Account Software For Hajj by @hrsoftbd
seen from Japan

seen from France
seen from China
seen from Italy
seen from Japan

seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from China
seen from South Korea
seen from China

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Russia

seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from China
Account Software For Hajj by @hrsoftbd
The Quiet Rise of Companions Who Have a History
Spend an afternoon watching people set up an AI girlfriend on sweetdream.ai and you notice something unexpected. They linger. Before they ever start a conversation, they are deciding whether she grew up by the sea or in some loud city, whether she is the type to text first or wait. The character builder on SweetDream invites that kind of patience, letting users shape looks, voice, temperament and an actual backstory rather than picking from a thin menu of presets.
What stands out, observationally, is how much the backstory changes the chat itself. Because SweetDream's conversations are emotionally intelligent and remember context, a companion with a defined past starts referencing it on her own, the way a real person carries their history into a relationship. The effect is subtle the first day and striking by the second week.
Plenty of platforms promise an AI companion. Tools like candy.ai and ourdream.ai have their followers. But the people I watched kept returning to SweetDream specifically because the personality felt authored, not assembled, and because everything they built stayed entirely private.
Account Software For Hajj by @hrsoftbd
Account Software For Hajj @hrsoftbd https://hrsoftbd.com/service-details/account-software-for-hajj
Unrestricted Investment Accounts
cited from : Bahrain Monetary Agency Rulebook, Islamic Banks: Glossary of Defined Terms (2006)
by Central Bank of Bahrain
With this type of account, the investment account holder authorizes the Islamic bank to invest the account holder’s funds in a manner which the Islamic bank deems appropriate without laying down any restrictions as to where, how and for what purpose the funds should be invested. Under this arrangement the Islamic bank can commingle the investment account holder’s funds with its own funds or with other funds the Islamic bank has the right to use. The investment account holders and the Islamic bank generally participate in the returns on the invested funds. Unrestricted participating investment bonds and any other accounts that are of similar nature are equivalent to unrestricted investment accounts.
Islamic Accounting for Social Welfare Event (11-13 November 2015)
#Day1: Paper Conference
Wednesday, 11 November 2015 at Djarum Hall, Pertamina Tower Lt. 6, FEB UGM
Hari pertama agendanya presentasi 8 paper terpilih yang akan dipilih untuk dimasukkan dalam Journal of Islamic Economics and Business “Muamalah”. Presentasi papernya terbagi dalam 2 sesi. Masing-masing sesi menampilkan 4 paper. Berhubung saya datangnya telat karena paginya ada kuliah jadinya cuma lihat presentasi sesi 2. Yang saya pelajari adalah, skripsi maupun tesis ternyata bisa diikutkan untuk lomba paper tentunya dengan dimodifikasi lagi. Terus yang paling penting adalah kalau nulis paper tentang syariah, khususnya tentang akuntansi syariah, jangan lupa mengambil landasan dari Al-Qur’an. Karena kita punya pedoman yang jelas, maka terkait muamalah yang telah dijelaskan di Al-Qur’an juga haruslah dicantumkan dalam riset kita. Landasan teori dari Al-Qur’annya harus ada, begitu kata Pak Sony Warsono yang memberikan komentar untuk 4 artikel di sesi kedua.
#Day2: International Seminar “Syariah Accounting for Social Welfare”
Thursday, 12 November 2015 at Bulaksumur Hall, University Club Hotel UGM
Hari kedua ini seminar internasional yang dibuka oleh Dekan FEB UGM, dilanjutkan dengan Keynote Speech dari Prof. Dr. Bambang Sudibyo (Chairman of BAZNAS, Accounting Professor at FEB UGM) yang menjelaskan tentang “Islamic Accounting for Social Welfare. Beliau menjelaskan bahwa potensi zakat di Indonesia bisa mencapai 217T. Sistem manajemen dan distribusi zakat yang baik dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia.
