Ibu dan Marah
Bulan ramadhan sampai saat ini menjadi masih menjadi momen kontemplasi bagiku seorang ibu berpikir tentang marah.
Berawal dari sebuah webinar tentang manajemen marah bagi para ibu, aku akhirnya memahami bahwa dampak marah begitu besar pada masa depan anak. Mulai dari anak tidak merasa aman, anak menjadi tidak percaya diri, kesulitan meregulasi emosi, pembentukan karakter, kemampuan anak berpikir dan volume otak yang mengecil juga kemungkinan menjadi pembully atau dibully di kemudian hari.
Marah membuat anak terganggu kepribadiannya dan juga kemampuan sosialnya di kemudian hari. Bahkan qodarullah saat mendengarkan podcast tentang public speaking, kemampuan public speaking tidak sekedar teori bagaimana teknis berbicara yang baik, intonasi dan sebagainya. Kemampuan public speaking seseorang juga dipengaruhi oleh selesainya ia dengan dirinya, termasuk inner child yang tidak menyenangkan. Termasuk marahnya ibu ke anak.
Ada satu hal juga yang akhirnya saya jadi berpikir jauh ke depan setelah mendengar kabar wafatnya ibu teman saya dalam kondisi menjaga hablum minannas nya. Termasuk dulu nenek juga orang yang sangat menjaga hablum minannasnya. Mungkinkah anak saya bisa menjadi orang yang menjaga hablum minannas nya kalau dia merasa tidak secure (aman) bahkan tidak percaya diri ketika bersosialisasi? Mungkinkah anak saya bisa masuk surga jalur hablum minannas kalau dia kesulitan untuk bersosialisasi, membangun pertemanan dan menjaga hubungan sosial? Rasanya sulit sekali.
Pada akhirnya, saya berpikir bahwa salah satu privilege tanpa uang, investasi terbesar seorang ibu yang bisa diberikan kepada anaknya adalah tidak marah.
Beberapa hal yang akhirnya menohok saya tentang bagaimana islam memandang marah adalah bahwa sesungguhnya taqwa itu bukan hanya sekedar melakukan amalan tapi juga meninggalkan keburukan, termasuk salah satunya adalah menahan amarah. Bahkan berbalas surga.
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang yang berinfak baik di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
(Ali Imran : 133-134)
Ayat tersebut akhirnya membuat Ramadhan kemaren menjadi momen bagi saya untuk tidak hanya membuat checklist amalan yang ingin dilakukan, tapi juga keburukan apa yang ingin saya tinggalkan: tidak marah.
Berat memang. Apalagi buat individu yang pernah merasakan kemarahan-kemarahan di masa kecilnya. Mungkin ada kesan ingin membandingkan dengan individu yang dibesarkan tanpa kemarahan. Tapi yakinlah, semakin berat semakin besar pahalanya. Layaknya membaca Al-Qur'an saja bagi yang kesulitan dan terbata-bata Allah tambahkan baginya pahala yang berlipat.
Inpirasi lainnya adalah ketika kita bisa menahan marah terhadap orang lain di luar rumah, seharusnya anak dan suami kita adalah orang yang lebih dahulu merasakannya. Dan ingatlah juga setiap kita berhasil menahan amarah dan memaafkan maka kecintaan Allah bertambah kepada kita.
Lalu darimana memulainya? Niat. Setelah itu minta petunjuk Allah untuk memulainya. Kemudian bisa dimulai dari mencari tahu ilmu tentang marah. Lebih bagus lagi jika balance antara perspektif agama dan science nya.
Dari ilmu yang kita pelajari, kita bisa tahu apa itu marah, bagaimana marah yang diperbolehkan (ternyata ke anak bagaimana pun ga boleh marah loh ya), bentuk-bentuk kemarahan, dampak jangka pendek dan panjang marah, penyebab kemarahan dan solusi untuk mencegah kemarahan.
Terakhir, seperti yang saya utarakan di awal. Salah satu privilige terbaik yang bisa kita berikan buat anak kita adalah jangan marah. Saya pelan-pelan memulainya. Mudah-mudahan ibu-ibu juga bisa memulainya juga. Semangat bu!














