Menziarahi Yang Meredup Setelah Membara Namun Dijaga Tetap Menyala
#2
Rilisan fisik dan merchandising dalam sebuah skena punya arti mendalam bagi seorang penikmat musik ini walapun saya bukan termasuk seorang penghobi rilisan fisik yang militan setidaknya saya tau betapa menyenangkannya saat petama kali membuka segel plastik dari sebuah CD. Mengagumi betapa kerennya desain sampul sebuah album metal yang dihiasi karya dari para artworker dengan kemahiran level paripurna, membaca setiap tulisan yang ada dari tiap-tiap lembar halaman. Mencoba meresapi setiap bait lirik yang dituliskan. Bahkan hal sesederhana membaca halaman Thanks To yang biasanya berisi nama-nama band yang menjadi influence setiap personil adalah hal masih saja menyenangkan saat saya sedang butuh romantisme seperti sekarang ini. Dari halaman itu juga kemudian mencari informasi dari band yang disebut, sekadar mengobati rasa penasaran seperti apa musik yang dibawakan. Ketika sedang beruntung dulu saya bisa mendapatkan CD album yang bertandatangan dari personelnya dengan mengandalkan jaringan pertemanan juga tentunya, dan jelas rilisan tersebut akan terasa lebih berharga bagi saya pribadi.
Ketika memasuki era media sosial, My Space atapun Reverbnation adalah sebuah media yang cukup membantu perkembangan band secara signifikan. Dari sana band dari daerah bisa memasang karya yang bisa dinikmati secara global. Di media itu band memasang informasi apapun yang berkaitan dangan aktifitas band tersebut. Beberapa band juga memasang layanan streaming dari lagu karya mereka. Jejaring informasi menjadi seolah tanpa batas. Facebook salah satu media sosial yang kemudian semakin mempermudah hal itu. Rentang 2010-2015an amat mudah menemukan informasi gigs yang akan diadakan bertebaran di lini masa Facebook. Dalam urusan merch lain semacam t-shirt sebuah band saya dan kawan-kawan punya semacam aturan tak tertulis untuk mendapatkan sebuah rilisan. Kami punya kebiasaan untuk antri ketika satu rilisan keren sudah diincar kawan maka otomatis kita harus bergerilya mencari lagi rilisan lain agar tidak sampai membeli barang yang sama dan lebih keren tentunya.
Satu hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh saya dulu adalah bagaimana metal bisa begitu berpengaruh dalam hidup. Bagaimana metal bisa membentuk pola pikir yang disadari atau tidak berdampak pada kepribadian saya secara personal. Menyatukan pengalaman subjektif yang tidak akan sama dari satu individu dengan individu lain ke dalam sebuah badan otonom yang kemudian disebut kolektif ke bentuk organisasi yang begitu solid tanpa hierarki seperti bentuk baku organisasi yang konvensional. Dari jejaring beberapa kolektif bisa membentuk sebuah lingkup sosial yang kemudian disebut dengan Skena.
Singgungan dengan musik metal telah membawa saya ke dunia yang lebih luas, memperkenalkan saya pada wilayah sosial, politik, filsafat dan bahkan sejarah. Dari musik ini saya bisa kenal siapa itu Nietczche, Albert camus. Tahu bahwa di belantara Mexico pernah terjadi pemberontakan masyarakat adat yang memadukan kekuatan senapan dan kata-kata sebagai senjata di Chiapas pada 1 Januari 1994 silam hanya dari sebuah lirik lagu. Kemudian tak berhenti kagum ketika skena bawahtanah membentuk dan menulis sejarah-nya sendiri seperti yang terjadi di skena bawah tanah bandung pasca tragedi AACC 9 Februari 2008. Bagaimana metal bersinergi dengan ranah literasi yang dalam bentuk paling sederhana bisa kita lihat dari blog dan zine yang merupakan media jurnalisme independen yang bisa memuat semua informasi dari dunia musik bawah tanah, sampai keresahan personal dari penulisnya. Ketika lirik sebuah album bertransformasi menjadi sebuah karya literasi yang sangat menginspirasi saya untuk belajar menulis seperti yang dilakukan band Forgotten.
