Saat kita marah, kita menutut keadaan untuk bisa mengerti apa yang sedang sedang kita rasakan.
Bukannya berusaha menyadari kemarahan, kita malah menuntut orang lain untuk mengikuti apa yang kita inginkan.
Dengan kemarahan, kita berharap keadaan bisa berubah sesuai yang kita harapkan.
Padahal yang seharusnya bisa memaklumi keadaan adalah diri kita sendiri, bukan orang lain, bukan keadaannya yang harus berubah.
Hingga untuk menghindari perasaan kita sendiri, kita akhirnya menyalahkan orang lain, kita menyalahkan keadaan.
Kita enggan menemui rasa tidak nyaman yang ada dalam diri kita. Rasa tidak nyaman karena hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Entah kejadian masa lalu apa yang akhirnya menyulut masalah yang kita hadapi menjadi begitu sensitif.
Mungkin kehilangan, penolakan, kegagalan, rasa bersalah, pengkhianatan, ataupun perasaan tidak dihargai.
Hingga akhirnya kita tidak mampu lagi menahannya.
Hal-hal yang selama ini kita tekan, kita simpan, dan berusaha kita lupakan, akhirnya kita luapkan melalui kemarahan-kemaran kita.
Padahal jika boleh jujur, mungkin sebetulnya kita hanya sedang kecewa pada kesalahan-kesalahan kita sendiri.
Kita sedang kecewa pada kesalahan-kesalahan kita di masa lalu.
—ibnufir








