Banyak cara membuat dirimu berharga, Bu..
Menjadi ibu memang tidak mudah. Membahagiakan tapi di satu sisi sering mengalami pergulatan. Misalnya, di kehidupanku. Aku sering bergulat dengan pergulatan batin untuk tetap mendidik anak-anakku dan mengayomi keluarga dengan tanganku sendiri. Tapi aku ingin berkarya, menghasilkan sesuatu. Baik dalam bentuk karya materi ataupun non materi.
Kita semua tahu, bahwa dalam hierarki moslow, manusia punya kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Dan aku rasa di diriku itu sangat mendesak. Maka segala macam cara yang baik kulakukan untuk meningkatkan kapasitas diriku. Dengan cara itu membuat diriku berharga.
Di satu sisi yang lain aku bertanya-tanya, apakah kebutuhan aktualisasi diriku ini untuk menunjukkan diriku kepada orang-orang tentang keberadaanku? Bahwa aku ada? Sudahkah karena Allah? Atau memang ingin menjalankan peranku sebagai hamba di muka bumi yang memberikan kontribusi terbaiknya? Menjadi rahmat bagi semesta?
Pelan-pelan sambil meluruskan niat dan terus mempertanyakan untuk apa aku melakukan sesuatu, aku bergerak. Jika memang aku belum bisa menjadi yang terbaik setidaknya aku sudah berusaha ke arah yang terbaik.
Aku mulai menjamah beragam kegiatan. Memilah sampah, mempelajari ilmu gizi, belajar bahasa inggris lagi, membaca buku-buku dengan tema berbeda, menghadiri kajian, menemui perkumpulan berbeda, mengikuti webinar, bercocok tanam, berdagang, menjadi affiliator, menulis diari, membuat postingan faedah, menjadi konselor, belajar tentang dunia anak, dunia keluarga, dan sebagainya.
Ketika menjalani hal itu ternyata, ada banyak pengalaman yang aku rasakan. Ya Allah ternyata aku bisa ya berperan buat menjaga lingkungan dengan pilah pilih sampah meskipun belum bisa ngompos sendiri, ya Allah ternyata aku bisa ya punya penghasilan dari rumah dan bahkan mendapatkan pengalaman berdagang, hal yang dari dulu paling aku ga bisa meskipun umiku ahli banget dagang, ya Allah ternyata banyak hal yang baru aku tau ya setelah aku belajar gizi, ya Allah ternyata yaa aku ga bisa ngandelin diri aku sendiri, ya Allah ternyata ga gampang ya untuk melepaskan perasaan aku bisa mengerjakan semuanya sendiri kepada keberpasrahan kepadaMu, ya Allah ternyata sekarang ilmu halal itu ga segampang zaman dulu yang apa-apa serba jelas dan masih banyak lagi.
Yap, diakui sekali bahwa hal tersulit setelah menjadi ibu adalah mengorbankan waktu di saat yang lain terlelap untuk mengupgrade kualitas diri. Di saat siang ketika anak tidur meluangkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tiada habisnya atau untuk berolahraga, baca buku. Pun di saat malam untuk menikmati waktu sendiri, sholat malam, doa yang banyak, juga untuk belajar banyak hal.
Pada akhirnya ketika kita telah memulai dan mencoba banyak hal, kita kembali menemukan bahwa atas izin Nya, kita ternyata telah berjalan jauh. Kualitas diri kita tak lagi sama sebelum menjadi ibu. Kita telah menjadi pribadi yang tak lagi rapuh karena ternyata Allah telah memberikan kita beragam cara untuk melakukan sesuatu, ternyata kita punya potensi di saat yang lainnya kita belum maksimal.
So, tak ada kata berhenti setelah menjadi ibu, kebaikan sekecil apa pun di mata manusia ketika kita meniatkannya karena Allah, meresapinya insyaAllah menjadi benih-benih kebaikan yang kita tanam baik untuk diri kita sendiri, keluarga dan semesta.
Satu ayat yang paling menginspirasi adalah surat al ahqaf ayat 15 yang mengajarkan untuk terus bersyukur. Karena dengan bersyukur insyaAllah kita menemukan banyak hikmah yang terbentang di depan mata kita insyaAllah..