Karena fungsi do'a adalah bukan meminta, tapi Ia dengan segala keindahan dan kebaikanNya ingin memastikan bahwa hambaNya yang ini dapat mencintai takdir dan nasibnya.
seen from United States

seen from Japan
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Thailand
seen from China
seen from United States

seen from China

seen from Japan
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
Karena fungsi do'a adalah bukan meminta, tapi Ia dengan segala keindahan dan kebaikanNya ingin memastikan bahwa hambaNya yang ini dapat mencintai takdir dan nasibnya.
04:28
Ada kalanya, hidup terasa seperti serpihan-serpihan teka-teki yang tak pernah tersusun dengan rapi. Saat langit tampak mendung dan hari-hari terasa monoton, kita sering kali bertanya-tanya, "Mengapa harus begini?" Namun, di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu prinsip yang mulai mengalir dalam darah kita: Amor Fati—mencintai takdir.
Dulu, aku berjuang dengan segala ketidakpastian, berusaha melawan setiap rintangan yang datang. Setiap kegagalan membuatku merasa semakin kecil, seperti tak ada yang lebih buruk daripada itu. Tapi, aku lupa satu hal: takdir itu bukan musuh. Takdir adalah bagian dari kita, entah kita menyukainya atau tidak. Dan justru, di sanalah letak kebebasannya—menerima tanpa perlu melawan.
Sekarang, aku belajar untuk melihat segala yang terjadi dalam hidup dengan cara yang berbeda. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan yang membentukku menjadi lebih kuat. Hari-hari yang kelabu, kesalahan, bahkan saat-saat kesedihan itu, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mereka adalah bagian dari takdirku yang harus aku terima, bukan sebagai beban, tapi sebagai langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siapa aku.
Amor Fati—mencintai takdir. Menerima setiap potongan hidup dengan cinta, bukan kebencian. Bukan hanya menerima hal-hal baik yang datang, tetapi juga berani mencintai momen-momen sulit, karena dari sana kita tumbuh. Seiring waktu, aku menyadari bahwa takdir bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan, tetapi yang perlu dicintai.
Hidup ini bukan tentang melawan segala hal yang datang, melainkan tentang berdamai dengan perjalanan itu. Aku mencintai setiap sisi dari takdirku, karena itu yang membentukku.
@ffahraa , hari keempat dari #28hariberprosa
"Penerimaan"
Seumpama nasib ialah 'buta', mungkin cinta merupa atma, menggantung pada tabir bentala yang tumbuh beriringan mengikuti arah langkah tuannya.
Berdesak-desakan penerimaan, menggerogoti keraguan, menopang keyakinan, meski tertatih ... menadah takdir dengan cinta. Biar rela itu datang, menjelma bait-bait dalam aksara 'h i d u p k u'.
-Rahl, 4225
321
Penerimaan terhadap takdir selalu membawaku kepada kesimpulan hidup yang menakjubkan. Bahkan sebodoh-bodohnya diri ketika menyikapi takdir kala itu, tetap bisa menjadi pembelajaran untuk sekarang.
—04.02.2025
Mungkin saja, proses mencintai takdir adalah bagian dari bertahan hidup
kau lebih tau sedalam apa kecewa mu atas kehidupan ini, tangisan mu yang redam, serta isak mu yang membuat ruang dadamu menjadi sesak
Ada banyak sekali kata semoga yang menjelma menjadi bagian penting dari pendewasaan kali ini.
Dulu ku kira saat aku dewasa semua akan berjalan dengan begitu mudah, semudah aku berencana akan jadi apa saat aku besar nanti. Ternyata, segalanya menampar, hal-hal tak terduga terjadi. Kehilangan selalu menyesakan dada seromantis apapun aku memaknai itu.
Namun hidup akan selalu berjalan kan?, entah kaki akan merangkak, berjalan ataupun berlari, hari-hari akan selalu berlanjut, kehidupan akan tetap berjalan sesuai apa yang telah di tetapkan Tuhan.
@ceritajihan
Luwuk banggai 4 Februari 2025
Amor Fati
Kepada luka, aku bentangkan tangan bukan untuk mengusirnya, tapi membiarkannya duduk di sisiku. Kan kusesap kepahitan yang membersamainya, seperti teh yang dingin perlahan.
Kepada kehilangan, aku tidak bertanya, mengapa ia datang tanpa pertanda. Aku biarkan ia mengemasi sendiri, apa pun yang dia mau, apapun yang ingin dibawanya dariku. Takkan kucegat ia di ambang pintu.
