Subversive stories set in Indonesia and inspired by horror, myth and fairytales. For #WomenInTranslation month: 🍎 Apple and Knife by #IntanParamaditha. #WITMonth [📷: @glaiza_echo]
seen from Jordan
seen from Nigeria

seen from Russia
seen from China
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Russia
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States

seen from Guatemala
seen from China
seen from Canada
Subversive stories set in Indonesia and inspired by horror, myth and fairytales. For #WomenInTranslation month: 🍎 Apple and Knife by #IntanParamaditha. #WITMonth [📷: @glaiza_echo]
Mari Bicara tentang Malam Seribu Jahanam
Judul Buku : Malam Seribu Jahanam
Penulis : Intan Paramaditha
Tebal : 355 Halaman
Terbit : Juni 2023
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
"Ini dongeng tentang mereka yang gagal, berutang, berubah rupa. Dan dalam pencarian kita bertanya tentang hal-hal sepele, sebab segala yang lembut dan halus luput dari genggaman, seperti adik kita."
Pada tanggal 15 Juli 2023 silam, saya pernah mengirimkan postingan di X (sumpah saya benci sekali nama baru ini) bahwa Malam Seribu Jahanam merupakan buku terbaik yang saya baca tahun ini. Sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih belum menemukan buku lain yang berhasil mengalahkan posisi tersebut di hati saya. Lewat tulisan ini mungkin kamu akan menemukan alasan mengapa, atau mungkin juga tidak. Karena ketika mengoceh lewat tulisan, saya punya tendensi untuk gagal fokus dan seringkali melenceng dari topik yang sebenarnya ingin saya sampaikan.
Jadi, buku ini mengisahkan tentang tiga cucu perempuan Hajjah Victoria binti Haji Tjek Sun, yang saat mereka kecil sering berkunjung ke rumah nenek mereka ketika musim liburan tiba. Cucu-cucu perempuan ini tinggal di Jakarta, sedangkan Hajjah Victoria tinggal di Tanjung Karang, Lampung, di Rumah Victoria yang diyakini masyarakat sekitar berhantu.
Suatu hari saat terbaring sakit, Hajjah Victoria meramal ketiga cucunya, cucu pertama akan menjadi penjaga, cucu kedua akan berkelana, dan cucu ketiga akan menjadi pengantin.
Berpuluh tahun kemudian, ketiga cucu menjalani takdirnya seperti yang diramalkan sang nenek. Cucu pertama, Mutiara merawat Papa yang terbaring di rumah sakit, Maya si cucu kedua berkelana sampai ke luar negeri bersama buku-bukunya, dan Annisa sang cucu ketiga menjadi seorang pengantin.
Sebuah tragedi yang berakar dari sang pengantin membuat kedua cucu yang lain harus menoleh ke belakang, melihat kembali kenangan-kenangan masa kecil mencari tahu titik awal dari segalanya.
Sejatinya buku ini berkisah tentang keluarga, dengan segala drama dan ketidaksempurnaannya. Namun yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca dan terpaku unutk tetap menikmati kalimat demi kalimat yang dirangkai penulisnya adalah betapa beragamnya isi buku ini, selayaknya sebuah keluarga. Terkadang kamu akan menemui referensi dari Kitab Suci, atau dongeng-dongeng, atau mitos yang dipercaya turun-temurun, namun tak lantas membuat buku ini menjadi jenis novel yang surealis, karena kisah yang diceritakan nyata adanya, dan bisa saja terjadi di sekitar kita.
Hal yang paling mencolok ketika mulai membaca adalah gaya bahasa penulisnya yang khas yang pernah saya temui di karya-karya sebelumnya yang pernah saya baca, saya merasakan kelugasan dari diksinya tapi juga sekaligus tetap terasa puitis.
“Di depan televisi, bisa kudengar detak jantungku, makin kencang, mengancam. Lututku oleng, sendi-sendiku seperti bergeser, kerangka penopang daging dan ototku seolah goyah, terkikis pelan-pelan. Orang-orang di sekitarku tampak ganjil, mulut mereka terbuka dan tertutup perlahan seperti ikan, lambat, mengejek.”
Saya harap kutipan di atas berhasil menggambarkan apa yang saya maksud, lihatlah bagaimana penulisnya menggambarkan keadaan batin, sekaligus suasana sekitar lewat sudut pandang tokohnya.
Hal lain yang tak kalah membuat saya kagum adalah bagaimana penulisnya mampu menjelma menjadi bentuk apa saja untuk bercerita. Sebagai Mutiara, anak pertama yang punya tanggung jawab besar sebagai sang Penjaga, atau Maya yang selalu ingin bertualang bebas mengikuti kata hatinya namun juga sering merasa bersalah terhadap kealpaannya sebagai anggota keluarga, lewat artikel, berita, surat yang ditulis Annisa, komentar-komentar netizen yang juga berhasil menyenggol fenomena warganet di media sosial, dan yang paling saya suka adalah kejutan bahwa penulisnya juga menyimpan seorang narator misterius. Sosok yang diam-diam mengamati semua hal, seorang pendongeng ulung yang tahu banyak hal yang nantinya akan menambal lubang-lubang cerita, menjawab tanya di benak pembaca. Benar-benar brilian.
Membaca buku ini seperti sedang melakukan sebuah perjalanan lintas waktu di mana kita sebagai pembaca diajak untuk mengintip proses kehidupan dari masing-masing tokohnya, peristiwa-peristiwa yang membentuk pribadi mereka menjadi seorang manusia yang utuh. Peristiwa-peristiwa yang menjelaskan sebab-akibat. Peristiwa-peristiwa yang mampu membuka mata pembaca untuk melihat kejadian-kejadian yang dikisahkan dari perspektif lain. Perspektif (yang saya harap kamu yang sudah membacanya juga setuju) mencerahkan. Setelah menutup buku ini, ada rasa lega yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang menyelimuti saya. Ada luka yang mengering dan berangsur sembuh, luka bagi tokoh-tokohnya atas tragedi yang menimpa mereka, boleh jadi juga itu lukamu. Siapa tahu?
"Setan telah menghasut adikku dan kini mungkin ia telah masuk ke dalam kupingku. Aku tak tahu Islam macam apa yang kau anut, Annisa; bagimu agamamu dan bagiku agamaku, lakum diinukum wal liya diin. Namun, sungguh, aku tak tahan untuk bertanya: Kenapa, adikku? Dan ayat mana yang kau baca sebelum kau bunuh orang satu kampung?"
Kita butuh cerita-cerita manusiawi macam ini supaya kita tetap waras. Dunia ini tak hanya dihuni oleh orang-orang beringas.
Gentayangan (Intan Paramaditha)
Kadang-kadang aku melihat setitik harapan, bahwa suatu saat ia akan kembali. Mungkin ia tak akan pulang, kepadaku, atau ke mana pun. Perjalanan ternyata juga sebuah ruang tunggu.
Gentayangan (Intan Paramaditha)
Aku membayangkanmu berkendara seperti perempuan-perempuan merdeka.
Gentayangan (Intan Paramaditha)
Jika seseorang gagal mati sebagai legenda di umur 27, ia tak punya pilihan selain memastikan hidupnya tak kelewat busuk.
Gentayangan (Intan Paramaditha)
Perempuan tak seharusnya menggantikan tempat perempuan (atau laki-laki) lain yang lebih ideal namun tak tergapai.
Gentayangan (Intan Paramaditha)
Nyaman, karena kau tidak mencintainya, tetapi ia memberimu ruang.
Gentayangan (Intan Paramaditha)