ada batas-batas yang harus dipatuhi. Menghafal Quran dan bermanfaat melalui ilmu bukan hal yang saling meniadakan; menjadi Ibu/istri serta bermanfaat di ranah publik bukan hal yang saling meniadakan selama tugas utama tetap bisa tertunaikan. Semua insyaAllah bisa dijalani selama niatan lurus karena Allah, disertai doa yang tulus serta usaha yang maksimal. Akan lelah pasti, tapi setiap lelah sungguh tak akan disia-siakanNya.
Alhamdulillah.. Maha Baik Allah yang masih menurunkan banyak hikmah dari insan-insan yang shalih ini :)