Sebetulnya lagi mau nulis, ada deadline, tapi nanti dulu aja deh. Soalnya masih kepikiran sama kata-kata Lintang sore tadi. Kata-kata yang lumayan menampar dan bisa bikin pipi memerah karenanya. Bukan, bukan tentang cinta-cintaan, tapi ini tentang, hidup (?)
Sore tadi, di salah satu sudut kantin.
“Lo tau anak fakultas teknik yang nerdy itu? Yang namanya Utara.”
“Hah? Yang mana? Mana gue apal anak teknik. Lagian ya, anak teknik yang modelnya begitu banyak kali. Utara kata lo? Nama mata angin? Ga kenal kayaknya,” jawabku padanya.
“Utara nama orang elah, lo tuh gue nanya serius juga, malah ngebecandain gue.” Lintang mulai mengaduk minumannya sembari menekuk wajahnya.
“Lo kira gue ga serius ngejawab? Gue emang gatau siapa yang lo maksud, Tang!” jawabku sambil memandang mata Lintang.
“Oke, gini deh, lo tau Adhara kan? Ituloh yang…”
Belum selesai Lintang berbicara, aku langsung menimpali ucapannya,
“yang selebgram itu? Yang cantiknya terkenal seantero kampus? Yang kalo doi lewat semua mata laki-laki langsung ga kedip? Kalo iya, tuh orangnya lewat di belakang lo!” jawabku sambil mengedikkan kepala ke arah sosok yang dimaksud Lintang.
Lintang menoleh pada arah yang kumaksud,
“nah iya doi, giliran yang gini lo tau, padahal dia cewek. Giliran cowok lo malah gatau.”
“Karena, menjadi terkenal ternyata berpengaruh besar untuk bisa dikenal dan mengenal. Remember?”
“Terserah lo deh ya, intinya gini. Lo liat ga cowok di sebelah Adhara itu? Yang nerdy itu, pake kacamata dan baju semi formal, gils, padahal ngampus doang.”
“Itu pacar Adhara loh!” seru Lintang setengah berteriak.
“What? Kalo ini gue gatau nih, lo tau dari mana? Jangan hoax ya, gue males deh denger hal-hal yang udah ga penting, eh makin ga penting gara-gara berita palsu doang.”
“Lo bisa percaya gue urusan satu ini! Nyangka ga lo? Seorang Adhara yang kecantikannya di atas rata-rata dan dipuji banyak cowok sekampus, eh jadiannya sama Utara yang model begitu. Lo inget ga tingkatan yang kemarin dibahas di kelas soal hasil ujian UKBI? ”
Aku mengalihkan pandangan ke arah Utara. Lintang tidak sepenuhnya salah, Utara memang tidak sebersinar Adhara. Utara hanyalah lelaki dengan tinggi badan kurang lebih 168 cm, dengan rambut yang tertata rapi dan kacamata tebal yang menggantung di hidung mancungnya. Baju yang dia kenakan memang sedikit formal, celana bahan, kemeja yang dikancingkan lengannya dan hanya terbuka satu di bagian leher—masih untung tidak sampai dikancing bagian paling atas tersebut, jika iya, sudahlah dia adalah tipe mahasiswa berprestasi yang kutu buku itu nampaknya.
“Apa lo bilang tadi? Tingkatan hasil UKBI? Istimewa, unggul, semenjana, madya gitu-gitu maksud lo? Apa hubungannya sama Utara dan Adhara sih? Lo kadang kalo ngomong suka loncat ke sana sini deh.” Ujarku sedikit kesal.
“Ingetan lo emang yahud ya, Ras! Gini loh, kalo diibaratin Adhara tuh masuk kelas istimewa, sedangkan Utara cuma semenjana. Dari segi penampilan loh ya.”
“Gue lagi mikir aja sih, Ras. Bahwa bener apa kata pepatah don’t judge a book by its cover. Kita ga bisa nilai orang hanya dari penampilannya yang kekinian, modis dan segala-gala kalo untuk urusan perasaan. Buktinya ada di Adhara sama Utara. Pasti Adhara ga gitu aja milih Utara kalo engga ada alesan yang kuat. Secara doi mah tinggal milih cowok cakep mana aja juga bisa. Tapi ya as we know, kebanyakan cowok ganteng kalo engga kurang ajar ya playboy.” Lintang menyeruput minumannya, menjeda untuk kemudian melanjutkan ucapannya.
“Trus gue jadi nyambungin ke banyak hal tentang pilihan, bahwasanya setiap pilihan yang kita ambil itu pasti penuh dengan pertimbangan. Yang kadang-kadang dinilai orang lain ga pantes, buat kita justru itu paling pas dan penting untuk kita. Yang dibilang orang lain ga susah, tapi buat kita itu justru paling susah dan berat untuk dipilih. Orang lain tuh gatau apa-apa tentang pilihan dan keputusan yang kita buat. Tapi orang lain bisa dengan sebebas itu menilai pilihan kita dan ga perlu susah-susah mikir apa dan kenapa alesannya. Mereka punya kebebasan sebesar itu untuk menghakimi pilihan kita. Dan orang yang ga kayak gitu, mulai susah buat ditemuin sekarang-sekarang ini.”
Aku tercengang hampir lima detik dan kemudian terkekeh mendengarnya.
“Lo sehat, Tang? Itu minuman lo ga kecampur apa-apa, kan? Tumben amat itu pikiran lo bisa sepanjang itu menyangkutpautkan sesuatu.”
“Ih Rasi gue serius nih!” Lintang memelototkan matanya padaku.
“Iya Lintang sahabat gue tercantik, gue sepakat sama omongan lo itu. Kita emang semakin sulit nemuin orang yang kayak gitu, yang ga menilai sesuatunya hanya atas apa yang terlihat. Tapi kita gabisa nyalahin mereka-mereka yang bersikap seperti itu. Karena ya, jamannya emang sekarang kayak gini. Lo akan menilai sesuatu dengan apa terpampang di mata lo. Kita bisa ga ngeubahnya? Bisa sebenernya, cara termudahnya adalah dari diri kita sendiri.” Jawabku tanpa ada tawa yang mengikuti lagi.
Aku terdiam, lama, merenungi beberapa hal yang terjadi siang tadi. Pertama, sudahkah aku seperti itu? Memandang sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tidak hanya dari apa yang tampak saja, tapi dari beberapa hal lain yang memungkinkan dan jarang untuk orang lain mau untuk tahu. Kedua, apakah aku bisa untuk sedikit demi sedikit merubah diri untuk tidak seperti orang-orang kebanyakan itu?
Eh iya lupa, kan niat awalnya mau nulis, nah yang tadi itu termasuk tulisan juga, kan? Kalau gitu deadline berakhir, mari menutup laptop dan terlelap.