MonochromeTale-9
“Jadi masih saja kamu bersedia hadir untuknya?”
Aku yang sedari tadi sibuk mengarahkan pandanganku ke layar handphone akhirnya menengadah. Mendapati Kirana yang sedari tadi aku tunggu, kini sudah berada di hadapanku.
Aku mengernyit menanggapinya, “Sejak kapan aku menghilang memangnya?”
“Seharusnya sejak lama kamu menghilang. Sejak dia tak pernah peduli atas semua waktu yang kamu berikan untuknya.”Kirana mengucapkannya dengan tegas sembari mengambil tempat duduk berseberangan denganku.
Aku menatapnya lekat, tahu apa maksud dari ucapannya. Sedikit hatiku tersayat, tahu bahwa yang dia ucapkan adalah benar. Aku memilih diam tak menanggapinya. Namun hal itu justru kembali memancing Kirana untuk berbicara, “Berhenti melakukan hal bodoh yang terus berulang. Dia tidak pernah sekali saja menatap kamu sebagai orang yang kehadirannya cukup untuknya. Dia selalu mencari dan mencari. Memangnya pernah dia anggap perasaanmu?”
“Dia tidak tahu rasaku, itu sebabnya dia tak pernah terlihat peduli,” aku menyanggah ucapan Kirana yang terkesan menyudutkan.
“Rengganis, dia bukan tidak tahu, dia tahu, teramat tahu. Sebab rasamu itu nyata, bahkan semua orang yang melihatmu dengannya juga tahu bahwa kamu memiliki perasaan itu. Dia tahu itu, Rengganis. Tapi dia memang memilih tidak peduli. Dia memilih untuk menganggap kamu baik-baik saja dan mampu menangani perasaan itu sendirian. Dia berlaku demikian, karena dia tahu, perasaanmu padanya terlampau besar hingga kamu tak akan pernah menoreh luka untuknya. Tidak seperti wanita lainnya.”
Mataku berkaca-kaca melihat Kirana. Semua ucapannya adalah benar. Nalarku juga paham betul akan kenyataan itu. Tapi sebagian hatiku masih saja menganggap bahwa aku sanggup bertahan dalam situasi ini. Aku percaya bahwa rasaku akan meluruh.
“Rengganis, sampai kapan kamu akan menunggu? Sampai kapan kamu membiarkannya menoreh luka dan kamu dengan sukarela mengobatinya sendirian? Sampai kapan?” Kirana kembali menekanku dengan semua pertanyaannya. Pertanyaan yang menohokku hingga ke uluhati.
Aku akhirnya bersuara, jengah dengan Kirana yang terus menerus menyudutkan. “Yang perlu kamu tahu Kirana, wanita-wanita yang pernah hadir di hidupnya tidak pernah menoreh luka. Justru dia yang selama ini membuat luka untuk mereka. Dengan meninggalkan mereka.”
“Lalu kamu juga bersedia untuk dia lukai? Rengganis, kamu bodoh atau memang terlalu dermawan? Wanita-wanita yang pernah singgah itu menoreh luka padanya, wanita-wanita itu melukai egonya. Menoreh luka pada ekspektasinya yang akhirnya menyebabkan dia melangkah pergi. Sedang kamu tidak, mungkin belum atau juga pernah, tapi kamu cukup cerdas untuk memperbaikinya. Dan dia cukup takut untuk kehilanganmu.”
Aku menghela napas berat, “Itu berarti rasanya padaku memang ada kan? Mungkin aku hanya perlu bersabar saja, hingga saat itu tiba.” Aku mengulas senyum tipis di bibir. Tahu bahwa ucapanku memang tepat, dan Kirana tahu akan kenyataan itu.
Kirana menggelengkan kepalanya berkali-kali, senyumnya membuat hatiku kembali miris, “Rengganis, dia juga memiliki perasaan itu padamu memang. Tapi kamu harus tahu, dia tak pernah memperjuangkan rasanya. Sebab dia merasa, ada orang lain di luar sana yang jauh lebih sempurna dibanding kamu yang selama ini berada di dekatnya. Padamu dia tidak pernah merasa cukup, padamu dia tidak ingin untuk berlabuh. Kamu harus ingat itu, selalu.”
Airmataku meluruh, tahu bahwa perjuanganku selama ini hanya sepihak. Tahu bahwa semua perkataan Kirana adalah benar dan jujur. Tahu bahwa aku selama ini hanya terlalu sibuk percaya, suatu saat seseorang yang dimaksud Kirana akan menoleh dan memperjuangkanku juga.
”Sudahi Rengganis, esok dia akan menikah denganku. Denganku, Kirana, sahabat wanita yang paling kamu sayangi akan menikah dengan sahabat lelaki yang begitu kamu sayangi juga. Tidakkah kamu bahagia untuk itu? Ikhlaskan dia, relakan dia, Rengganis. Dan sebagai sahabat yang teramat sempurna untukku dan dia, berhentilah berjuang, lalu kembalilah pada posisimu yang seharusnya. Sahabat sekaligus pemersatu kami.”
Hujan Mimpi












