Menziarahi Yang Meredup Setelah Membara Namun Dijaga Tetap Menyala
Beberapa hari yang lalu saya iseng menengok segelintir koleksi CD dalam lemari. Tak banyak, hanya beberapa rilisan dari band lokal yang dulu benar-benar menarik minat saya. Sialnya saya menemukan beberapa keping CD mulai tumbuh jamur. Setelah PC saya mampus beberapa bulan lalu praktis keping-keping CD ini tak pernah tersentuh. Saya memang tak bisa merawat benda seperti ini, bahkan sempat terlintas untuk menjual semua benda-benda ini. Hanya saja ke depan romantisme seperti ini mungkin akan lebih saya butuhkan ketimbang sedikit uang yang mungkin akan ludes dalam beberapa hari.
Saya dibesarkan di keluarga yang tak sedikit pun beririsan dengan seni, khususnya musik. Ayah yang seorang pegawai cukup menggemari kesenian tradisonal berupa wayang ataupun musik semacam karawitan itupun tak lebih dari selayaknya orang tua yang mencoba menghibur diri dari penat rutinitas kerja. Sedari kecil tidak ada yang mengarahkan ataupun mematik minat saya terhadap dunia seni. Terlebih hidup cukup jauh dari kota dengan segala keterbatasan akses informasi membuat pengetahuan musik saya begitu dangkal. Ketika banyak kawan sebaya begitu fasih menjelaskan influence mereka mulai dari Led Zeppelin, Metallica, The Beatles, Guns N' Roses, Nirvana, begitu meng-idola-kannya mereka pada Kurt Cobain. Saya tidak tumbuh bersama dengan semua itu, bahkan sampai sekarang tak satupun lagu Guns N' Roses yang familiar di telinga saya, pun begitu dengan The Beatles bahkan Nirvana. Metallica saya dengarkan belakangan ketika saya mulai menikmati musik heavy metal itupun bertahun setelah melewati akhil balig.
Sekolah dasar seperti anak kecil pada umumnya saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluyuran nyari ikan di sungai atau main bola sampai sore, tapi saya masih ingat saat itu saya tumbuh bersama lagu-lagu Padi yang memang sedang hits di eranya dengan album Sesuatu Yang tertunda (2001). Juga beberapa kaset tape milik kakak perempuan saya yang jelas jauh dari musik keras. Pernah sekali saya membeli sebuah kaset tape bajakan Tipe-Ex album SKA Phobia (1999). Dan hanya itu rilisan fisik yang dulu pernah saya beli, itupun barang bajakan beli seharga lima ribu rupiah di penjual kaset yang biasa mangkal di pasar dekat rumah.
Sekolah menengah untuk pertama kalinya saya mendengar musik punk rock, pop punk tepatnya, itu juga nebeng dengar dari kaset seorang teman yang kebetulan memang anak orang berada. Dari dia saya bisa tahu Superman Is Dead album Kuta Rock City (2003) saat dimana kakanda jerinx belum semenyebalkan sekarang, Rocket Rockers album Ras Bebas (2004) yang salah satu lagunya sempat saya jadikan lagu iringan untuk tugas gerak dan lagu di sekolah. Segelintir lagu luar yang pernah mampir di telinga saya adalah The Reason dari Hoobastank dan Welcome To My Life-nya Simple Plan sampai saya begitu terobsesi dengan gaya David Desrosiers bassistnya, juga beberapa lagu Green Day album American Idiot (2004) itu juga kalo beruntung pas diputar di channel MTV indonesia. Ketika teman-teman mulai latihan band sekolah yang saya bisa lakukan hanya kagum sambil langa-longo. Sebuah gitar yang pernah dibelikan ayah saya tak membantu untuk lebih dekat dengan dunia musik, sampai sekarang saya sama sekali tak bisa bermain gitar dengan benar. Satu-satunya prestasi saya di bidang musik kala itu adalah terpilih menjadi anggota paduan suara sekolah yang mengiringi upacara bendera hari senin, itupun jelas bukan karena kualitas suara mengingat saya sedari kecil buta nada, tapi saya pikir karena dulu saya nyanyi keras-keras waktu ikut ujian kesenian dan mungkin itu alasan paling tepat. Yang jelas era itu adalah saat dimana musik arus utama masih banyak dihuni oleh musik sehat dan belum banyak Cheerleader yang ingin jadi punk rock star. Dalam pergaulan saya saat itu, kita bisa terlihat sangat nge-rock ketika sudah berhasil meng-cover lagu jengah milik pas band.
