Bahas Buku: Yang Belum Kamu Pelajari Tentang Menikah
Buku ini membahas tentang masalah pernikahan dari A-Z mulai dari awal akad, malam pertama, apa yang seharusnya dibahas pada awal pernikahan, mengenali cara untuk sinergi dengan pasangan bahkan pembahasan tentang apa saja yang memungkinkan perceraian terjadi. Jika disimpulkan mungkin buku ini seperti guideline singkat tentang pernikahan.
Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat lugas, mengalir, menasihati tapi tidak menggurui. Ini jelas sekali karena kebetulan saya mengenal penulisnya sebagai pemikir, pembaca sekaligus sastrawan.
Dalam tiap bahasannya, penulis selalu menyajikan 2 perspektif yang berimbang. Sehingga kita tidak melihat dalil tentang masalah pernikahan menjadi berat sebelah. Misal, seringkali digaungkan agar perempuan memudahkan mahar dalam pernikahan. Tapi seringkali laki2 lupa bahwa konsekuensi logis dari menikah adalah nafkah dan itu melindungi perempuan dari penelantaran.
Sesuai namanya: yang belum kamu pelajari tentang menikah. Meskipun sudah menikah selama 6 tahun lebih ada banyak hal yang saya pun baru tahu setelah membaca buku ini. Utamanya ada di bab pembahasan tentang mitos2 yang perlu kita luruskan. Mulai dari ungkapan wanita selalu benar, istri tidak boleh bekerja, bahkan kesalahpahaman tentang Rasulullah berpoligami hanya dengan nenek tua dan orang miskin yang semakin memantik rasa ingin tahu kita.
Insight yang sangat mengena di saya yang selalu melekat dalam pembahasan adalah bagaimana cara kita memahami pasangan sebagaimana Allah menyayangi kita. Allah pengampun, Allah menerima taubat, Allah menutup aib2 kita, Allah memberikan rizqi kepada kita. Maka begitu pula pandangan kita pada pasangan hidup kita. Jika dia memiliki kesalahan di masa lalu, maka tidakkan kita memaafkannya sebagaimana Allah telah memaafkan dan mangampuni masa lalunya setelah dia berusaha bertaubat? Jika Allah telah menutup aib-aib kita maka tidak bisakah kita menjadi sebenar-benar pakaian yang menutupi aib pasangan kita? Sebagaimana Allah telah berlemah lembut kepada kita maka seperti itulah kita menjadi bagian dari rahmat islam untuk seisi rumah kita.
Insight kedua yang menguatkan insight pertama dalam mengaplikasikannya adalah selalu ada Allah. Usahakan untuk shalat malam, puasa dan menghafalkan Al-Qur'an. Di buku ini aku baru tahu ternyata Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah menjelaskan berulang-ulang dala kitab-kitabnya tentang korelasi antara ibadah tersebut dengan ketenangan hati, kemampuan menjaga kata-kata, menjauhi kemarahan dan perdebatan dan perangai kita dalam berumah tangga.
Di akhir bab ini kita akhirnya disadarkan kembali bahwa setiap zaman punya tugas dan peluang prestasi sendiri. Dan di zaman ini adalah tugas pembebasan Al-Aqsha telah menanti kita. Sudah siapkah kita??