Kepada waktu, aku tidak merayu, agar lebih lama menemaniku. Aku berjalan bersamanya, tanpa menuntut arah yang pasti untuk kutuju.
Aku mencintai yang datang dan yang pergi, seperti sungai mencintai muara, seperti daun mencintai angin yang menerbangkannya.
Sebab hidup adalah perjamuan, dan aku diundang untuk menikmati segalanya— manis dan getir, terang dan kabut, tanpa mengingkari satu pun.
———
Penderitaan dan kebahagiaan adalah bagian dari siklus kehidupan yang datang sepaket. Kita tidak bisa sepenuhnya menghargai kebahagiaan tanpa mengenal penderitaan, dan sering kali justru penderitaanlah yang membuka jalan menuju kebahagiaan yang lebih dalam. Hidup adalah keseimbangan keduanya. Tugas kita bukan memilih salah satunya, melainkan menerima keduanya sebagai bagian dari perjalanan.
Kita semua bisa mengatakan itu. Tapi kenyataannya, bisakah kita benar-benar menerima dan menjalani hidup seperti itu? Tidak hanya menerima kebahagiaan, tapi juga kepedihan—tidak terjebak dalam perlawanan terhadap kenyataan hidup, tidak menyesali masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan, dan tidak berusaha mengubah hal-hal yang terjadi di luar kendali kita.
Amor Fati. Seni mencintai nasib dan menerima apapun yang terjadi, katanya. Apapun, bahkan jika itu pahit. Mencintai kehilangan, keterpurukan, luka. Mencintai hal-hal yang dalam skenario lain, mungkin selalu ingin kita hindari.
Bagi orang sepertiku, itu tidak mudah. Bukan karena aku tidak cukup memahami konsepnya, tapi karena menerima sesuatu sebagaimana adanya tanpa perlawanan bukanlah sifat dasar manusia. Bukan sifat dasarku. Aku selalu ingin memahami, menganalisis, mencari celah kemungkinan lain.
Bagaimana bisa mencintai sesuatu yang terasa tak adil? Seperti ketika kehilangan datang tanpa aba-aba, merenggut sesuatu yang kusebut rumah. Seperti ketika aku telah berusaha sebaik mungkin, tetapi semesta tetap memilih jalan yang berbeda. Haruskah aku mencintai itu juga?
Bagaimana bisa merangkul nasib itu tanpa hasrat untuk mengubahnya?
Keinginan untuk melawan terus berkelindan di dadaku, sampai akhirnya... aku kelelahan. Aku melihat ke belakang dan menyadari bahwa perlawanan ini tidak membawaku ke mana-mana, selain kembali ke lingkaran kecemasan yang sama. Menyesali, mengkhawatirkan, menganalisis, mencari celah—tetapi dunia tetap berjalan dengan ritmenya sendiri, tak peduli seberapa keras aku mencoba mengubahnya.
Lalu aku mulai bertanya: Jika hasilnya tetap tidak berubah, dan menolak pun hanya akan membuatnya semakin menyakitkan, apa yang tersisa selain menerimanya dengan cinta?
Perlahan, amor fati yang dulu kusanggah menyusup ke dalam kesadaranku. Bahwa untuk merasa lapang, aku harus mengosongkan lebih banyak ruang. Dan pada banyak kesempatan, kelapangan itu tidak datang dari kendali atau kerasnya aku menahan, melainkan dari melepaskan.
Tetapi itu bukan berarti aku harus berhenti berpikir, berhenti merasa, atau berpasrah tanpa usaha. Aku—kita—hanya perlu berhenti berperang melawan hal-hal yang tak bisa diubah.
Meski hidup memberi kita tantangan di luar kendali, kita selalu punya kuasa atas bagaimana kita bereaksi dan meresponsnya.
Sebab hidup adalah perjamuan, dan kita diundang untuk menikmati segalanya— manis dan getir, terang dan kabut, tanpa mengingkari satu pun.
Jatuh di hati mu memaksa ku belajar kata cukup
Jatuh cinta padamu memaksa ku untuk tak bertanya perihal banyak "kenapa" yang aku pertanyakan
Jatuh cinta padamu membuatku percaya bahwa akan ada banyak hal yang justru terjadi Di luar kuasa kita
Jatuh cinta padamu membuatku semakin yakin bahwa Allah benar-benar menyayangi dan menyelamatkan kita dari hal yang akan menjerumuskaan kita
Jatuh cinta padamu memaksa ku harus bersyukur atas banyak hal yang tidak bisa aku dapatkan
Amor fati- kata asing yang kini aku tahu makna nya yang bukan hanya sekedar teori
Dan Jatuh cinta padamu membuatku belajar berdoa dengan lebih lembut tanpa menuntut
Dear kamu, kini Aku percaya bahwa pertemuan kita hanya untuk membuat kita saling belajar tentang hidup
Terima kasih telah menjadi kamu, untuk ku... Terima kasih telah menjadi isi dari tangki-tangki rindu ku Sampai detik ini