Jowi, sang Juara Selfie Kerajaan Alay
Alkisah, hiduplah seorang anak laki-laki di sebuah kerajaan antah berantah bernama kerajaan Alay. Anak itu sendiri bernama Jowi. Ia hidup bersama adik perempuannya yang bernama Juan. Jowi dan Juan hidup bahagia walaupun mereka ditinggal merantau oleh orang tuanya ke kampung sebelah. Bagi Jowi, Juan adalah pemerhati terbaik sedunia, karena setiap seluk beluk hidupnya selalu diperhatikan oleh adiknya itu. Begitupun sebaliknya, bagi Juan, selalu ada di samping Jowi adalah anugerah hidup yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Menyenangkan sekali mempunyai abang yang selalu perhatian, tak pernah absen mengucapkan selamat pagi, selamat malam, menanyai sudah makan atau belum, dan sebagainya. Ah..gadis satu kerajaan jelas-jelas iri dengan posisi Juan sebagai adik Jowi. Tapi Jowi dan Juan terus menjalani hidup mereka tanpa perduli godaan-godaan gadis sekitar yang belakangan ingin mengangkat Jowi menjadi abang mereka.
Berfoto selfie adalah salah satu keahlian Jowi. Ia selalu jadi juara 1 di kejuaraan Selfie Sekolah. Melihat prestasi Jowi yang mengesankan, salah satu gurunya mendaulat Jowi untuk mengikuti kejuaraan Selfie tingkat kerajaan. Ia akan bersaing melawan perwakilan 18 sekolah yang ada di kerajaan Alay. Untuk mengikuti kejuaraan itu, guru Jowi melatih muridnya tersebut setiap hari. Ya..walaupun Jowi terkesan malas-malasan mengikuti latihan tersebut, tapi guru Jowi tak pernah patah semangat melatih muridnya. Setiap kali habis latihan, Jowi selalu pamit pulang kepada gurunya. Tapi ternyata Jowi tak langsung pulang, ia malah mampir ke warung di ujung jalan untuk sekedar duduk-duduk dan…daan ngupil. Ngupil merupakan salah satu pantangan bagi seorang selfier, karna itu dikhawatirkan dapat membersarkan lubang hidung dan membuat hasil selfi jadi tak menarik.
Suatu hari sang guru iseng melewati warung tempat Jowi biasa duduk-duduk. Guru Jowi kaget ketika mendapati muridnya ngupil di warung itu. Tapi ia diam saja, berlagak tidak kaget, karena ia tau anak semacam Jowi semakin memberontak jika langsung diperingatkan dengan keras. Tanpa sepengatahuan Jowi, gurunya menghubungi Juan melalui telepon kaleng untuk memberitahukan tindakan abangnya ini. Menurut si guru, Juan bisa mengajak abangnya untuk berhenti ngupil. Hal ini didasari sang guru dari kabar yang telah menyebar di seantero kerajaan, kabar betapa sayangnya Jowi pada Juan. Yaa, seperti yang lumrah terjadi, seseorang cenderung mendengarkan apa yang dikatakan orang tersayangnya.
Namun hasilnya di luar dugaan, bukannya berhenti ngupil, Jowi malah marah pada gurunya. Ia marah karena kabar yang dihembuskan sang guru pada adiknya malah membuat adiknya marah dan mengancam akan memutuskan hubungan abang adik antara mereka. Adat istiadat di kerajaan ini memang agak aneh. Bagi keluarga yang tidak senang lagi dengan anggota keluarganya, ia dapat memutuskan hubungan kekeluargaan tersebut. Hal itulah yang dilakukan Juan terhadap Jowi dan membuat Jowi menyatakan perang pada guru selfie nya.
Semenjak hari itu Jowi tak mau lagi latihan untuk kejuaraan selfie, jangankan latihan, untuk menyapa guru selfie nya pun ia tak mau. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, hingga akhirnya sebulan, perang antara murid dan gurunya itu belum juga padam. Jowi tak mau menyapa gurunya, begitu jua sebaliknya. Sebenarnya sang guru mau saja menyapa muridnya itu, tapi karena ia tau kalau Jowi masih marah padanya, ia urungkan niatnya itu, ia takut masalah ini akan semakin runyam bila tanpa langkah yang tepat.
Dua minggu lagi kejuaraan selfie akan berlangsung, tapi Jowi masih juga merajuk, mogok bicara pada sang guru. Demi keberlangsungan kejuaraan yang akan diikuti Jowi, akhirnya sang guru mengajak muridnya itu berbicara empat mata.
“Jowi, saya tau kamu marah dengan saya karena hal tempo hari. Saya minta maaf untuk itu dan saya harap kamu mau mengikuti latihan untuk kejuaraan selfie lagi.”, sang guru membuka pembicaraan.
“Apa?”, Jowi berlagak acuh tak acuh.
“Saya minta maaf.”, ulang sang guru.
“Oke, saya maafkan. Tapi saya nggak suka kalau guru ngelapor-lapor hal yang kaya gitu ke adik saya.”,marah Jowi.
“Yaa, saya minta maaf. Maksud saya baik, nggak ada maksud untuk merusak hubungan kamu dengan Juan. Saya hanya mau kamu berubah. Saya takut kamu kalah dalam kejuaraan hanya karna hal sepele semacam ngupil ini. Saya harap kamu paham. Tolong kamu hargai kepedulian kami terhadap kamu. Kamu sangat berbakat, cerdas, tapi kamu rusak diri kamu dengan hal seperti ini.”, sang guru mulai berkaca-kaca.
“Iya saya paham, guru. Saya akan berusaha berubah. Semoga.”, akhirnya hati Jowi luluh juga.
Jowi akhirnya mau mengikuti latihan selfie lagi dan bersikap baik pada gurunya itu. Berkat ketekunan sang guru melatih Jowi dan usaha keras Jowi untuk berubah, akhirnya Jowi dapat mengangkat tropi kemenangan di kejuaraan Selfie Kerajaan.
Dari kejauhan pentas kemenangan, sang guru berdiri bersama Juan melihat keberhasilan Jowi. Juan berkaca-kaca menyaksikan keberhasilan belahan jiwanya, sang guru pun turut terharu. “Saya tau kamu bisa, Nak!”, lirih sang guru dalam hati, bangga akan keberhasilan murid yang dibimbingnya, Jowi sang juara selfie di kerajaan Alay.
#PS: Kebanyakan kita melihat suatu masalah hanya dari sisi negatifnya saja. Mungkin kita mesti lebih sering menlisik suatu masalah yang datang dari sisi positifnya, agar tak ada salah paham berkepanjangan yang hanya merugikan. Merajuk hanya akan membuat hidup semakin sempit. Kalau ada masalah, segera bicarakan, selesaikan, agar semuanya plong. Satu lagi, jangan rusak diri kita dengan hal-hal yang tidak penting. Kalau jelas-jelas nggak penting, tinggalkan !