Semoga Kemungkinan Itu Kamu
Menikahi orang yang kita cintai adalah kemungkinan
Tetapi mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban
Sumber : Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from South Korea
seen from Italy
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United Kingdom
Semoga Kemungkinan Itu Kamu
Menikahi orang yang kita cintai adalah kemungkinan
Tetapi mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban
Sumber : Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Aku tidak pernah mengerti mengapa pada akhirnya Tuhan memilih kamu dan aku untuk bertemu
Aku yang mau tidak mau harus terlibat dalam beberapa kali episode dihidupmu
Mungkin kamu tak peduli, tapi aku yang terjebak oleh bayang-bayang kehadiranmu
Entah karena kebaikanmu, kecerdasanmu, bahkan kamu yang begitu cuek dan dingin, membuatku beku setiap kali bertemu
Aku merasakan bagaimana rindu dan benci menjadi satu, iyaa semuanya tertuju padamu
Aku bahkan begitu bodoh yang kadang terlalu mengharapkanmu, berharap agar Tuhan mempersatukan aku dan kamu
Aku tahu, aku keliru
Maka pilihan terbaik adalah pergi dari kehidupanmu...
Entahlah apa aku mampu
Nada, diruang tunggu
bagiku kamu adalah masa depan yang hanya dalam angan belaka, dan bagimu aku adalah ketidak mungkinan yang nyata.
iya kita dekat dan memiliki perasaan yang sama. Kalau kata Fiersa Besari, kita adalah rasa yang tepat diwaktu yang salah.
belum waktunya dan belum tiba masanya
Kita yang akan menentukan, karena kita sama-sama mengerti bahwa mengekspresikan rasa sebelum waktunya adalah dosa. dan dekat sebelum masanya menimbulkan laknat.
Lalu kita memutuskan untuk saling beranjak, kamu beranjak menuju jalan yang lebih bijak dan aku juga mulai beranjak melepasmu dengan ikhlas.
iya kita memilih untuk saling melepas, beranjak atau lebih tepatnya saling meninggalkan.
Sebelum kita saling beranjak kau mengatakan, “aku ingin memperjuangkanmu melalui jalan yang dibenarkan oleh syariat, agar kelak kita mencapai rasa damai dunia akhirat.”
“ dan aku akan menunggumu. Iya,kamu yang ketika menujuku melalui jalan yang benar dan insyaallah tentramlah hatiku ketika menerimamu.” Lirihku kepadamu.
Satu tahun kemudian. . . . .
Setelah kita memilih menjauh untuk menjaga, memilih pahala ketimbang dosa, memilih akhirat ketimbang kenikmatan sesaat, memilih menuju janur kuning dengan cara yang benar. Akhirnya Allah memberi kejutan terindah, kejutan yang paling mengagumkan sekaligus mengharukan, ah yang pasti kejutan tak sanggup di definisikan,
Kejutannya ialah, Allah memilih aku untuk menggenapimu, memilih aku untuk berdiri dibelakangmu seumur waktu
Reposted from @taufikauliaa (@get_regrann) - Kalau Allah sudah cukup buatmu, dadamu akan jadi dada yang paling lapang. Tak ada sedih yang terlalu, tak ada bahagia yang terlalu. Tak ada manusia yang bisa mengintervensi sedih dan bahagiamu. Tak ada kata yang mampu menyinggungmu, tak ada laku yang mampu melukaimu. Karena kau sadar, bahwa semua milik Allah, termasuk perasaan-perasaanmu. Kalau Allah sudah cukup buatmu, sedih dan bahagia adalah fana, sedang cinta-Nya abadi. #teladanrasul #dakwahislam #tausiyahcinta_ #celotehmuslim #cintamulia #islamdaily #islampost - #regrann https://www.instagram.com/p/B5ZCQnkHF-e4ZGizY9ubj37ehV1YDDCktj1cCU0/?igshid=b7e95070p3vt
Tidak, tidak. Memang, aku pelindung tidak resmi darimu. Jadi, jangan terlalu menutup diri padaku. Biarkan aku kesulitan menjagamu. Itu bentuk perasaan tanpa harus berkata.
— Aksara Kopi
Percuma
Kamu seperti menuangkan air padagelas yang tertutup , itu sia-sia dan percuma , karena airnya akan terbuang begitu saja.
Kamu berpegangan pada seseorang yang dia tidak pernah menginginkan dirimu ada di hidupnya , itulah kenapa kamu sakit.
Pertanyaanya , dia yang salah atau kamu yang bodoh ?
Rap.
Hakikat Mencintaimu
Kita tak bisa menyalahkan diri
Dengan siapa kita kan jatuh hati
Kita juga tak bisa mengelakkan diri
Walau pandangan mata telah kita kunci
Karena sejatinya mencintaimu
Adalah salah satu anugerah terindah dari Rabb-ku
Yang telah diturunkan kepadaku
Agar menjadi hamba yang bersyukur selalu
Dan hakikat mencintaimu
Adalah mendoakanmu selalu
Bukan malah menjerumuskanmu
Kepada jutaan hal yang mengundang murka-Nya
Bukan juga malah mengajakmu
Dalam lembah kemaksiatan
Lembah kemaksiatan yang bernama zina
Dimana berisi kenikmatan laksana fatamorgana
Ketika diberi nikmat mencintaimu
Diri ini kan berusaha menundukkan pandangan
Diri ini kan menjaga dari ribuan godaan
Karena pada dasarnya wanita adalah fitnah terbesar dalam kehidupan
Jikalau benar mencintaimu
Harusnya dapat mempertebal imanku
Untuk benar-benar tahu
Rasa ini cinta atau sekadar nafsu
Jikalau diri ini benar mencintaimu
Hati dan diri tergerak tuk segera menghalalkanmu
Bukan cuma memberikan angan palsu
Atau hanya sekadar janji semu
Bisu Mencinta
Kumerindukanmu. Sungguh. Meski, aku tahu kau masih belum percaya sepenuhnya padaku, tapi itulah kenyataaannya. Senyum yang selama ini membuatku tenang, perhatian kasar yang begitu lembut darimu, adalah obat yang ampuh mengobati hati yang dilema ini.
Kita hanya sepasang sahabat. Aku tahu kau belum bisa menerima hati dalam hidupmu. Atau apakah kau sudah menemukannya? Aku sangat mengenal dirimu, kau bukan perempuan yang mudah terperangkap oleh jebakan para serigala tak bertaring itu.
Tiga tahun aku membisu. Membisu untuk mencintamu. Kau bukanlah perempuan yang dramatis dan romantis, kau sangat sederhana. Itu yang membuatku begitu tenang ketika bersamamu. Tawa kecilmu itu, selalu saja terngiang di kepalaku.
Pelangi muncul di dalam hatiku ketika kau begitu dekat denganku waktu itu. Mengobrol di tengah perjalanan, dengan berteriak karena sulit mendengar. Ya, sangat membahagiakan. Denganmu, masa depan begitu dekat rasanya.
Kapan aku bisa memilih? Sepertinya, aku masih belum memiliki petunjuk untuk itu. Sejujurnya aku benar-benar merindukanmu saat ini, merindukan percakapan-percakapan sederhana yang begitu romantis bagiku. Namun, bagimu itu terlalu biasa. Untuk itu, aku berikan sesuatu yang sangat luar biasa. Menjagamu luar dan dalam.