Setelah itu dilanjutkan dengan sesi pertama tentang “Islamic Accounting for Social Welfare: Issues & Challenges” disampaikan oleh Prof. Roszaini Haniffa (Professor at Heriot Watt University, UK) dan Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono (Professor at FE UNAIR).
yang mau download materi presentasi sesi 1 bisa melalui link dibawah ini:
Download Materi dari Prof. Roszaini Haniffa
Download Materi dari Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono
Setelah ishoma, dilanjutkan dengan sesi kedua tentang “Syariah Accounting Standards” disampaikan oleh Dr. Muhammad Hudaib (Reader at University of Glasgow, UK) dan M. Jusuf Wibisana (Chairman of Sharia Accounting Standards Board, IAI).
yang mau download materi presentasi sesi 2 bisa melalui link dibawah ini:
Download Materi dari Dr. Muhammad Hudaib
Download Materi dari Bapak M. Jusuf Wibisana
#Day3: Workshop on Research Topics in Islamic Accounting, Ethics, and Governance
Friday, 13 November 2015 at Djarum Hall, Pertamina Tower Lt. 6, FEB UGM
Hari terakhir membahas tentang topik untuk riset akuntansi yang disampaikan oleh Prof Roszaini Haniffa dan Dr. Muhammad Hudaib. Hari terakhir ini ngebuka pikiran banget. Mulai dari topik-topik riset yang dulunya ga kepikiran, sampai metode-metode risetnya. Beberapa hal yang saya catat adalah:
Pikirkan topik yang masih relevan dalam 3 tahun kedepan, dalam artian tidak akan ada yang meriset hal yang sama dalam 3 tahun kedepan.
Take your own language. Jangan fokus sama artikel-artikel dari luar dan Amerika yang yang kadang cuma direplikasi dan ga sesuai sama society di negara kita. Bring some new value.
Research about microfinance. Dulu ga kepikiran kalo tentang ”jamu” bisa dijadiin riset, tentang karakteristik pekerjanya dan manajemennya. Hal-hal lain seperti bisnis travel umroh dan haji plus, bisnis rumah makan padang, bahkan bisnis hotel islami juga bisa dijadiin topik riset.
Think of something very interesting. Perbanyak membaca dan harus fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perubahan.
Buat riset yang unik. Apa yang unik? Apa yang bisa dikontribusikan dari riset kita? dan pikirkan judul yang menarik.
Untuk mendapatkan data, perbanyak jaringan dan pelajari skill untuk interview orang-orang yang potensial.
Semoga nantinya bisa menghasilkan riset yang dapat berkontribusi dalam perkembangan ilmu akuntansi syariah. Semangat :)
Yogyakarta, 19 November 2015 | annisafithria
KNKEI hari ini~
Satu minggu sebelum knkei berakhir, hari ini, topik bahasannya lumayan banyak. Di sesi pertama membahas tentang Obligasi Syariah dan Reksadana Syariah, sedangkan di sesi kedua membahas tentang Akuntansi Wadi'ah, Qardh, dan Rahn.
Mungkin tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Obligasi Syariah dan Reksadana Syariah, kurang lebih sistemnya sama dengan yang konvensional, namun tentu berbeda dari sisi akad yaitu di syariah menggunakan akad mudharabah, sedangkan di konvensional tidak menggunakan akad. Selain itu, kalau obligasi kovensional menggunakan bunga kupon, maka obligasi syariah menggunakan sistem bagi hasil atau uang sewa atau fee.
