Ketika kisahku dan elegi hatimu bertemu, senada dengan kopi panas dan sebuah buku favoritku, aku bahagia merasakanya. • Tak perlu aku menjadi seseorang yang lain untuk terlihat baik-baik saja. Matamu selalu menyiratkan bahwa kau akan selalu ada. Hadir menjadi sayap sekaligus rumah yang untukku merebah lelah. • Dibalik segenap kepercayaanku pada takdir, yang hingga saat ini masih kunanti kisah endingnya, aku hanyalah setitik cahaya di antara ribuan kunang-kunang yang mengitari kepalamu. Yang kepakan sayapnya kemungkinan kecil bisa kau lihat, atau bila kau mau mendengar pun, suaranya tak akan sampai ke telingamu. • Namun, takdir membawaku ke jalan itu. Merubahku menjadi cahaya api yang lebih terang ketimbang kunang-kunang. Yang bisa menerangi jalanmu meski tak seterang bulan. Yang bisa menghangatkanmu meski tak seterik mentari. Aku ada dekat di sampingmu, di genggaman tanganmu, ke mana pun kau pergi. • Aku bahagia, setidaknya sejak sore itu, aku tak lagi berharap menjadi yang paling terang di antara ribuan kunang-kunang. Aku tak perlu berharap kau menganggapku seperti yang lalu. Kau dengan sendirinya datang, menggandeng tanganku, membawaku menyelami elegi dari hatimu. • Kau membawaku, menyusuri jalan setapak yang banyak di tumbuhi ilalang, yang terkadang di sisi kanan kiri daun nya menyayat tiap inci kulit. Tapi kau malah nampak gembira, sebab kau membawaku katamu. Jadi bagimu aku adalah sumber bahagiamu hingga luka lain pun tak kau anggap masalah. • Aku bahagia, sebab mulai saat ini, Tak perlu lagi ku pintal lembaran kisahku tuk kujadikan sumbu sebagai cahaya. Karena aku lah cahaya, dan kau pembawa cahaya itu agar tetap terang menerangi jalanmu, jalan kita.
Aku menyukai Kamu, ahh maksudku.. Kita😊😊
















