“Baru sadar, sekeras kepala ini aku. Biar mereka berkata apa, aku tetap.”
Menulis lagi, beranikan diri lagi, terlalu penuh bejana ini untuk menampung seluruh rasaku. Tulisanku ternyata masih seputar “Dia” yang tidak pernah pergi, tidak pernah kuizinkan untuk pergi tepatnya. Aku disini mengunci hati untuk tak melangkah pergi, tanpa tahu apakah “Dia” juga melakukan hal yang sama.
Sedikit prolog tentang “Dia” yang bertahta sejak awal cerita cinta menjadi topik mengenyangkan di hidupku.
Ini menjelaskan kata-kata yang kutulis...
“Baru sadar, sekeras kepala ini aku. Biar mereka berkata apa, aku tetap.“
Banyak yang berusaha membuatku membuka kunci hati ini, tapi bagiku 1 kunci hanya untuk 1 pintu menuju 1 cerita. Dan aku tidak berencana untuk membuka pintu lain, setidaknya sampai “Dia” memutuskan mengunci dari sisinya yang membatasi langkahku menujunya.
Ya, keras kepala. Ini Aku.