Yang menarik di knkei hari ini adalah saat sesi kedua, yang dibawakan oleh Bapak Arief Bachtiar. Beliau yang sudah mengantongi 5 sertifikasi, yang salah satunya adalah Sertifikasi Akuntansi Syariah (SAS), yang saya baru tau kalau ada sertifikasi seperti itu di Indonesia. Wajar mungkin ya, karena yang sudah mendapatkan sertifikasi itu di Indonesia baru 70 orang, di Jogja sendiri baru 5 orang dan salah satunya adalah beliau. Beliau yang lulusan S2 dari salah satu universitas di Amerika, sejak S1 dan S2 tidak pernah mempelajari ekonomi Islam dan akuntansi syariah, kini berbalik arah. Saya terkesan dengan cerita beliau mengenai ujian yang diberikan Allah yang saya rasa itu adalah bentuk rasa cinta Allah yang ditunjukkan dengan memberikan beliau penyakit yang membuat beliau menyadari bahwa selama ini ada yang salah dari yang beliau pelajari. Beliau mulai menyadari bahwa selama ini beliau hanya mempelajari ilmu kapitalis dan mengabaikan sisi-sisi syariah. Lalu beliau kini memperdalam tentang ekonomi Islam dan akuntansi syariah tersebut. Mendengar cerita beliau tersebut, saya jadi semangat. Awalnya saya sempat berpikir bahwa sangat sulit untuk bisa memahami dan menguasai akuntansi syariah karena tidak mendapatkan basic saat di S1, pun di S2 ini saya tidak mendapatkan materi tentang akuntansi syariah kecuali saya mengikuti seminar-seminar dan kajian di luar kelas yang berhubungan dengan ekis khusunya akuntansi syariah. Ternyata beliau bisa menjadi seorang ahli akuntansi syariah walaupun tidak punya basic syariah dari S1 dan S2nya. Selama kita mau belajar insyaAllah ada jalannya 😊😊
Terkait dengan materi yang disampaikan beliau hari ini, beliau membahas tentang Akuntansi Wadi'ah, Qardh, dan Rahn. Wadi'ah (Titipan) itu terbagi dua, yaitu wadi'ah yad amanah dan wadi'ah yad damanah. Dalam Wadi'ah yad amanah, bank tidak boleh menggunakan sesuatu yang dititipkan tersebut dan biasanya bank juga tidak memberikan bonus. Sedangkan dalam wadi'ah yad damanah, bank (yang dititipi) boleh menggunakan sesuatu (yang dititip). Jika setelah menggunakan sesuatu (yang dititip) itu banknya mendapatkan keuntungan, maka bank boleh saya memberikan bonus kepada yang menitip. Tapi bonus ini sifatnya tidak wajib dan tidak ditentukan dan tidak ada perjanjian di awal. Wadi'ah itu dapat berbentuk giro dan tabungan. Kalau di neraca, wadi'ah termasuk dalam liabilities. Pihak yang dititipi menganggap sesuatu yang dititip sebagai hutang dan ada kewajiban untuk mengembalikan tanpa mengurangi sedikitpun dan penitip berhak mengambil titipannya kapanpun.
Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang perbedaan antara ibadah dan muamalah. Dimana ibadah itu merupakan semua yang dilarang kecuali yang diperintahkan. Porsi yang diperintahkan lebih sedikit daripada yang dilarang. Sedangkan muamalah merupakan semua yang diperbolehkan, kecuali yang dilarang. Porsi dilarangnya lebih sedikit daripada yang diperbolehkan. Seharusnya kita bisa menjauhi hal-hal yang dilarang ini yaitu MAGHRIB (maysir, gharar, haram, riba, dan bathil). Dalam alqur'an disebutkan, Allah mengharamkan riba dan menyuburkan shadaqah. Di ayat lain juga disebutkan, Allah mengaharamkan riba dan menghalalkan jual beli. Sebagai muslim, sudah seharusnya kita menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Beliau juga mengingatkan kami untuk terus belajar dan memberbaiki niat untuk menimba ilmu yang nantinya dapat bermanfaat untuk orang lain. Mengingatkan juga bahwa kita yang beriman kepada hal-hal yang ghaib seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 3, seperti yang dijelaskan oleh Prof. Bambang Sudibyo kemarin. Tugas kita saat ini adalah belajar, nantinya mau jadi apa kita serahkan sama Allah, jangan terlalu fokus dengan pencapaian-pencapaian materi, karena balasan dari Allah itu merupakan balasan yang terbaik. Balasan yang ga bisa diitung-itung dari sisi material. Selain itu, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 282, yang merupakan ayat terpanjang di Al Qur'an dan merupakan ayat tentang akuntansi, dimana dijelaskan bahwa jika melakukan suatu transaksi yang tidak tunai, maka harus dicatat (kalau bahasa akuntansinya itu dijurnal), dan dicatat oleh orang yang adil. Untuk itulah maka dibutuhkan akuntan. Profesi akuntan merupakan fardhu kifayah. Kita harus belajar menjadi akuntan yang adil, untuk menjalankan perintah Allah yang tertuang dalam surat Al Baqarah tadi. Ini juga dijelaskan oleh pemateri di seminar kemarin yang semakin menyadarkan saya bahwa seorang akuntan itu punya tanggung jawab yang cukup besar ternyata.
