Aku baik-baik saja, bahkan jarak tak menjadi penghalang rinduku untuk menjadi jinak, jarak bukanlah sebuah alasan untuk merusak kepercayaan, tetapi jarak adalah sebuah kesempatan agar lebih bisa "mendekatkan"(RSA,2017). . . #Journal2K17
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from Mexico
seen from Switzerland
seen from Russia
seen from Greece
seen from China
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from United States
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Germany
Aku baik-baik saja, bahkan jarak tak menjadi penghalang rinduku untuk menjadi jinak, jarak bukanlah sebuah alasan untuk merusak kepercayaan, tetapi jarak adalah sebuah kesempatan agar lebih bisa "mendekatkan"(RSA,2017). . . #Journal2K17
Hakikat bahagia yang sesungguhnya adalah ketika kamu mampu mensyukuri, menerima, dan mencintai apa yang kamu punya. Baik buruknya segala sesuatu dalam hidupmu, itu adalah anugerah dariNYA, tidak ada keraguan akan hal itu karena pada dasarnya segala sesuatu itu punya dua sisi yang berbeda dan selalu ada sisi baik yang ia bawa. Intinya introspeksi dan retrospeksi maka disana kamu akan menemukan sebuah titik yang akan membawamu pada "kebijakan" yang menuntunmu pada kedamaian. . . Bandung, 02 Juni 2017 _RSA #Journal2K17
Dongeng si BUNGA
Pada suatu masa di suatu negeri, ada seorang lelaki tua, ia sangat menyukai bunga, suatu hari dia melakukan persilangan 2 jenis bunga satu spesies hanya berbeda varietas, varietas yang pertama memiliki bunga berwarna ungu, hingga sejuk untuk di pandang. Sedangkan varietas yang kedua memiliki bunga berwarna kuning, dan hasilnya 75% bunga warna kuning, dan 25% bunga berwarna ungu. Si lelaki tua kecewa dengan hasil yg ia peroleh, karena bunga kuning terlihat kurang menarik, selain warnanya yang kurang cerah, daun bunga berwarna kuning sedikit kurang sempurna, selain itu bunga kuning pertumbuhannya sedikit lambat. Lain halnya dengan bunga ungu, warnanya segar, daunnya bagus, batangnya besar dan sangat indah. Si lelaki tua berpikir jika seandainya di jual maka bunga ungu akan lebih mahal daripada bunga kuning, namun karena jumlahnya sedikit keuntungan yg ia dapat pun akan sedikit. Karena kekecewannya itu setiap hari ketika dia menyiram bunga dia selalu memuji bunga berwarna ungu “bungaku cantik, tumbuhlah indah agar indahmu mampu menyejukkan mataku” katanya smbil bernyanyi dan bersiul, sedangkan untuk bunga kuning dia tidak pernah memujinya bahkan selalu mengatai perkataan yang buruk “heh bunga, kenapa warnamu tidak seindah bunga ungu? Kenapa begitu jelek, berwarna kuning pucat?” daun mu juga kecil dan kisut, seperti layu dan kurang nutrisi, padahal setiap hari aku menyiramimu, setiap minggu aku memupukmu, menyiangi gulma2 di sekitarmu, tak bisakah kau menghargai usahaku? Tumbuh cantiklah seperti bunga ungu, setidaknya meskipun warnamu kuning jelek daunmu harus terlihat segar, agar orang2 tertarik melihatmu. . . 3 bulan berlalu, bunga ungu tersisa sedikit lagi sedangkan bunga kuning belum terjual satu pun, si lelaki tua semakin kesal pada bunga kuning “heh bunga jelek, aku gagal merawatmu, kamu hasil yg gagal, kegagalan dalam percobaanku, gara2 kamu aku rugi besar” begitulah katanya.. Lelaki tua tidak menyadari, bahwa bunga pun mahluk hidup yang bisa mencerna setiap energi di sekelilingnya termasuk energi positif dan negatif dari orang yang merawatnya. Maka keesokan harinya si bunga kuning layu dengan serentak, semuanya mati tak bersisa. Si lelaki tua pun rugi besar bahkan lebih besar, tak ada lagi harapan dari bunga kuning, ia pun kini menyadari bahwa kesalahan dari percobaannya bukan pada hasil yg ia peroleh tapi pada tahapan yang ia lakukan, ia juga baru menyadari bahwa perkataan yang ia ucapkan pada bunga kuning seperti kutukan untuk bunga dan boomerang untuk dirinya. Ia pun pada akhirnya benar2 gagal menjadi seorang ahli tanaman hanya karena tidak bisa ikhlas menerima setiap kekurangan. . . Dari cerita ini kita bisa mengambil hikmah bahwa berhati2lah dalam berucap, terlebih jika ucapan itu diucapkan kepada anak2, bisa dibayangkan jika bunga kuning itu adalah anak2, usia berapapun itu, jika setiap harinya selalu di banding2kan dan tidak pernah diberi masukan positif, selalu di cela bahkan seolah ia menjadi anak yg gagal, dalam perjalanannya ia akan merasa kecil, minder, tidak percaya diri dan sulit beradaptasi. Ia akan merasa tidak berguna dan tidak berarti. Seolah melakukan apapun serba salah . . . Anak-anak… mereka tetaplah sama seperti para orang tua, seorang manusia yg memiliki hati dan pikiran untuk mencerna, seorang yang tidak luput dari ketidaksempurnaan, namun meskipun demikian seperti kata Amir khan dalam Taare Zameen Par pahamilah bahwa “setiap anak itu spesial”. Bagaimanapun seorang anak tumbuh, semua kembali pada lingkungan yang mendidiknya.
