Adapun hal demikian juga dialami oleh laki-laki, dikutip dari buku Dosa-Dosa yang Sering Tidak Disadari Kaum Wanita berkenaan dengan kesalahan dalam rumah tangga dan hubungan suami istri, di mana istri tidak taat kepada suami, membantah dengan kasar, mengangkat suara (berteriak) di hadapan suami, mengingkari kebaikannya dan selalu mengeluhkan suami baik dengan sebab atau tanpa sebab.
Diriwayatkan dari bibinya Hushain bin Muhshan, "Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk beberapa kepentingan, lalu beliau bertanya, 'Ada apakah ini, apakah kamu memiliki suami?' Aku menjawab, 'Ya.' Beliau bertanya, 'Bagaimana (sikap) kamu kepadanya?' Dia menjawab, 'Aku tidak melalaikannya (aku memberikan haknya), kecuali apa yang tidak mampu aku penuhi.' Beliau bersabda, Di mana posisimu darinya (dekat dan penuh cinta atau jauh lagi ingkar)?' Karena suami itu adalah surga atau nerakamu'." (HR. An-Nasa'i dan disahihkan oleh al-Albani dalam Adab az-Zifaf, 213)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda, "Sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu sudah aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad, disahihkan oleh al-Albani)
Hal ini sebagai wujud penghargaan serta penghormatan atas haknya. Sebab tidak diperbolehkannya sujud kepada sesama manusia maka wajib bagi seorang istri untuk berterima kasih atas segala bimbingan dan kebaikan suaminya sehingga hendaknya dia menaatinya kecuali dalam perkara maksiat.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal dia selalu merasa butuh kepadanya." (HR. An-Nasa'i)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, "Ada tiga orang yang salat mereka tidak (terangkat kepada Allah) melebihi telinga mereka: (pertama), seorang sahaya yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali. (Kedua), seorang perempuan yang tidur di malam hari sementara suaminya marah kepadanya. Dan (ketiga), seorang imam bagi suatu kaum sementara mereka tidak suka kepadanya." (HR. At-Tirmidzi, no. 360 dan dihasankan oleh al-Albani)
Sebaliknya, Allah Subhanahu Wata'ala telah menyiapkan balasan pahala yang besar bagi seorang perempuan yang berusaha sekuat tenaga agar dia tidur dalam keadaan suaminya rida kepadanya, hingga sekalipun dia dizalimi dan suaminya yang keliru dalam haknya.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Maukah aku kabarkan kepada kalian istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga? Yaitu perempuan yang banyak anak, penuh cinta dan kembali (meminta maaf, apabila merasa bersalah) yang apabila melakukan suatu kezaliman atau dia yang dizalimi (oleh suaminya) dia berkata (kepada suaminya), 'Ini tanganku di tanganmu, aku tidak akan bisa tidur sekejap mata pun hingga engkau rida (kepadaku)'." (Dihasankan oleh al-Albani dalam sahih al-Jami', no. 2604)
Dan sungguh telah datang suri teladan bagi seorang suami, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau adalah orang yang paling bagus dalam memperlakukan keluarganya, sebagaimana dalam sabdanya, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik terhadap wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau telah mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik terhadap wanita." (HR. Al-Bukhari)
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda, "Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah, sebab jika ia membenci salah satu perangainya, maka ia akan rela dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim)
Hal ini merupakan bentuk kebaikan dalam hubungan suami istri, sebab sikap toleran terhadap sebagian kesalahan dan kekurangan yang dilakukan oleh istri dan mengingat kebaikannya akan menjamin langgengnya dalam kehidupan berumah tangga.
Sebagaimana dalam QS. An-Nisa': 19, "Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
Dikutip pula dari buku Risalah Nikah bahwa Islam tidak rela salah satu dari suami dan istri bahagia di atas penderitaan atau kehinaan yang lain, karena kedua mempelai tidak menyambung tali pernikahan kecuali untuk saling membantu dalam membentuk kehidupan yang sukses.
Oleh sebab itu, hak dan kewajiban rumah tangga ditetapkan oleh Islam terhadap suami istri, ada hak-hak yang harus ditegakkan oleh suami dan hak-hak yang harus ditegakkan oleh istri lalu ada pula hak-hak yang harus ditegakkan secara bersama-sama.
Di antaranya: suami dan istri harus bekerja sama secara baik dalam rangka mewujudkan suasana tenang dan gembira serta berusaha semaksimal mungkin menjauhkan perkara-perkara yang mendatangkan keburukan dan kesedihan.
Sebagaimana yang dikatakan Abu ad-Darda radhiyallahu 'anhu ketika berkata kepada istrinya, "Jika kamu sedang melihatku dalam keadaan marah, maka carilah sesuatu yang bisa menyenangkanku, dan jika aku melihatmu sedang marah, maka aku akan mencari sesuatu yang bisa menyenangkanmu, dan bila tidak seperti itu, maka kita tidak usah berkumpul saja."
Hal demikian dilakukan demi memberi ruang bagi satu sama lain untuk meredakan emosi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti berkata kasar atau hingga memukul.
Untuk itu keduanya harus bekerja sama dalam mewujudkan suasana yang kondusif dan damai agar tercipta kehidupan bahagia bersama.
Demikian perlu diketahui bahwa,
"Akhlak vital dalam berumah tangga adalah kelemah lembutan." - Ust. Aris M hafidzahullah
Semoga dimampukan dalam menjalaninya :)