Tentang bagaimana musik membawa semangat hidup yang saya rasa sudah ratusan kali dituliskan oleh banyak kawan diluar sana. Pada tataran yang lebih komplek dan sebenarnya justru menjadi subtansi awal dari apa yang disebut musik bawah tanah ini selain sebagai wadah ekspresi alternatif dari budaya arus utama adalah musik bisa menjadi media menyuarakan protes. Sebuah lirik bisa begitu banyak bercerita tentang ketimpangan di wilayah sosial, politik, bahkan di akhir senjakala sebelum mati suri seperti sekarang ini, metal pernah menjadi kultur tandingan ketika gelombang puritanisme agama merebak dengan begitu seksi dan merenggut kewarasan beberapa kawan. Musik bisa bermanifestasi sebagai agen perubahan sekaligus benteng penjaga kewarasan, walaupun belum pernah tercatat bahwa musik mampu secara langsung menggerakkan sebuah revolusi namun musik bisa menjadi medium yang ampuh untuk menularkan semangat. Banyak cerita betapa sebuah lagu bisa membakar semangat sepanas nyala sumbu molotov seperti sewaktu bersama-sama menyanyikan lagu Darah Juang yang seolah telah menjadi sountrack wajib disetiap aksi massa.
Menjadi saksi bagaimana musik yang awalnya hanya dinikmati secara personal dan bersifat subjektif berkembang menjadi sebuah kolektif dan berjejaring menjadi skena membentuk sebuah sub-kultur kemudian membangun pasarnya sendiri yang di kemudian hari sering kita dengar dalam bentuk jargon ekonomi kreatif. Sebuah lingkaran simbiosis antara Gigs-Band-merchandise Band-Vendor merch-Rockshop membentuk sistem ekonomi yang bisa menggerakan perekonomian para pelaku di skena musik Bawah tanah itu sendiri. Dampak dari pergerakan musik ini tidak hanya berhenti di lingkaran yang saya sebut di atas tapi juga dirasakan secara langsung ataupun tidak langsung oleh banyak pihak seperti para pengkarya seni rupa yang dalam skena bawah tanah disebut Art Worker karena dalam setiap rilisan dari sebuah band entah itu dalam bentuk CD atau merch yang lain pasti tidak akan lepas dari karya seni rupa yang merupakan representasi dari tema karya band itu sendiri dan ini tak lepas dari hasil karya tangan dingin para artworker. Dampak lain juga dirasakan oleh pemilik jasa persewaan studio musik. Ketika skena bergerak begitu dinamis banyak band lahir dan kemudian mengasah kemampuan bermusiknya dalam studio musik, ini jelas membawa dampak positif pada kelangsungan usaha persewaan studio musik. Bahkan sekecil apapun dampak positif pasti juga dirasakan oleh pemilik jasa persewaan sound system dan keperluan panggung karena dalam menyelenggarakan sebuah gigs pasti akan membutuhkan pelengkapan panggung dan sound system yang memadai.
Sampai pada era ketika kepopuleran musik ini memuncak hampir setiap minggu ada gigs yang diselenggarakan. Menyaksikan dinamika trend genre yang begitu dinamis dan sempat juga menjadi sok kritis musik ketika dulu banyak band Black Metal dengan gimmick berlebihan menjamur. Setelahnya menjadi saksi dimana genre Hard Core menjadi trend yang amat digandrungi bahkan oleh anak usia belasan tahun. Hingga pada akhirnya yang menjadi titik balik fatal adalah ketika fashion dan musik yang awalnya berjalan seiringan sejurus kemudian pasar membesar menyebabkan trend fashion berkembang terlampau pesat yang menciptakan pola konsumtif yang begitu banal. Hal ini berakibat kurang baik pada regenerasi pelaku di skena karena banyak subtansi dari apa yang disebut skena bawah tanah sedikit banyak mulai terabaikan, semangat militansi sedikit demi sedikit mulai tergerus karena hampir semua hal harus diberi label, diukur dengan nilai tukar alias berorientasi pada profit. Walaupun pada akhirnya saya juga tidak dapat begitu saja menyalahkan karena ketika kita dihadapkan dengan ongkos hidup yang semakin besar alhasil banyak hal yang kemudian harus dipaksa berkompromi atas nama remah nasi. Beberapa yang masih memegang idealisme lebih memilih menepi menjadi penikmat sepenuhnya dan segelintir yang tetap memilih menjadi pelaku. Saya sendiri mungkin termasuk salah satu yang merasakan dekadensi ketika hasrat mulai mengendur dan hidup yang semakin dihadapkan pada kebutuhan yang lebih sulit diajak berkompromi kemudian memilih menepi.
Sekarang ketika terhitung hampir sepuluh tahun sejak saya berkenalan dengan skena musik metal, denyut dan hingar bingar musik bawah tanah ini seolah mati suri khususnya di wilayah karanganyar, atau mungkin kembali pada khittahnya sebagai musik bawah tanah yang sedari awal memang telah meng-alienasi diri dari budaya populer karena yang saya tahu masih ada beberapa kawan yang bergerilya menggelar gigs-gigs. Beberapa kali saya mencoba untuk kembali namun saya sendiri masih kesulitan menemukan hasrat untuk kembali hajar jalanan menyambangi gigs-gigs tersebut.