Perkenalan dengan musik keras dimulai ketika saya beranjak SMA. Bersekolah di sebuah sekolah kejuruan di Solo tak juga membuat pengetahuan musik saya tiba-tiba membaik, saat itu lagi-lagi saya diselamatkan oleh sekeping CD mp3 bajakan yang dibawa seorang kawan yang pulang merantau. CD itu berisi ratusan lagu, seingat saya ada beberapa album System of a Down dan juga kompilasi Metalik klinik di dalamnya. Itu adalah momen pertama kali saya mendengar musik yang vokalisnya bernyanyi dengan teriak-teriak dari situ saya sedikit tahu bahwa ada arus musik alternatif di luar semua hingar-bingar musik arus utama. Di rentang waktu ini saya mulai iseng belajar ngeband cover-cover lagu yang populer era itu, yang jelas saya ingat sekali saya pernah hafal chord dan lirik lagu Kangen band. Pernah suatu kali latihan ngeband dengan begitu semangatnya untuk persiapan ikut pensi sekolah, karena dari dulu sebagai sebuah sekolah kejuruan sekolah saya ini sangat jarang mengadakan acara semacam ini walaupun akhirnya ga jadi manggung karena patah tangan waktu main motor trail. Ada kejadian ketika itu pensi sudah dimulai, beberapa band dari kakak kelas sudah tampil tapi di tengah acara harus berhenti karena rumah duka di sebelah sekolah sedang melaksanakan prosesi upacara kremasi jenazah. Karena sekolah saya tepat bersebelahan dengan rumah duka sekaligus krematorium jenazah. Yang jelas saat itu sebagian diri saya mulai menerima musik metal dalam keseharian tapi jangankan mengenal nama personil dan nama band, saat itu saya masih belum bisa membedakan apa itu metal, hardcore, punk karena bagi saya waktu itu semua adalah musik metal.
Era 2007-an akses internet merupakan hal mewah yang bagi saya susah didapat mengingat saya tinggal di desa, saat itu radio menjadi media yang sangat mencerahkan bagi saya. Dulu kalau beruntung saya bisa menemukan siaran Riot On Air milik radio Prambors, Indialism milik Solo Radio mengenalkan pada saya musik-musik cutting edge, dari situ saya mengenal Sajama Cut, Efek Rumah Kaca, Polyester Embasy dan beberapa band indie lokal yang dulu memang diberi kesempatan untuk diputar di acara ini. Ada satu siaran radio yang sangat menjadi andalan anak metal saat itu dan mungkin sampai sekarang Smash Your Ass yang saat itu masih dipegang oleh Adjie dari Down For Life. Saya ingat jelas jadwal acara itu adalah setiap hari kamis, jam sepuluh malam. Dari acara itu juga kemudian saya mulai tahu sedikit demi sedikit skena musik bawah tanah, mulai bisa sedikit membedakan genre musik, mendengarkan banyak lagu dari band yang belum pernah saya dengar dan update info acara tentunya. Dari acara ini juga saya merasakan pengalaman melihat gigs pertama. Mendatangi gigs hardcore garapan dari kawan-kawan Solo City Hardcore di TBS. Kena razia pas liat gigs di ISI surakarta yang waktu itu saya masih ingat saya terpaksa pulang tepat saat MC menyebut nama Forgotten untuk tampil gara-gara teman saya mendadak masuk angin. Dan itu satu-satunya kesempatan saya untuk melihat mereka main, alhasil sampai sekarang saya belum pernah sekalipun melihat mereka main live. Beberapa kali ikut rombongan tur Down For Life ke Jogja Brebeg, Lauching dvd East Side kompilasi di Semarang. Wara-wiri ke Solo untuk melihat studio gigs Burn Studio Burn di Biru musik studio. Di era ini saya masih ingat sebuah rilisan fisik pertama yang saya beli adalah sebuah CD dari Down For Life yang bertajuk Simponi Kebisingan Babi Neraka (2008). Sempat juga menjadi snob metal yang kemudian dikata-katain orang. Beruntung saat itu saya cepat sadar sehingga tak berlarut-larut menjadi borok.
Masa kuliah saya seperti anak aneh di kostan yang selalu penuh dengan suara musik yang bikin pekak telinga. Kost sudah menjadi semacam rumah singgah buat kawan-kawan yang setelah pulang nge-gigs pasti mampir untuk sekadar beristirahat sampai menginap. Pernah satu ketika saya melakukan tindakan bodoh yang kalau mengingatnya membikin saya cengar-cengir sendiri. Awal kuliah dengan semangat ngeband yang menggebu tapi kemampuan dan pengetahuan yang cetek saya nekat memasang pamflet di kampus cari personil band yang jelas saja dulu ga ada yang menggubris hahaha. Akhirnya membentuk band dari kawan-kawan sepermainan dengan kemampuan pas-pasan tentunya, berkali-kali harus merasakan ditolak berlatih di studio sekitar rumah karena dianggap biang kerusakan dari alat musik. Lalu menemukan salah satu studio musik di pinggiran kota sukoharjo yang artinya kami harus menempuh sekitar 20 km setiap kali latihan. Walaupun di pintu studio tetap saja terpampang tulisan “No Punk No Underground” tapi ownernya yang seorang Slankers masih berbaik hati menerima kami untuk latihan. Nama studio itu adalah Green studio. Saya merasa berhutang terima kasih karena dari sanalah mungkin semua hal yang saya ceritakan di tulisan ini berawal.
