Tunjukilah kami jalan yang lurus. [TQS. Al Faatihah: 6]
Setiap hari kita membaca ayat tersebut dalam sholat kita, dalam pembukaan acara kita, dan kegiatan yang lain. Tapi apa kita sudah benar-benar mendapat jalan lurus seperti yang kita harapkan?
Well, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti acara bedah buku Lapis-Lapis Keberkahan Ustadz Salim A. Fillah. Sebuah buku yang membuat saya tertarik karena desain sampulnya yang apik. Isinya? Jangan tanya kepada saya karena, saya belum membacanya. Hehehe.. Plus ada niat terselubung waktu datang sapa tau dapet doorprize, eh tapi saya belum beruntung. *nangis guling-guling.
Pada kesempatan tersebut, beliau menyampaikan beberapa isi buku tersebut. Salah satu yang saya ingat adalah bisa jadi saat kita meminta jalan lurus bukan berarti Allah akan memberikan secara langsung jalan yang lurus itu. Tapi, Allah akan memberikan tikungan yang berkali-kali agar kita tahu makna dari jalan yang lurus. Karna, Allah akan selalu meminta alasan saat kita meminta sesuatu. Misal kalau kita minta “jalan yang lurus”, Allah akan bertanya dengan kita untuk apa jalan yang lurus itu? Kalau sudah ada jalan yang lurus mau kita apakan?
Dari sini saya berpikir benar juga. Apa yang akan kita lakukan dengan “jalan lurus” ? Lalu kalau harus dengan jalan tikungan sebelum jalan lurus mau seperti apa kita menghadapinya?
Lucu kan, kita selalu minta jangan ada masalah di hadapan kita padahal bisa jadi justru masalah itu yang akan mengantarkan kita ke “jalan lurus” tersebut. Ternyata untuk mengetahui dan mendapatkan “jalan lurus” banyak sekali jalan yang berliku dihadapan kita. Yakini saja jalan yang dihapadan kita suatu saat akan menjadi jalan yang lurus walau ternyata untuk mencapainya jalannya mendaki berbelok tajam dan penuh dengan lubang-lubang besar.