Ada banyak rahasia di balik pagi, ada banyak cerita dalam hidup ini.
Aku, siapa sangka sekarang aku adalah seorang guru. Sampai saat ini, setelah dua tahun, saat berdiri di depan kelas, kadang terlintas rasa tak percaya 'Aku adalah seorang guru'.
Memilih menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah, penuh tantangan, penuh kejutan. Anak-anak yang ku temui setiap hari memberi warna yang berbeda di hidup ini. Ada saja tingkah polah mereka yang menguji kesabaran, tapi lebih banyak lagi tingkah mereka yang membawa senyuman.
Ya, mereka. Mereka adalah anak-anak istimewa yang dikirimkan Allah ke dalam kisahku, turut mengambil peran dalam setiap sudut kehidupan. Mereka adalah si cuek yang penuh perhatian, si cerdas yang penuh keisengan, dan si menyebalkan yang menjadi kesayangan. Aku sayang mereka.
Mereka kelihatan cuek dan 'bodo amat' sama keseharian guru-gurunya di sekolah. Tapi kalau ada yang berubah, mereka selalu komentar. Entah itu komentar serius atau nyeleneh.
Seperti waktu aku baru memakai pewarna bibir ke sekolah, mereka langsung komentar, "wih...merah.", "Merah banget miss, menor, bagusnya miss pakai yang warnanya agak soft. yang simpel aja", "Miss cantik hari ini",
Atau waktu aku pakai jilbab baru.. "Miss, mohon maaf sebelumnya. Miss, warna jilbab silver yang begini nggak cocok sama kulit miss." Atau waktu aku merasa bajuku kegedean, "Udah bagus kok bajunya miss. Nggak usah miss kecilin. Udah pas."
Itu segelintir komentar mereka. Entah itu perempuan atau laki-laki, mereka sangatlah perhatian. Komentar-komentar mereka kadang membuat aku malu, tapi lebih sering lagi membuat aku yakin akan suatu pilihan.
Mereka adalah anak-anak cerdas yang kadang suka iseng. Entah berapa kali mereka menipu aku dengan patung kura-kura, guci gajah, atau gambar ayam yang mereka buat seolah-olah hidup.
Seperti waktu itu, "Miss, disana ada kura-kura loh. Katanya umurnya udah ratusan tahun. Kalau diganggu dia marah miss.", kata seorang anak dengan tampang serius bukan main sambil menarik aku ke sebuah kolam. Pas diliat, eh ternyata cuma patung.
Ada lagi, "Miss, tau nggak? Sekolah SD yang di belakang kita ini melihara gajah loh. Liat aja kalau miss nggak percaya.", lagi-lagi dengan raut wajah serius. Pas ngeliat ke sana, eh ternyata cuma guci gajah -_-.
Mereka juga kadang menyebalkan. Beradu argumen tanpa memikirkan perasaan, berucap tanpa perhitungan. Membuat jengkel sampai berhari-hari hingga akhirnya damai tanpa disadari.
Seperti waktu itu, saat aku beradu argumen dengan seorang anak. Adu argumen itu berakhir dengan kekesalan di hati masing-masing.
Diam-diaman pun harus dilakoni berhari-hari. Sampai akhirnya diam itu berubah jadi senyuman tepat di Hari Guru 25 November 2015. Ia menemuiku, meminta maaf dan mengajak foto bersama.
Dan cerita menyebalkan lainnya terjadi ketika persiapan upacara Hari Peringatan HUT Kemerdekaan RI. Aku meminta seorang anak untuk menjadi pemimpin upacara. Anak itu mengiyakan dan mengikuti seleksi. Alhamdulillah dia terpilih, dan akhirnya mengikuti latihan.
Ia, menurutnya seorang pemimpin upacara tak perlu latihan mati-matian berbagai segmen baris-berbaris. Aku beradu argument dengannya, menimbulkan kesal di hati masing-masing. Ia merajuk dan meninggalkan sesi latihan begitu saja, menuruti egonya. Aku makan hati, dan untungnya keesokan hari aku berangkat ke luar kota tanpa perlu bertemu anak itu sampai hari H.
Hei! Siapa sangka anak itu membuatku terharu menyaksikannya sebagai pemimpin upacara. Ada bangga yang tercipta, menghancurkan kekesalan sebelumnya. Ya, anak menyebalkan itu membuatku bangga untuk pertama kalinya.
Anak-anak itu, selalu berhasil menghadirkan tawa di tengah Lara. Melatih kesabaran, tapi membuatku rindu. Sunyi terasa bila sehari tak bertemu.
Anak-anak itu, merekalah alasan mengapa aku semangat ke sekolah walau lelah sering menyapa. Anak-anak miss, tetaplah menjadi anak ceria yang selalu mengingat Allah, jadilah sholeh dan sholeha. Agar kelak miss bisa mendapat kiriman do'a dari kalian, anak-anak miss yang selalu jadi harapan.