Icons Niall Horan
• like/reblog if you save or credits on twitter @tinylouisangeI
seen from Türkiye
seen from China

seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from T1

seen from Australia

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Czechia
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from United States
Icons Niall Horan
• like/reblog if you save or credits on twitter @tinylouisangeI
Icons Liam Payne
• like/reblog if you save or credits on twitter @tinylouisangeI
Jakarta Biennale 2017: Jiwa dalam sejarah
Jakarta Biennale 2017 bertemakan JIWA, hadir di Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik tanggal 4 November hingga 10 Desember 2017
Tinggal 7 hari lagi Jakarta Biennale 2017 bisa kamu nikmati di Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Kapan lagi bisa check in as hipsterian kalau bukan di Biennale yang cuma ada 2 tahun sekali ini?
Seorang penonton karya "Becoming a Bird" (2017) dari Eva Kot'àtkovà terlihat serius mendokumentasikan penampilan seniman di atas pohon
Jakarta Biennale berbeda dengan pameran seni lain yang ada di Indonesia. Berdasarkan sejarah seni nasional, Biennale merupakan wujud dari mulai terbukanya seni untuk bisa dinikmati oleh masyarakat umum yang dulunya hanya bisa dinikmati bangsawan dan penjajah.
Mulai dari tahun 1974, Jakarta Biennale 1 (dulu namanya adalah Pameran Senilukis Indonesia) diselenggarakan pemerintah di Taman Ismail Marzuki sebagai komitmen untuk membuka ruang edukasi seni bagi masyarakat dan juga sebagai validasi eksistensi seniman Indonesia. Intinya, siapa yang karyanya bisa masuk di Jakarta Biennale 1 berarti diakui bakat seninya se-Indonesia dan bahagia karena harga jual karya mereka bisa meningkat. Tapi penyelenggaraan Jakarta Biennale 1 ini tidak mulus bahkan terkenal dengan adanya peristiwa Desember Hitam kala itu.
Dua pelajar sedang berjalan di depan karya Robert Zhao Renhui “The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree (III)” (2017). Karya tersebut merupakan wujud keluhan Robert terhadap perusakan lingkungan yang dilakukan di Singapura.
Peristiwa Desember Hitam terjadi pada saat pemberian anugerah karya terbaik oleh Dewan Kesenian Jakarta di Jakarta Biennale I. Saat itu, 5 seniman muda yang ikut dalam pameran dan merupakan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI- yang saat ini adalah Institut Seni Rupa Indonesia atau ISI Yogyakarta) melakukan protes kepada panitia pameran dengan memberikan karangan bunga bertuliskan ‘Turut berduka cita atas matinya seni lukis Indonesia’.
Karangan bunga, yang seharusnya merupakan simbol penghargaan seseorang atas prestasi penerima karangan diberikan secara ironi oleh 5 mahasiswa ASRI. Mereka beranggapan bahwa karya yang mendapatkan anugerah di Jakarta Biennale 1 itu terlalu dekoratif.
“Bagaimana saya tidak marah, yang mendapatkan penghargaan semuanya lukisan dekoratif,” ujar Muryotohartoyo yang merupakan salah satu pemrotes kepada majalah Tempo 1974.
“Seolah-olah seperti ada pengarahan atas perkembangan kebudayaan ke arah tertentu,” ujar Munni Ardhi yang juga salah satu pemrotes.
Suasana Jakarta Biennale 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran. Jakarta Biennale 2017 buka setiap hari di Gudang Sarinah Ekosistem pukul 11-19, dan buka setiap Selasa-Minggu di Museum Sejarah Jakarta dan Museum Seni Rupa dan Keramik pukul 9-17.
Setelah peristiwa Desember Hitam, Pameran Seni Rupa Baru Indonesia diadakan setiap dua tahun dari 1975 sampai 1979 oleh kelompok Seni Rupa Baru di Taman Ismail Marzuki. Pameran menjadi lebih segar dengan ragam gagasan dan bentuk karya yang ditampilkan oleh seniman-seniman muda.
Tahun 1979 merupakan pameran terakhir yang dilakukan oleh kelompok Seni Rupa Baru dan dilakukan pula peluncuran buku ‘Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia’. Mungkin tradisi ini juga yang terus dibawa hingga Jakarta Biennale 2017 yang juga melakukan peluncuran 3 buku yaitu "Seni Manubilis Semsar Siahaan 1952-2005", "Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017", dan “Dari Kandinsky Sampai Wianta: Catatan-catatan Seni Rupa 1975-1997“.
Seorang pengunjung melihat instalasi campuran karya Marintan Sirait “Membangun Rumah” (1992-1997/2017). Instalasi menggunakan tanah, kerikil, dan abu di lantai, kaca akrilik menggantung di atas, serta video, tata cahaya dan suara di dinding belakang.
