Manajemen Cinta dan Benci
Sebagai manusia biasa, rasa cinta dan benci adalah perasaan alamiah yang Allah berikan kepada kita, tentunya untuk digunakan sesuai dengan kegunaannya.
“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.“
(Al Hujurat: 7)
Beginilah rasa cinta dan benci seharusnya dipakai. Namun, dalam keseharian kita, ada saja yang membuat kita lantas mencintai, atau mungkin membenci sesuatu, dalam waktu yang teramat singkat. Dan kadang, rasa ini telanjur tumbuh mengakar dalam hati kita. Lantas, bagaimana mengontrolnya?
Rasa kadang memang bisa membutakan nalar. Seseorang pernah bilang, kamu bisa memberi nasihat kepada siapa saja, kecuali dua orang: Seseorang yang sedang mabuk kepayang karena jatuh cinta, atau seseorang yang sedang kesetanan karena dengki.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa manajemen cinta dan benci ini perlu, agar kedua rasa ini tak lantas mematikan nalar kita.
“Dan pandangan keridhaan itu lemah dalam melihat aib, sebagaimana pandangan kebencian itu hanya menampakkan keburukan”
(Al Imam Asy Syafi'i)
Perkataan Imam Syafi'i ini layak kita renungkan. Ketika kita sedang amat menyukai, atau bahkan mencintai seseorang (atau sesuatu), maka seringkali (bahkan) aib seseorang (atau sesuatu itu) akan terlihat menawan dalam pandangan kita. Sebaliknya, ketika kita sedang teramat benci akan seseorang (atau sesuatu), kebaikannya sekalipun akan terlihat buruk di mata kita, tak peduli apa pun itu.
Maka, di sinilah diperlukannya manajemen cinta dan benci. Agar kita menaruh semua hal pada tempatnya. Dengan manajemen cinta dan benci ini, kita tak akan lagi melihat kebaikan atau keburukan berdasarkan siapa yang berbuat hal itu. Tapi kita akan mengembalikannya kepada esensinya, yaitu kebaikan dan keburukan itu sendiri. Begitulah bagaimana sikap adil dalam diri manusia terpancar, dengan manajemen cinta dan benci.
Dan baiknya kita ingat, bahwa titik ekstrem dari cinta dan benci ternyata amat dekat. Adakalanya, orang yang kamu amat benci hari ini, menjadi orang terdekatmu suatu hari. Dan adakalanya, orang yang kamu amat cintai hari ini, menjadi orang yang seperti tak pernah mengenalmu sebelumnya.
Dan yang paling esensial, manajemen cinta dan benci ini diperlukan agar kita proporsional dalam menggunakan kedua perasaan ini. Dengannya, kita tak mencintai seseorang (atau sesuatu) melebihi cinta kita kepada Sang Pemberi Cinta itu sendiri, dan tak membenci melebihi apa yang dibenci oleh Sang Pemberi Cinta.
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan)
Selamat mencintai dan membenci, tapi aturlah dengan baik, dan bawalah nalarmu ikut serta, agar keduanya tak membinasakanmu suatu hari.
With love, Ibnu Kurnia.
Pasar Minggu, 7 Maret 2017











