The largest mosque in Southeast Asia and the ninth largest mosque in the world: Istiqlal Mosque, Jakarta, Indonesia.
Location: Istiqlal Mosque
Where to find more picts: here
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil

seen from Australia
seen from Croatia
seen from United States
seen from Australia
seen from Australia

seen from Russia
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Austria

seen from United States
seen from United States
seen from Algeria
seen from United States

seen from United States
The largest mosque in Southeast Asia and the ninth largest mosque in the world: Istiqlal Mosque, Jakarta, Indonesia.
Location: Istiqlal Mosque
Where to find more picts: here
Istanbul, august 2022
Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid 📃 . 1.Dimudahkan jalannya menuju surga . Nabi SAW bersabda: . “Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani). . 2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat . Nabi SAW bersabda: . “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699) . 3. Merupakan jihad fi sabilillah . Nabi SAW bersabda: . “Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani Shahih Al Mawarid, 69). . 4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah . Rasulullah SAW bersabda: . “Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani Irwaul Ghalil, 2/101) . Tasybik adalah menjalin jari-jemari. . 5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin . Rasulullah SAW bersabda: . “Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani). . Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat untuk terus menuntut ilmu syar’i. . https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html . 📷 private collection. . #islamicart #mosque #architecture #istiqlal #tb #naimkutrip https://www.instagram.com/naim_ku/p/Bvxh0xxFfLH/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=i6ysuufpvtd6
RECONNECT WITH QURAN - Part 1
Nouman Ali Khan began the first session with telling the story of Prophet Ibrahim a.s.. People looked like “What’s this about? Our theme is Reconnect With Quran, and he said that he is gonna tel us about the story of Ibrahim?” But believe me, once you’ve completed connecting the dots of the whole story, you’ll figure out that’s amazing. Really amazing! Now here we go.
Ibrahim called in the Quran as khalilullah, close friend of Allah. In that time, he was the only one who has guidance in a community who worship idols. He faced trouble even with his family. Allah said in one of the ayah in the Quran “Inna buraaau minkum”
Ibrahim spoke to Allah with different way with any others. He spoke with a lot of dua. He said Allah as "The One who made me and guided me." If we look at this sentence carefully, we’ll find another important thing. He first mentioned guidance even before food and drink. It means you need guidance regularly more than you need food and drink. Look at our food. Many different kinds of food come from different places. There is The One who gives us the food, and guide the farmers to plant them, the traders to sell them, and guide us the earn money and buy them.
The legacy left by Ibrahim a.s. emphasize that Allah is The One who created us, feed us, and the most important thing is guide us. Every human being has a chance to have guidance, no matter whether we were born as muslims, atheists, musyrik, etc. But when The Day of Judgement comes, there will be no guidance at all. When the day comes, everyone won't think about anybody else, nafsii nafsii. Everyone will completely be self-centered. That's the day when we hope that we followed the guidance given by Allah and had the strength to make decision and joined us with good people.
Another Ibrahim's dua was "Ya Allah, give me company of good people." We need others to be good. Look at our friends, our companions. When we are with them, do we remember the guidance or vice versa, do we forget the guidance when we are near them? Ibrahim also said "Ya Allah, you put me through a lot of tests and when I die, nobody will care. Nobody will remember the guidance you gave me. Ja'alnii lisana sidqin. Ya Allah, make me from the people who inherits jannah. And forgive my father"
The story of Ibrahim taught us to have faith in our dua. Ibrahim asked for rasuulan, a prophet. Then thousands years later, the guidance was given to our prophet Muhammad saw. That's the Quran.
Ibrahim also said “Ya Allah, don't humiliate me in the day of judgement, the day when children and money are no benefit. And years later, Ibrahim had a child and another child. About children, Ibrahim also had dua "Master, give us muslim children" Look at this dua. He asked Allah of children with benefit. After talking about the day of judgement, the day when children and money are no benefit. It means, if we have children and money, make sure that they are assets for us in the day of judgement instead of liabilities that will burden us.