Bandung, 28 Mei 2016 Ressy Sri Agesty . . Ditulis sebagai pengingat diri dan latihan untuk belajar menulis biar gak sakit kepala😬😂
Allah punya berbagai macam cara untuk menegur hamba-Nya, barangkali aku yg suka bikin tulisan panjang buat nasehat diri yg tulisannya disemogakan mampu menginspirasi orang ini sering salah kata, atau salah nulis kata, atau mungkin membuat satu atau beberapa pihak merasa kurang berkenan, Astagfirullah.. dan Alhamdulillah, Allah masih menunjukan kasih sayangnya untukku bermuhasabah, karena suatu hari nanti di hari kemudian setiap apapun yang kita tulis, setiap apapun yang kita posting dalam media sosial apapun akan kita pertanggungjawabkan. Terima kasih kepada teman2 yg sering posting hal-hal positif, setidaknya itu sangat bermanfaat sebagai reminder untuk pribadi yang miskin akan pemahaman agama ini. . . Bandung, 11Mei2017 RSA_"Perjalanan Menemukan KEKASIH" #Selfreminder #Journal2K17
Kepada "Perempuan di dalam cermin" Berbahagia dan bersyukurlah untuk hari ini, jejak-jejak yang kita telusuri saat berkaca kemarin perlahan mulai pudar meski tak akan pernah bisa terhapuskan. Berterimakasihlah pada jejak-jejak itu.. karenanya kita sampai pada hari ini. Sekarang jangan menangis lagi, kita bersihkan noda-noda dan debu yang menempel pada kaca diri itu dan kita mulai lagi melukis warna di dalamnya, siapa tau saja suatu hari warna-warna itu akan dinikmati orang, siapa tau suatu hari warna-warna itu mampu memberi inspirasi kesadaran untuk yg lainnya dan bukan hanya sekedar jadi bahan pembicaraan. Kita tidak perlu memamerkan goresan warna kita di galeri seni, kita hanya perlu menyimpanya dalam keseharian kita saja. Kita juga tidak perlu tepuk tangan atau pujian atas maha karya kita nantinya, kita hanya perlu hati, para hati yg berkenan mengapresiasi warna yg kita lukis, yang bersedia membantu meniupinya dengan tulus hingga warna itu mengering dan menetap menjadi kenangan dan pelajaran untuk masa depan. Jadi, tersenyumlah ya.. Bandung, 19 April 2017 #Lettertomyself #Journal2K17 (di Jl Raya Cipadung)
Ibu adalah sumber kekuatan terbesar untuk anak-anaknya, sakitnya seorang ibu adalah luka terdalam bagi anaknya, air mata seorang ibu seperti pisau yang menyayat urat nadi anaknya, dan senyuman seorang ibu adalah energi baru untuk mendongkrak semangat anak-anaknya. Entah kenapa meski belum ngerasain bagaimana menjadi seorang ibu, menurut saya ibu itu lebih hebat dari profesor , dan memang pantas ketika islam lebih memuliakan seorang ibu ketimbang bapak, Nyatanya untuk menjadi sosok ibu butuh perjuangan ekstra, bahkan lebih keras ketimbang untuk mendapatkan IPK tinggi atau beasiswa. Nyatanya untuk menjadi seorang ibu, tidak cukup hanya dengan pandai memasak apa yg anak suka dan bersekolah saja, semua butuh persiapanya yg sepertinya tidak cukup hanya ketika mendekati pernikahan atau ketika memasuki masa kehamilan, jauh sebelum itu untuk menjadi ibu seorang perempuan harus banyak belajar dan bersiap diri sebelum dan sesudah menjadi ibu, setidaknya dengan begitu..suatu hari nanti kita tidak akan terlalu terkejut dengan anak-anak yg biasanya selalu memberi kejutan dalam setiap fase perkembangannya.. . Oh iya ..Hampir beberapa bulan terakhir menjadi ibu bagi anak-anak orang, beberapa ada yg sering curhat masalah rumah bahkan menangis dipelukan saya ketika belajar, kadang saat itu suka bingung, karena kurangnya pengalaman menghadapi anak-anak dan belum merasakan menjadi ibu, tp alhamdulillah dengan modal baca buku2 atau artikel parenting cukup bisa menenangkan mereka, meski belum bisa saya praktekan sama adik sendiri wkwkwk.. Allah mah maha segalanya ya, selalu ada hikmah dari setiap kejadian itu benar adanya, disini banyak pelajaran hidup yg saya terima yg mungkin nantinya akan sangat berguna untuk saya dan anak-anak saya kelak. . . Tulisan panjang ini terinspirasi dari ibu kucing yang sedang menyusui anaknya di pinggir jalan, juga dari pengalaman sekitar dan buku2 yg sy baca. Semoga tidak membosankan untuk dibaca, dan semoga menjadi pengingat untuk saya pribadi dan siapa saja, semangat belajar untuk menjadi ibu hai perempuan muda♥ Bandung, 17 April 2017 #Nulislagi #Journal2K17 (di Jl Neglasari 2 Ujung Berung)