Mondar-mandir dari panggung tujuh belasan sampai manggung di acara lomba mewarnai anak TK di Pelataran Waduk Mulur Sukoharjo membawakan lagu metal. Sampai kemudian masuk era irisan gigs metal pertama di gigs Eastern For Unity pada April 2010 milik kawan-kawan Eastern Gate, lalu ikut meng-inisiasi gigs Replika Kebisingan (2010), bersama kawan-kawan kolektif Komunitas Hitam yang di kemudian hari menjadi cikal-bakal Surakarta Death Metal, di gigs ini saya diingatkan kembali bahwa memang skill bermusik saya masih di level jelek aja belum kemudian sempat malas ngeband. Kemudian karena alasan apa saya sendiri lupa kembali bersemangat lalu bergabung dengan kawan-kawan dari Karanganyar dalam sebuah kolektif yang saya lebih menganggapnya sebagai rumah kedua yaitu Eastern gate.
Lini masa tergabung dalam kolektif ini bagi saya adalah rentang waktu dimana saya belajar begitu banyak hal dari apa yang disebut skena bawah tanah atau underground. Saya yang sedari awal memang kurang bisa bersosialisasi tidak pernah tergabung dalam organisasi apapun belajar meng-organisir diri dalam sebuah kolektif dan kemudian belajar bagaimana menginisiasi gigs sendiri. Membuka mata tentang bagaimana ribetnya berurusan dengan yang namanya birokrasi perijinan sebuah acara. Patungan kolektif untuk modal membuat sebuah gigs, berkeliling dari rockshop dan distro untuk mencari sponsor, tengah malam berkeliling kota untuk memasang flyer acara sudah menjadi semacam rutinitas yang hampir setiap bulan pasti dilakukan. Pagi buta baru balik kerumah yang jaraknya nyaris 20 km. Melelahkan namun entah kenapa dulu saya begitu menikmatinya.
Awal 2010-an saya berkesempatan merasakan atmosfir rekaman untuk pertama kali dimana saya yang kemampuan main drumnya masih jelek aja belum harus berhadapan dengan momok yang bernama metronome kala merekam dua demo lagu sederhana. Saya sekali lagi merasa harus berucap terimakasih pada Bung Ari owner studio musik Green karena jasa beliau juga yang mendorong dan mengarahkan saya untuk rekaman, Tabik! Sampai kemudian hari kami nekat menggarap full album yang pada akhirnya penggarapannya terhenti ketika akhir 2011 banyak rentetan hal yang kurang mengenakkan terjadi dalam hidup saya, yang menyebabkan rencana ini terbengkalai dan tidak pernah selesai sampai sekarang.
Sepanjang pengetahuan saya ada dua rentang waktu pergerakan Skena Bawahtanah di Karanganyar. Generasi skena bawah tanah pertama dimulai di era 90-an oleh para pendahulu yang tergabung dalam kolektif bernama Lawu God sedang membangun fondasi yang entah karena satu atau banyak hal mereka kemudian mati suri, saya yang bertumbuh di rentang waktu 2009-an, bisa dibilang lebih beruntung karena berbarengan dengan lompatan teknologi internet yang membentuk jejaring media yang begitu luas sehingga arus informasi mengenai musik bawah tanah semakin mudah diakses. Saya yang tumbuh dewasa bersama musik metal merasa memiliki ikatan dengan segala macam hinggar-bingar musik ini. Mengenal apa itu kolektifitas, berjejaring dengan band lain daerah. Mendapat pengalaman manggung luar kota. Sedikit belajar tentang dunia literasi dalam ranah skena berupa penulisan lirik dan menyentuh ranah jurnalisme independen yang banyak didominasi oleh Web Zine dan juga zine fotokopian. Perkenalan dengan wilayah sosial politik juga terjadi karena musik ini juga walaupun hanya sebatas menambah pengetahuan. Yang jelas selama rentang waktu itu telah membentuk pola pikir saya menjadi seperti sekarang, jika saja kalau dulu saya tidak mengenal musik ini mungkin sekarang saya sudah mati konyol di jalan karena kebut-kebutan atau malah sibuk mondar mandir bawa kurungan isi burung untuk ikut lomba gantangan.
Kalaupun hingar bingar musik seperti ini tak lebih hanya sebuah fase pendewasaan setidaknya saya telah menyelesaikan fase hidup itu tanpa penyesalan, kalau pun itu ada adalah album band yang gagal ditengah jalan dan saya pernah melewatkan beberapa festival musik besar di luar kota karena ketika kawan-kawan banyak berombongan nonton saya lebih memilih menghabiskan uang untuk berpacaran.