Another Ibrahim’s dua was "Rabbana wab'ats fiihim rasuulan minhum" Rasulan means one prophet. We know that the children of Ibrahim are prophets. Look at Bani Israil, they are descendants of Ibrahim. An actually Ibrahim just asked for one prophet. This is the last and the best prophet. Thousand years later, Allah answered the dua with the birth of Rasulullah saw.
Reconnect with the Quran means we reconnect with our father Ibrahim a.s.. We recite the Quran, we memorize the Quran, we study the Quran. When we have Quran in our tongue, our brain, and our ears but not in our mind, that's when we don't connect with the Quran.
In the Ramadan, let's reconnect with the Quran with remembering the legacy of our father Ibrahim, do Allah's commands and guidance firmly without choosing what we like and what we do not. Allah’s commands are not choices you can pick which one you like. And let’s have Quran in our heart.
Nasihat Urwah bin Zubair
Nasihat Urwah bin Zubair: Wahai anakku belajarlah ilmu agama yang benar dan luangkanlah waktu. Karena seandainya kita sekarang menjadi orang kecil, suatu saat nanti dengan ilmu itu kita menjadi orang besar. Hati2lah dengan amal yang kita kerjakan. Lihatlah amal yg kita kerjakan sbg hadiah kepada Allah. Wahai anakku saat kau melihat seseorang melakukan kebaikan maka dekatilah, karena kebaikan itu ada saudaranya (akan berdampak baik bagimu). Jika berbuat buruk hati2lah karena hal buruk itu ada saudaranya. Cara menikmati iman yg manis ada di majelis ilmu. Hati tenang karena Allah akan mudah menikmati manisnya iman. 😊
11 Years of (Unexpected) Friendship
Temen sejati itu..
Bukan yang cuma kompak kongkow bareng di emol, jelong-jelong plesiran bareng, atau ngumpul seru pas arisan panci atau berlian ajah.
Temen sejati itu..
Yang sering ke kajian bareng, ibadah bareng, sering ngingetin saat diri ini futur dan lalai, sering nasehatin supaya kita lebih semangat beramal shalih. Dan seabrek support berarti lainnya.
(more…)
View On WordPress
MENTERI Agama Nasaruddin Umar menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah sekaligus Istighosah Kebangsaan di Masjid Istiqlal
MENTERI Agama Nasaruddin Umar menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah sekaligus Istighosah Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (4/9/2025). Dalam kesempatan itu, Menag memperkenalkan konsep ekoteologi, yakni keberagamaan yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Acara yang mengusung tema “Ekoteologi: Keteladanan Nabi Muhammad SAW untuk Kelestarian Bumi dan Negeri” berlangsung khidmat dan dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, duta besar negara sahabat, ulama, tokoh agama, serta masyarakat umum.
Dalam tausiahnya, Menag mengaitkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan tanggung jawab manusia menjaga lingkungan. “Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW banyak menonjolkan sifat kasih sayang. Mengayomi, mengasihi, dan merawat adalah esensi yang harus diterapkan, termasuk dalam memperlakukan alam semesta,” ujarnya.
Ramadan dan Lebaran menjadi dua momen hangat yang mudah sekali ‘dipanggil’ dalam barisan memori hidup. “Kita tidak mengingat hari, kita mengingat momen.” Begitu seorang penyair Italia; Cesare Pavese berujar. Kutipan ini menjelaskan bagaimana kenangan tercipta dan seberapa erat kita mengingat momen-momen spesial.
Bagi saya—seorang anak 90-an—Ramadan yang dijalani di masa kini tentu punya nuansa berbeda. Bisa dari zaman yang telah berkembang pesat sehingga pola sosial dan kecanggihan pun berubah. Juga dari peran yang diemban saat ini; tidak lagi hanya sebagai anak, tapi juga bertugas menjadi suami dan ayah.
Merekam Ramadan tahun ini, ada beberapa catatan yang ingin saya tuliskan. Utamanya sebagai pengingat untuk diri sendiri. Bersyukur, bisa menjadi tambahan insight bagi teman-teman yang membacanya.
Ada tujuh poin yang menjadi rekaman Ramadan kali ini:
1) Sehat adalah nikmat pertama dan utama dalam menjalani hidup
2) Rindu semakin pekat pada mereka yang telah pulang lebih dulu
3) Keluarga menjadi fondasi utama untuk beribadah dan beramal
4) Belajar itu tentang memprioritaskan waktu
5) Kembali bertemu sahabat lama adalah rezeki
6) Ada ruang untuk memberi dan menerima
Dan poin ketujuh adalah tentang menyusun memori baik. Bagi saya, merekam menjadi cara mengabadikan momen serta menyiapkan kenangan. Menciptakan jembatan ingatan antara masa lalu, kini dan kedepan.
Selamat menyongsong hari raya, kawan-kawan. Menjadi doa agar rekaman Ramadan akan terus berputar di ingatan kita sepanjang tahun, hingga Allah izinkan kembali bertemu dengan Ramadan selanjutnya. Aamiin. Allahumma baarik.
—ridhobrilliant | Pontianak, 30 Ramadan 1466 H