Semua pribadi itu hebat dengan hidupnya masing-masing.
seen from Singapore
seen from China
seen from Germany
seen from Argentina
seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Taiwan
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Philippines

seen from Germany

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
Semua pribadi itu hebat dengan hidupnya masing-masing.
Dua hari lalu aku nonton podcast Ust. Felix di Tenda Tanya. Ada kalimat beliau yang sampai sekarang tertanam dalam pikiran. Kurang lebih kalimatnya begini, aku tuliskan dengan bahasaku ya
Banyak orang lulus diujian kesengsaraan tapi sedikit yang lulus diujian kenikmatan.
Jawaban dari ujian kesengsaraan itu ada pada Allah sedangkan jawaban dari ujian kenikmatan itu ada pada manusianya sendiri.
Waah. Pas dengar ini aku mikir banget dong. Kok bener gitu hahaha. Kadang kalau lagi pengem sesuatu kita minta ini itu terus sering terucap, nanti kalau dikasih aku begini deh aku begitu deh. Tapi waktu dikasih kita malah lupa sama janji kita. Disini aku mikir banget. Iya bener aku sendiri juga sering nggak lulus diujian kenikmatan.
Terus yang bikin aku sadar kalau manusia sering lupa kalau dia sudah banyak diberi nikmat itu waktu tadi aku ngobrol sama temanku bicarain soal kerjaan. Adalah itu orang yang gajinya tiap bulan sudah 120juta tapi masih ambil kerjaan orang lain. Masih ngerasa kurang.
Disitu aku mikir. Oh iya, kalau orang yang ada diposisiku sekarang pasti mikirnya. Ngapain sih dia ambil kerjaan orang sedangkan tiap bulan incomenya sudah sebanyak itu. Tapi ketika aku posisikan diriku di pov orang itu, aku mikirnya TERNYATA KALO SUDAH DIKASIH LEBIH MANUSIA ITU NALURIAHNYA MEMANG MAU LEBIH LAGI. Seakan akan nggak ada puasnya. Padahal sudah dikasih banyak tapi masih mau lagi.
Disini aku sadar oh benar sedikit manusia yang lulus diujian kenikmatan karena seringnya income besar gaya hidup besar jadi pendapatan yang besar itu tetap akan terasa kurang.
Pagi hariku di 2026 dimulai dengan pikiran,
"Ya Allah aku nggak mau sedih terus".
Mana tiap nulis, tulisannya juga sendu. Mendung terus 😫
Padahal aku suka matahari.
Beberapa hari lalu adekku cerita dan dari cerita dia aku dapat pandangan dia tentangku yang selama 3 bulan ini dirumah aja.
Kata dia, dia kasian lihat aku yang biasanya kegiatan setiap pagi sehabis mandi itu bersiap-siap untuk berangkat kerja tapi selama 3 bulan ini aku habis mandi ya santai hahaha
Kata dia, dia kasian lihatnya tapi dia lihat aku kok enjoy aja menjalaninya.
Aku dalam hati, "Alhamdulillah aku ternyata terlihat tenang dimata orang lain".
Dari awal memutuskan resign tanpa ada pekerjaan pengganti, aku sudah meniatkan mau istirahat dulu. Bahkan kemarin sempat mau cari kerja setelah lebaran aja tapi myatanya di bulan desember pulang dari liburan aku sudah mulai nyebar CV dan apply apply loker.
Aku enjoy menjalani ini karena aku mikirnya mumpung dikasih waktu lowong ya aku pergunakan sebaik-baiknya. Anggap aja isi daya untuk nanti kembali bekerja lagi. Isi mood untuk menghadapi berbagai macam orang lagi.
Terima kasih untuk adekku yang diam-diam ternyata memikirkan aku juga. Terima kasih ya.
Aku nggak apa-apa kok. Aku enjoy karena aku kembalikan semuanya pada Allah. Aku memang berusaha, tapi untuk apapun itu hasilnya aku kembalikan pada Allah aja.
Ada Allah. Aku nggak apa-apa.
Kata temanku, aku ini pengangguran pilih-pilih kerjaan hahaha. Yah masa cuma yang punya kerjaan aja yang boleh milih calon karyawannya. Ya aku juga mau memilih jam kerja dan gaji yang masuk akal untuk aku.
Aku nggak marah kok ke temanku karena dia ngatain aku begitu. Aku ngerti aja kalo dia ga paham.
Tadi aku cuma balas dia dengan bilang kalau aku nggak mau menyusahkan diriku sendiri lagi. Aku memang perlu kerja, perlu income untuk bayar operasional hidup tapi kali ini aku nggak mau menyusahkan diriku lagi dengan mentoleransi banyak hal.
Tanggal 7 kemarin aku masukkan loker ke RS swasta. Aku tau sih disana gajinya kecil. Tadi pagi aku diinfokan untuk wawancara besok. Deg-degannya ada. Tapi yang aku sadari adalah diriku masih belum rela kalau kembali kerja ke rumah sakit itu nanti dinas malam hahahaha
Terus kemarin-kemarin lagi aku ada masukan loker ke apotek tapi jam kerjanya luar biasa.
Senin double shift
Pagi jam 08.00-14.00 pulang, turun lagi sore jam 17.00-21.30
Selasa turun sore aja 17.00-21.30
Rabu double shift
Kamis sore aja
Jumat double shift
Sabtu sore aja
Libur 2 minggu sekali
LANGSUNG AKU TOLAK.
Ironi jurusanku ini adalah sudah jam kerja luar biasa, gajinya hanya sekitar 1,5 aja kalau di apotek.
Makanya aku pilih-pilih kerjaan.
Tapi nggak tau nanti kalau udah kepepet haha. Soalnya aku ga mau "cuma dapat capeknya aja". Mungkin ada sisi diriku yg lain yg belum ikhlas dengan keadaan ini ya. Mungkin aku akui. Karena katanya jangan lihat sedikit banyaknya tapi lihat berkahnya.
Tapi...... dinas malam???? 😭
(Hahahaha siapa suruh sih ambil kesehatan)
(Sejujurnya aku ngarepin apotek yang dekat rumah ini manggil aku buat kerja. Jadi walaupun gajinya kecil setidaknya itu dekat rumah. Nggak jauh-jauh untuk pulang pergi kerjanya 🥹)
Barangkali yang kesepian adalah ayah. Berdiam di rumah hanya ditemani suara televisi, sesekali tertawa lalu merenung. Pikirannya tak lepas tentang anak-anak kecil yang sejak dulu tumbuh bersamanya, kini mereka sudah punya kehidupan dan kesibukan masing-masing.
Lalu seorang anak kecil bertanya "Ibu mana?"
Ku jawab "Nak, ibu udah di surga".
2 January 2026
baru sampai KRR lagi