Beresin rumah yang berantakkan, sementara hati pun lebih berantakkan..
Selamat pagi menjelang siang para warga tumbrl.. semoga harimu menyenangkan
seen from China

seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from T1
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
Beresin rumah yang berantakkan, sementara hati pun lebih berantakkan..
Selamat pagi menjelang siang para warga tumbrl.. semoga harimu menyenangkan
Dibalik kehidupan roma dan ani
Ketika ku tau notif di hp adalah kamu. Yang bergetar hatiku bukan handphone ku.
Menuju akut
Manajemen Cinta dan Benci
Sebagai manusia biasa, rasa cinta dan benci adalah perasaan alamiah yang Allah berikan kepada kita, tentunya untuk digunakan sesuai dengan kegunaannya.
“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.“
(Al Hujurat: 7)
Beginilah rasa cinta dan benci seharusnya dipakai. Namun, dalam keseharian kita, ada saja yang membuat kita lantas mencintai, atau mungkin membenci sesuatu, dalam waktu yang teramat singkat. Dan kadang, rasa ini telanjur tumbuh mengakar dalam hati kita. Lantas, bagaimana mengontrolnya?
Rasa kadang memang bisa membutakan nalar. Seseorang pernah bilang, kamu bisa memberi nasihat kepada siapa saja, kecuali dua orang: Seseorang yang sedang mabuk kepayang karena jatuh cinta, atau seseorang yang sedang kesetanan karena dengki.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa manajemen cinta dan benci ini perlu, agar kedua rasa ini tak lantas mematikan nalar kita.
“Dan pandangan keridhaan itu lemah dalam melihat aib, sebagaimana pandangan kebencian itu hanya menampakkan keburukan”
(Al Imam Asy Syafi'i)
Perkataan Imam Syafi'i ini layak kita renungkan. Ketika kita sedang amat menyukai, atau bahkan mencintai seseorang (atau sesuatu), maka seringkali (bahkan) aib seseorang (atau sesuatu itu) akan terlihat menawan dalam pandangan kita. Sebaliknya, ketika kita sedang teramat benci akan seseorang (atau sesuatu), kebaikannya sekalipun akan terlihat buruk di mata kita, tak peduli apa pun itu.
Maka, di sinilah diperlukannya manajemen cinta dan benci. Agar kita menaruh semua hal pada tempatnya. Dengan manajemen cinta dan benci ini, kita tak akan lagi melihat kebaikan atau keburukan berdasarkan siapa yang berbuat hal itu. Tapi kita akan mengembalikannya kepada esensinya, yaitu kebaikan dan keburukan itu sendiri. Begitulah bagaimana sikap adil dalam diri manusia terpancar, dengan manajemen cinta dan benci.
Dan baiknya kita ingat, bahwa titik ekstrem dari cinta dan benci ternyata amat dekat. Adakalanya, orang yang kamu amat benci hari ini, menjadi orang terdekatmu suatu hari. Dan adakalanya, orang yang kamu amat cintai hari ini, menjadi orang yang seperti tak pernah mengenalmu sebelumnya.
Dan yang paling esensial, manajemen cinta dan benci ini diperlukan agar kita proporsional dalam menggunakan kedua perasaan ini. Dengannya, kita tak mencintai seseorang (atau sesuatu) melebihi cinta kita kepada Sang Pemberi Cinta itu sendiri, dan tak membenci melebihi apa yang dibenci oleh Sang Pemberi Cinta.
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan)
Selamat mencintai dan membenci, tapi aturlah dengan baik, dan bawalah nalarmu ikut serta, agar keduanya tak membinasakanmu suatu hari.
With love, Ibnu Kurnia.
Pasar Minggu, 7 Maret 2017
Manusia memiliki kecenderungan untuk mengutamakan hal-hal enak di bawah kekuasaan hasrat, syahwat dan hawa nafsu. Sementara, nurani seringkali berteriak lantang atau berkata lirih mengingatkan hal-hal baik. Namun, tanpa akal budi peringatan nurani tidak memiliki kekuatan penuh. Bahkan dapat tenggelam di antara gelimang keputusan keliru. Akal budi memiliki tantangannya sendiri. Ia tumbuh berkat ide-ide hidup. Piranti-piranti lunak di jiwa tsb. saling berebut perhatian sang kehendak. Lemah atau kuatnya kehendak tergantung pada seberapa tangguh manusia mengharmoniskan semuanya. Ruwet ya jadi manusia. Btw, siapa sih yang mula-mula menciptakan istilah-istilah ruwet tsb.? Untuk apa? Ingin memperumit hidup atau gimana sih?
bayar parkir pakai recehan saja
Manusia Koin Lima Ratusan
Dulu itu, rasanya ga keren kalo ga update. Maka ku install ulang lah itu aplikasi Twitter. Karena menurutku, Twitter adalah aplikasi yang bisa bikin kamu jadi manusia paling up to date, ya ga siii wkwk.
Tapi sudah berbulan bulan yang lalu, aku udah ga pake lagi itu aplikasi, karena sebagian hidupku dihabiskan hanya untuk scrolling Twitter *fix lebay😂. Makin banyak info yang didapat, malah bikin overwhelming. Ga enak. Apa lagi kalo misalnya ada thread yang tentang menyedihkan, atau tentang kejahatan, atau apa apa yang bikin kesel gitu gitu, paling ga bisa aku tu baca yang begituan. Sesek aja rasanya, seriously. Dan sebenernya seseknya itu bukan cuma karena ikutan sedih apa gimana, tapi lebih ke karena aku ga bisa ngapa-ngapain gitu lho.
Dan bukan itu aja, Twitter itu adalah surganya manusia manusia receh, ya kan. Aku merasa, aku dah sampai di titik di mana aku udah gamau lagi ah tau tau yang begituan. Malesss. Unfaedah aja bagiku. Cukuplah itu jadi hiburan di kala senggang saja. Jangan keseringan.
Jadi sekarang intinya, wkwk, aku dah uninstall Twitter. Berasa banget sih ketinggalan infonya. Tapi ga tau kenapa, jujur, aku malah ngerasa lega dan seneng ketika aku ga tau apa apa tentang hal yang lagi viral. Di bagian ini, aku ngerasa bahwa sedikit tau itu lebih menyenangkan dan menenangkan.
Sekian. Trims.
Satu tambah satu itu dua
Satu tambah dua itu tiga
Aku tambah kamu juga tiga
Kenapa?
sebab ada aku, kamu dan anak kita 😄