SAYA melewati tiga era normal berkaitan dengan kakul. Era normal kuno; pada saat kakul jumlahnya berlimpah di sawah, dan banyak orang menangkap dengan mudah untuk santapan lezat sehari-hari. Era normal lama; tatkala jumlah kakul berlimpah ruah, tapi tak ada yang menangkap, apalagi menyantapnya. Generasi pemakan kakul nyaris punah, maka sang kakul pun jadi hama dan harus disemprot pestisida. Nah, kini era normal baru; kakul dicari lagi. Konon sekilo harganya sampai 15 ribu. Harga 15 ribu rupiah sekilo, untuk ukuran kakul, yang sebelumnya dianggap hama ganas perusak padi, tentu saja masuk hitungan barang mahal. Sebaliknya jika dibandingkan dengan sate kambing, burger jumbo, atau ayam tepung amerika, uang 15 ribu tetap tak ada artinya. Namun, bagi sang kakul, era normal baru (atau nyaris baru) ini mungkin era yang menggembirakan. Mereka tak lagi mati sia-sia akibat diterjang pestisida, melainkan dipungut secara baik-baik, dicuci bersih-bersih, dan dijual untuk kemudian dijadikan sate kakul, pepes kakul, atau kakul goring kesuna-cekuh. Atau, kakul dikuah yang kalau dimakan harus disedot dulu isi agar terlepas dari cangkangnya. Kecot, kecot, greos. Nikmatnya. Pada era normal kuno, sebutlah sebelum tahun 1980-an, kakul tak pernah jadi hama dan jarang juga jadi barang jualan. Kakul yang berkerumun di sawah selalu dicari orang, tua atau muda, untuk dimasak sendiri, sebagai pelengkap sayur pakis yang disabet di tepi jalan setapak tebing pangkung, atau pelengkap rebusan daun singkong yang disambar pada pagar kebun tetangga. Karena selalu dicari, kakul tak punya kesempatan jadi hama. Karena semua bisa mencari, maka tak ada orang membeli kakul. Karena tak ada yang beli, tak ada juga yang menjualnya. Baca selengkapnya: https://baliexpress.jawapos.com/read/2020/05/30/196524/nasib-kakul-yuyu-dan-semal-di-era-normal-baru #karangasemnow_official #kakul #yuyu #semal #newnormal https://www.instagram.com/p/CAy9ofQBlZ4/?igshid=19lmgnuiqjfuj











