Pura Sapto Argo Sido Langgeng, a modern Shiva temple at Blitar, Java

seen from Ireland
seen from Brazil
seen from Germany
seen from China
seen from Latvia
seen from Netherlands
seen from China

seen from United States

seen from Germany

seen from Australia

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Germany

seen from Brazil

seen from United States
seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from Philippines

seen from United States

seen from Ukraine
Pura Sapto Argo Sido Langgeng, a modern Shiva temple at Blitar, Java
Javanese dance, Prince Panji and the Princess Dewi Sekartaji
Javanese dancer by Gusti Aji
A friend once said watching Javanese dance was like watching grass grow. It’s all about slow elegance: the flip of a scarf become a major event. The Bedoyo is perhaps the supreme example of this style, if you’re patient. The music here is far from traditional Javanese court music, but the dance and costumes are authentic.
Serempi, Djokja. Postcard, Nederland.
Alumni BSBI 2013 tampilkan Gambyong Mangkunegaran di Galery Belyaevo Moskow
Natalia Grunina, mahasiswa program Master di Institut Negara-negara Asia Afrika, Universitas Negeri Moskow, yang juga alumni Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) Kemlu RI tahun 2013, menampilkan kemahirannya menarikan Gambyong Mangkunegaran di Galery Belyaevo, Jumat malam, 24 Januari 2014. Selain menari, Natalia yang fasih berbahasa Indonesia ini juga menyampaikan pengalaman-pengalamannya selama 3 bulan di Indonesia mengikuti BSBI Program Reguler yang diselenggarakan di Surakarta.
Penampilan dan testimoni Natalia Grunina mengenai Indonesia melengkapi kemeriahan Malam Budaya Indonesia di Galery Belyaevo, Moskow. Selain Natalia Grunina yang menutup acara malam itu, sebelumnya juga diselenggarakan master class tari Pendet kepada para hadirin. Pelatihan singkat tari Pendet ini diberikan oleh Eviana Anjar Susanti, seorang WNI yang menikah dengan WN Rusia.
Dengan Bahasa Rusia yang cukup baik, Susan mengajarkan gerakan-gerakan tari Pendet yang cukup sulit dilakukan termasuk melatih gerakan mata yang menjadi ciri khas tarian Bali. Meskipun tidak mudah, para peserta tampak sangat menikmati gerakan-gerakan tari Pendet yang diajarkan. Seusai pelatihan, Susan pun menuntaskan rasa penasaran para peserta dengan menarikan tari Pendet secara lengkap yang disambut meriah oleh para hadirin.
Suasana makin hangat dengan penampilan tari Cendrawasih dari Bali yang dibawakan 2 siswi Sekolah Indonesia Moskow. Gerakan-gerakan dinamis bak burung Cendrawasih yang menebar pesonanya dengan kepakan-kepakan sayap dan lompatan-lompatan kecil berhasil memukau penonton yang diantaranya pernah tinggal cukup lama di Indonesia.
“Saya senang sekali akhirnya melihat kembali tari-tarian Indonesia yang dulu sering saya saksikan saat tinggal di Indonesia selama 4 tahun. Rindu akan Indonesia sedikit terobati malam ini’” ujar Alexey yang 20 tahun lalu pernah bertugas di Indonesia.
Kegiatan Malam Budaya Indonesia ini melengkapi rangkaian Festival Internasional “Tradisi Yang Tak Terlupaka” yang merupakan kegiatan tahunan Galery dibawah Kementerian Kebudayaan Federasi Rusia ini. Festival berlangsung sejak 25 Desember 2013 hingga 1 Februari 2014 dengan menampilkan beragam benda seni dan budaya dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
KBRI Moskow untuk keempat kalinya berpartisipasi dalam rangkaian festival yang dikunjungi ribuan orang selama libur musim dingin dan tahun baru. Bersama benda seni budaya dari Indonesia juga ditampilkan benda-benda seni dari Rusia, Belarus, Ukraina, China, Jepang, Italia, Perancis, Jerman dan Slovakia.
Malam Budaya Indonesia di Galeri Belyaevo.