Apapun profesinya, semua memiliki tanggungjawab masing-masing. Tugas kita saat ini adalah belajar dan menjadi sebaik-baik umat agar nantinya dapat bermanfaat untuk orang lain. Semangat jadi akuntan yang adil! ;)
Yogyakarta, 14 November 2015 | annisafithria
Takdir
Teringatnya pernah denger kalimat ini, "kalo memang ditakdirkan Allah, pasti akan terjadi.. kalo Allah gak tardirkan itu terjadi, sekeras apapun usaha yang kita lakukan ga akan terjadi". Kurang lebih intinya seperti itu~ Nah hari ini, bener2 ngerasain takdir Allah itu. Kemarin2 sempat posting pengen ikut acara seminar internasional Islamic Accounting for Social Welfare, tapi seminarnya itu ternyata pas hari kuliah, tepatnya hari kamis, pas kuliah pak Ertambang. Awalnya udah pasrah deh ga bisa ikut karena bentrok sama jadwal kuliah, trus tetiba muncul ide buat memberanikan diri minta pindah jadwal kuliah dan ternyata bapak ga masalah kalo jadwal kuliahnya diganti. Masalah pertama selesai. E tapi ternyata setelah dikonfirmasi ke temen2 sekelas, ada 1 temen yang ga bisa kalo kelasnya diganti, yauda deh akhirnya ikhlasin ga jadi pindah jadwal dan ngabarin ke pak Er kalo ga jadi minta pindah. Yah, setidaknya udah merelakan bakalan kehilangan 1 sesi yang bakalan diisi sama pak Bambang Sudibyo. Nah ajaibnya, Allah berkehendak lain, tetiba tadi pagi dapet sms dari akademik kalo kuliah kamis ini sama pak Er itu dikosongkan alias libur, itu artinya bisa ikut seminar full day tanpa kehilangan 1 sesi pun. Rencana Allah memang luar biasa.. saya yang udah rela kehilangan 1 sesi, tapi Allah ngasi kesempatan buat datang full sesi. Nah itu, kalo Allah uda takdirin kita buat dapetin sesuatu, sebanyak apapun rintangannya pasti akan teratasi.. tapi kalo Allah udah ga izinin, sesedikit apapun rintangannya ya gak bakalan teratasi. Intinya, Allah Maha Baik. Hari ini seneng bgt abis dapet sms dari akademik, ga nyesel uda beli tiket mahal2 😂😂 Terimakasih ya Allah karena sudah membuat rencana lain untuk Pak Er dan menggerakkan hati pak Er untuk mengosongkan jadwal kamis ini.. 😊😊 Terimakasih Pak Ertambang.. dosen paling pengertian sepanjang sejarah perkuliahan di msi 😊😊 Terimakasih wing partners yang udah rela ga jadi diskusi kelompok karena nisa mau ikut seminar 😙😙 Terimakasih juga buat kelompok ASP yg rela belajar kelompok tanpa nisa, huhu, semoga nanti bisa nyusul.. terimakasih pengertiannya nailaincha 😙😙 Subhanallah.. Alhamdulillah.. 😊😊 Semoga nanti dapat banyak ilmu yang bermanfaat di seminarnya dan bisa dibagikan ke orang lain 😊 Aamiin.. Yogyakarta, 11 November 2015 | annisafithria