bagiku kamu adalah masa depan yang hanya dalam angan belaka, dan bagimu aku adalah ketidak mungkinan yang nyata.
iya kita dekat dan memiliki perasaan yang sama. Kalau kata Fiersa Besari, kita adalah rasa yang tepat diwaktu yang salah.
belum waktunya dan belum tiba masanya
Kita yang akan menentukan, karena kita sama-sama mengerti bahwa mengekspresikan rasa sebelum waktunya adalah dosa. dan dekat sebelum masanya menimbulkan laknat.
Lalu kita memutuskan untuk saling beranjak, kamu beranjak menuju jalan yang lebih bijak dan aku juga mulai beranjak melepasmu dengan ikhlas.
iya kita memilih untuk saling melepas, beranjak atau lebih tepatnya saling meninggalkan.
Sebelum kita saling beranjak kau mengatakan, “aku ingin memperjuangkanmu melalui jalan yang dibenarkan oleh syariat, agar kelak kita mencapai rasa damai dunia akhirat.”
“ dan aku akan menunggumu. Iya,kamu yang ketika menujuku melalui jalan yang benar dan insyaallah tentramlah hatiku ketika menerimamu.” Lirihku kepadamu.
Satu tahun kemudian. . . . .
Setelah kita memilih menjauh untuk menjaga, memilih pahala ketimbang dosa, memilih akhirat ketimbang kenikmatan sesaat, memilih menuju janur kuning dengan cara yang benar. Akhirnya Allah memberi kejutan terindah, kejutan yang paling mengagumkan sekaligus mengharukan, ah yang pasti kejutan tak sanggup di definisikan,
Kejutannya ialah, Allah memilih aku untuk menggenapimu, memilih aku untuk berdiri dibelakangmu seumur waktu














