Surat-surat tak berbalas #1
Sebentar kucari pembuka botol dulu.
Kita pernah bercita-cita untuk setidaknya sekali dalam seumur hidup kita untuk menyaksikan pertunjukan dari The Sigit secara langsung. Masih begitu melekat teringat ketika kamu berkata bahwa kamu begitu menikmati lagunya. Aku masih sering tersenyum sendiri ketika membayangkan kamu berbaring seorang diri memejamkan mata sembari sesekali tersenyum dengan kedua telinga tertutup headphone. Sesederhana itulah isi pikiranku saat ini, walaupun sebenarnya aku masih berangan untuk setidaknya sekali menikmati pertunjukan payung teduh dengan formasi lama, walaupun itu tidak mungkin juga karena vokalisnya sudah cabut dari band dan juga aku tidak sempat membicarakan ini padamu. Isi kepala yang sederhana mungkin, tapi tidak bagiku segala hal yang berkaitan denganmu adalah layak dijadikan romantisme.
Oh iya, kabar terakhir kudengar kamu berhenti merokok? Aku senang mendengarnya, aku sendiri juga sudah berhenti lama, lucu juga mengingat dulu kita sering berebut sebatang rokok hanya karena malas untuk menyalakan batang rokok baru, bukankah dulu lebih baik jika kita menyalakan sebatang sendiri? Tapi kita malah sering berebut rokok sisa. Hal-hal kecil yang tak beralasan tapi masih saja sering kupikirkan alasannya ketika sedang melamun, dengan kelindan rindu tentunya. Kita berdua sudah sama-sama mengucakan selamat tinggal pada tembakau, juga dengan tar dan nikotin tentunya tapi tidak dengan bir, fermentasi gandum itu masih saja menjadi kawanku di suasana hati seperti apapun. Merk-nya pun masih sama dengan berbotol-botol yang dulu sering menemani kita dalam perjalanan itu. Selain murah itulah yang paling mudah kutemui di manapun. Ada yang perlu kamu tau motorku sudah lama kujual, walau pun sekarang sudah ada penggantinya tapi masih saja terkadang sebersit rindu untuk sekadar beromantisme dengan melihat foto-fotonya. Hal ini juga tak lepas dari banyaknya kenangan yang kita rajut dalam perjalanan itu.
Oh iya aku masih memegang janji kita utuk lebih sering mengaminkan doa-doa remeh yang membuat tersenyum seperti doa mu untuk terlahir kembali menjadi umbi-umbian. Yang entah apa alasannya aku juga mengaminkannya sembari tertawa tentunya. Kita bersepakat untuk menjaga jarak pada doa-doa yang terlalu serius. Bagimu doa-doa itu terlalu membebani, ya kau memang orang yang tak terlalu mau bersinggungan dengan ekspektasi seperti katamu, “aku tak ingin dimakan kepalaku sendiri” mungkin itu juga yang membantuku untuk menjaga kewarasan selama ini. Untuk itu aku merasa harus berucap terima kasih padamu lela.
Sebentar kuambil botol kedua ku dulu, tak terasa isi botol pertama tadi telah tandas. Memang selalu begini, waktu adalah hal murah ketika berbincang denganmu sampai tak jarang kita hamburkan malam hanya untuk berbincang ringan. Keakraban yang berbanding terbalik bila aku mengingat betapa rikuhnya diriku saat pertama kali mendapat momen berdua dengan mu. Aku masih sangat ingat saat itu kamu sedang menemani lelakimu yang sedang menunggui keluarganya di rumah sakit. Di selasar yang kosong kita berdua hanya berdiam dengan sesekali aku tengok layar handphone yang sebenarnya tak ada apa-apa. Begitu kikuknya aku sampai begitu kaku, aku tak berani membayangkan isi pikiranmu yang tentu saja akan membuatku malu. Hal yang tak akan terlupakan dari kamu adalah wajahmu yang memerah dengan tawa kecil yang khas, jikalau kita sedang mabuk, ah kiranya tak cukup selembar kertas untuk menuliskan ingatanku akan semua detail kecil dirimu. Aku tak begitu pandai mengingat bisa begitu banyak hal, namun akau masih sanggup merekam hal-hal kecil tentang kamu lela.
Dulu kita sama tahu ada hal yang harus berhenti pada waktunya, karena jika berlanjut kita akan jadi bagian dari sia-sia, karena ternyat bukan cuma kenyataan yang menciutkan nyali tapi juga kesadaran yang semakin menebal sering usia. Menggiring kita untuk berpikir sedikit lebih panjang dan kadang kebingungan mencari-cari tempat yang tepat untuk berhenti. Bukan hal buruk jika kita memutuskan untuk berhenti memupuk sia-sia dengan begitu banyak harapan, mengistirahatkan ekspektasi dan memberi sedikit nafas panjang pada kewarasan. Mengisi sisa ruang pada paru-paru dengan udara segar. Di usia yang kita harap tak lekas segera usai sudah terlampau sering saya mengongkosi harapan dengan setumpuk kekecewaan. Seperti kali ini, lihatlah matahari akhir tahun yang berlalu tanpa sedikitpun menunjukkan wajahnya barang sesaat. Tenggelam tanpa sempat melambaikan ucapan selamat tinggal pada tahun yang segera berganti dalam hitungan jam. Segalanya bukanlah tanpa arti tetapi kitalah yang semakin bebal hingga kehilangan kemampuan untuk sekadar memaknai. Lebih dari itu akhirnya perkara hidup akan lebih sering dipenuhi perkara saling tuduh, kita menuduh mereka begitu bahagia dengan hidupnya, pun mereka menuding kita dengan tuduhan yang sama. Sialnya kita terlalu sering menuduh diri sendiri paling tidak beruntung diantaranya.
Mungkin kalimat ini yang kini akan sering ku ucapkan pada setiap surat yang ku kirim, bertanya kabar pada orang yang telah berpulang pasti akan selalu menyakitkan tapi tetap akan ku lakukan sesering mungkin sesering bersitan wajahmu yang selalu berkelebat dalam kepalaku.
Oiya hampir lupa sedari tadi aku ingin bercerita padamu bahwa aku baru saja menerima kembali sebuah kekalahan. Tapi cerita itu tidak untuk saat ini karena aku sedang membayangan kamu sedang bersantai diteras tempat tinggalmu kini dengan sebotol bir disamping mu, aku tidak ingin merusak malam indahmu dengan cerita kemalangan dari ku yang tentunya kamu sudah bosan mendengarnya.
Istirahatlah lela, malam ini aku kirimkan saja setumpuk doa agar kamu baik-baik saja disana.