Banyak hal menarik lain seputar sejarah Jakarta Biennale dari 1974 hingga saat ini tahun 2017. Masih ada waktu untuk datang dan berkenalan dengan kurator pameran dan bertanya sana-sini tentang semua karya yang ditampilkan. Atau jika kamu ingin yang lebih membumi, volunteer Jakarta Biennale yang muda-muda (mulai dari anak SMA hingga kuliahan) bisa kamu tanya dan diminta menjadi tour guide khusus selama memutari pameran. Selamat menikmati karya di Jakarta Biennale 2017!
Penikmat karya "Perkenalan Pertama dengan Bahasa" oleh Hanafi sedang seru berfoto di lorong sempit yang ditampilkan sebagai bagian dari instalasi. Terdapat jaket dengan pensil yang menempel di seluruh bagian jaket dan bisa digunakan oleh pengunjung sambil mencorat coret tembok lorong saat melewatinya.
"Ke Mollo" karya Dineo menceritakan tentang pentingnya Upacara Bois Caïman pada awal revolusi Haiti 1971. Karya memiliki unsur magis Vodoo dalam sejarah revolusi Haiti untuk melawan kulit putih.
Sebuah tulisan menarik berada di sudut eksibisi Dolorosa Sinaga. Pada Jakarta Biennale 2017, seluruh isi Studio Somalaing yang merupakan tempat bekerja Dolorosa di Jakarta Timur dipindahkan ke Gudang Sarinah Ekosistem untuk menggambarkan perjalanan karya seniman tersebut secara kuat.
Pertunjukan langsung oleh Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri “Vanishing Borders or Let’s Talk about the Situation in Iraq” di Jakarta Biennale 2017 dilakukan dengan memakan bunga mawar dan memukul kepala menggunakan tulang hewan yang penuh dengan darah.
Hasil Polaroid Supercolor 600 untuk dokumentasi pertunjukan Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri “Vanishing Borders or Let’s Talk about the Situation in Iraq” tanpa lampu flash. Banyak instalasi yang tidak memperbolehkan menggunakan lampu flash kamera karena cahaya tersebut dapat merusak karya. Mohon melihat peraturan dos and don’ts di setiap karya.
Suka konsep warung makan disini 😍😍.. padahal ini kantin, harganya juga harga mahasiswa jadi di bundling harga dibawah 20rb.. tapi nyaman banget dan kece sih menurut aku.. @warungprovoke #jb2017 #jakartabiennale2017 @jakartabiennale (at Gudang Sarinah Ekosistem)
JIWA: Jakarta Biennale 2017 akan hadir tanggal 4 November nanti! ー Mari datang dan rayakan malam pembukaan #JakartaBiennale tahun ini pada hari Sabtu, 4 November 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem pada pukul 18.30 WIB. Pameran akan berlangsung hingga 10 Desember di beberapa tempat seperti Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. ー Pada Jakarta Biennale 2017 ini, Melati Suryodarmo sebagai direktur artistik mengangkat konsep "Jiwa" sebagai gagasan artistiknya dan bersama Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte, dan Vít Havránek sebagai kurator, telah memilih dan akan menampilkan karya-karya dari 51 seniman dari berbagai negara. ー Mari ikuti kanal-kanal media sosial media kami untuk informasi terbaru tentang pameran ini: Facebook Page: Jakarta Biennale Instagram: @jakartabiennale Twitter: @jakartabiennale ー #JakartaBiennale #JIWA #JB2017 #JakartaBiennale2017 #exhibition #GudangSarinah
Día de trabajo en santa marta #JB2017
JIWA: Jakarta Biennale 2017 akan hadir tanggal 4 November nanti! ー Mari datang dan rayakan malam pembukaan #JakartaBiennale tahun ini pada hari Sabtu, 4 November 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem. Pameran akan berlangsung hingga 10 Desember di beberapa tempat seperti Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. ー Pada Jakarta Biennale 2017 ini, Melati Suryodarmo sebagai direktur artistik mengangkat konsep "Jiwa" sebagai gagasan artistiknya dan bersama Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte, dan Vít Havránek sebagai kurator , telah memilih dan akan menampilkan karya-karya dari 51 seniman dari berbagai negara. ー Mari ikuti kanal-kanal media sosial media kami untuk informasi terbaru tentang pameran ini: Facebook Page: Jakarta Biennale Instagram: @jakartabiennale Twitter: @jakartabiennale ー #JakartaBiennale #JIWA #JB2017 #JakartaBiennale2017 #exhibition #GudangSarinah #posterseni
He who finds a wife... #JB2017 💎